

Sebanyak 53 santri berhasil menaklukkan puncak Gunung Lawu setinggi 3.265 mdpl melalui jalur Cetho, Jawa Tengah, dalam program Pendakian Sahpala yang berlangsung sejak 9 hingga 12 Juli 2026. Kegiatan yang mengusung tema “Sahpala Menggapai Lawu: Ikhtiar, Sabar, Syukur” ini diselenggarakan oleh Sahpala dan diikuti oleh santri kelas 3 hingga 6 TMI. Perjalanan empat hari itu menjadi ajang pembuktian daya tahan fisik sekaligus kematangan mental para peserta. Pendakian ini dirancang bukan sekadar petualangan alam, melainkan sarana pembentukan karakter yang mendalam bagi setiap santri yang terlibat.
Program ini digelar untuk melatih kedisiplinan, kesabaran, dan daya juang santri melalui tantangan fisik serta mental di alam terbuka. Selain itu, kegiatan ini bertujuan menumbuhkan jiwa kepemimpinan dan kerja sama tim selama perjalanan mendaki. Setiap kelompok dituntut untuk saling menjaga kekompakan, mengingat medan Gunung Lawu yang menanjak dan berbatu menuntut kerja sama yang solid dari awal hingga akhir pendakian. Tantangan terbesar dalam pelaksanaan kegiatan justru terletak pada bagaimana menjaga kekompakan tim agar tetap kompak sepanjang perjalanan.


Dibandingkan kegiatan pendakian sebelumnya, program tahun ini menonjolkan persiapan yang lebih matang dan terukur. Panitia menyusun tugas kelompok maupun perorangan secara lebih terstruktur sebelum keberangkatan, sehingga setiap santri memiliki peran dan tanggung jawab yang jelas selama perjalanan. Pendekatan ini terbukti membantu peserta lebih siap menghadapi medan Lawu yang menantang. Kematangan persiapan tersebut menjadi salah satu kunci kelancaran seluruh rangkaian kegiatan.


Dua pembina, Kak Jainil dan Kak Cahyo Gondo Arum, M.Pd., mendampingi langsung para santri sepanjang pendakian. Kehadiran keduanya memberi arahan teknis sekaligus motivasi spiritual di setiap etape perjalanan. Pendampingan ini penting mengingat medan Gunung Lawu yang cukup berat bagi santri yang baru pertama kali mendaki gunung setinggi itu. Bimbingan dari pembina yang berpengalaman turut memastikan keselamatan dan kelancaran seluruh peserta.




Antusiasme tinggi terlihat sejak tahap sosialisasi kegiatan hingga hari pelaksanaan pendakian. Para santri merasakan pengalaman baru dalam melatih kesabaran, kekompakan, dan kemandirian selama empat hari perjalanan. Rasa syukur dan kedekatan spiritual yang lebih kuat pun muncul setelah para santri menyaksikan langsung keindahan alam ciptaan Allah SWT dari puncak Lawu. Ukhuwah atau persaudaraan antar santri dari berbagai kelompok dan kelas turut terjalin lebih erat selama pendakian berlangsung.
Di balik capaian fisik menaklukkan puncak, kegiatan ini menyimpan makna filosofis yang dalam bagi santri Pesantren Darunnajah 2 Cipining. Setiap langkah mendaki mengajarkan bahwa ikhtiar harus disertai kesabaran, dan pada akhirnya rasa syukur menjadi buah dari perjuangan yang telah dilalui. Nilai ini sejalan dengan ajaran Islam tentang pentingnya tawakal setelah berusaha maksimal, serta menghayati alam sebagai tanda kebesaran Sang Pencipta. Pendakian gunung menjadi metafora perjalanan hidup, di mana setiap tantangan yang dihadapi dengan sabar akan membuahkan hasil yang bermakna.

“Melihat santri saling membantu satu sama lain saat medan semakin berat adalah bukti bahwa nilai kebersamaan benar-benar tumbuh dari pengalaman langsung, bukan sekadar teori,” ujar Kak Jainil, pembina pendamping kegiatan.






Setelah kegiatan usai, panitia berencana melakukan evaluasi menyeluruh bersama pembina untuk penyempurnaan program di masa mendatang. Penyusunan laporan kegiatan dan dