Ada Anak yang Punya Ratusan Teman di HP tapi Tidak Satu pun Bisa Diajak Bicara Serius

Ada Anak yang Punya Ratusan Teman di HP tapi Tidak Satu pun Bisa Diajak Bicara Serius

Ada pemandangan yang agak aneh di zaman ini. Anak yang tidur pun sambil memegang HP. Di dalam layarnya ratusan nama yang dia sebut teman. Grup kelas yang aktif sampai tengah malam. Teman online dari game yang dia kenal bertahun-tahun. Influencer yang dia ikuti sejak SD. Tapi kalau ada hari di mana dadanya sesak karena sesuatu yang sulit dijelaskan, tidak ada satu pun dari mereka yang dia chat.

Kenapa ini bisa terjadi padahal jumlah koneksinya begitu banyak?

Karena pertemanan yang sejati dan koneksi di HP adalah dua hal yang berbeda bentuk — walau namanya sama.

Koneksi di HP membutuhkan sedikit sekali untuk dibangun. Follow, like, reply, scroll. Semuanya ringan. Tidak perlu tatap muka. Tidak perlu hadir fisik saat lawan sedih. Tidak perlu membagi ruang bersama saat suasana hati sedang tidak enak.

Pertemanan yang sejati butuh dibangun dari modal yang sama sekali berbeda. Waktu bersama yang panjang. Pengalaman yang dialami bareng. Momen ketika salah satu jatuh dan yang lain menolong. Momen ketika salah satu berhasil dan yang lain ikut bahagia dengan tulus, bukan hanya komen emoji.

Anak yang tumbuh hanya dengan modal pertama, tidak pernah punya kesempatan membangun yang kedua. Dan saat benar-benar butuh — saat ada yang mengganjal di dada — koneksi yang seribu di HP terasa tidak ada.

Apa bedanya ketika anak punya teman yang bisa diajak bicara serius?

Perbedaannya mirip dengan perbedaan antara dinding kaca dan dinding batu. Dinding kaca terlihat seperti pelindung, tapi tidak benar-benar menahan beban. Dinding batu tidak seterang kaca, tapi benar-benar menopang.

Anak yang punya teman yang bisa diajak bicara serius, punya dinding batu dalam hidupnya. Saat nilai jatuh, ada yang mendengar tanpa menghakimi. Saat cinta pertama ditolak, ada yang menemani diam. Saat takut menghadapi masa depan, ada yang sama-sama takut dan sama-sama tidak tahu jawabannya — tapi setidaknya tidak sendirian menanggung itu.

Rasa aman ini bukan hal kecil. Dari rasa aman seperti ini, anak berani mencoba hal baru. Berani gagal. Berani mengekspresikan dirinya yang sesungguhnya.

Tanpa itu — walaupun punya seribu follower — anak sering merasa sendirian dengan cara yang aneh. Selalu ada ponsel di tangan, selalu ada notifikasi masuk, tapi ada ruang kosong yang tidak pernah terisi.

Di mana persahabatan yang dalam biasanya tumbuh?

Bukan di platform digital. Bukan di kelas yang hanya bertemu lima jam sehari. Bukan di komunitas yang hanya berkumpul sekali seminggu.

Persahabatan yang dalam butuh waktu bersama yang panjang, berulang, dan di berbagai situasi. Hari biasa. Hari senang. Hari lelah. Hari ketika salah seorang dari mereka sedang sedih. Hari ketika ada konflik kecil yang harus diselesaikan.

Anak yang tidur di kamar bersama teman-temannya selama tiga sampai enam tahun, otomatis mengumpulkan semua jenis pengalaman ini. Tidak perlu diatur khusus. Ia terjadi dengan sendirinya.

Di pesantren, kamar biasanya diisi belasan santri. Mereka bangun di waktu yang sama. Cuci muka di tempat yang sama. Berjalan ke masjid bareng. Makan di dapur yang sama. Belajar di kelas yang sama. Latihan olahraga di lapangan yang sama. Ketawa atas hal-hal sama. Kesal atas hal-hal sama. Bertengkar dan bersalaman lagi.

Setelah bertahun-tahun pola ini, ikatan yang terbentuk punya kualitas yang beda. Ada rahasia yang dibagi. Ada mimpi yang dibicarakan. Ada ketakutan yang diucapkan tanpa takut ditertawakan.

Apa bedanya antara ikatan ini dengan ikatan teman SD atau SMA di kota?

Teman sekolah biasanya punya ikatan di jam sekolah. Setelah itu, masing-masing pulang ke rumah. Keluarga, ekstrakurikuler, les, dan gadget mengisi sisa hari. Waktu bersama tidak pernah panjang.

Teman sekamar di asrama berbeda. Setelah sekolah selesai, mereka masih bersama. Setelah maghrib, mereka masih bersama. Saat tidur, mereka berbagi ruang. Bahkan saat sakit, ada yang menemani di klinik. Kalau dihitung, jumlah jam yang dihabiskan bareng dalam satu tahun bisa berkali lipat dari teman SMA biasa.

Ini membuat jenis pertemanannya berubah. Bukan teman biasa — lebih mirip saudara yang tidak lahir dari rahim yang sama.

Di Darunnajah 2 Cipining, santri dari berbagai daerah Indonesia tinggal bersama di asrama yang terpisah antara putra dan putri. banyak santri yang tinggal di kampus terhubung satu sama lain di level yang sulit terbangun di sekolah harian.

Apa yang terjadi pada anak setelah punya ikatan seperti ini?

Di masa-masa awal sering tidak terasa berharga. Anak yang baru masuk pesantren kadang mengeluh — kenapa harus tinggal berbagi kamar, kenapa harus makan bersama, kenapa tidak boleh selalu pegang HP. Privasi terasa hilang.

Tapi perlahan, sering tanpa disadari, keluhan itu berubah. Setelah setahun, anak mulai cerita banyak hal ke teman sekamar yang di rumah tidak pernah ia ceritakan ke siapa pun. Setelah dua tahun, ada nama-nama yang muncul secara khusus — nama teman yang kalau ada apa-apa, dia pasti cari lebih dulu. Setelah lulus, ada kelompok kecil yang jadi saudara seumur hidup.

Efeknya terasa bertahun-tahun kemudian. Orang dewasa yang pernah punya pengalaman persahabatan dalam di masa remaja, biasanya lebih tahan menghadapi kesepian di dunia kerja. Mereka tahu rasanya punya teman sejati, jadi ketika bertemu orang yang berpotensi jadi teman sejati di kemudian hari, mereka mengenalinya dan bisa merawatnya.

Yang tidak pernah punya pengalaman ini, sering bingung kenapa orang dewasa lainnya punya lingkaran dekat yang mereka sendiri tidak punya. Padahal jawabannya sederhana — mereka tidak pernah mengalami situasi di mana persahabatan dalam bisa tumbuh.

Tidak semua anak yang mondok otomatis punya sahabat sejati. Ada yang butuh waktu lama untuk membuka diri. Ada yang pernah salah memilih teman dan harus memperbaiki. Tapi lingkungan yang panjang dan terstruktur memberikan peluang yang jauh lebih besar dibanding tiga jam tatap muka di sekolah umum.

Bagaimana kalau ingin mengenal lebih jauh?

Persahabatan di pesantren adalah hal yang lebih enak dirasakan langsung — lewat obrolan dengan orang yang sudah di sana, atau dengan berkunjung.

Tim penerimaan santri baru di Pesantren Darunnajah 2 Cipining siap dihubungi kapan saja di wa.me/62812111180.

Bisa dimulai dari pertanyaan yang tidak terlalu umum — bagaimana biasanya persahabatan terbentuk di antara santri, bagaimana anak yang introvert atau pemalu dibantu menemukan teman dekat, atau apa yang paling sering alumni ceritakan sebagai hal yang mereka syukuri dari masa mondok.

Kadang jawaban-jawaban dari pertanyaan seperti ini memberi gambaran yang lebih jujur daripada brosur atau tulisan.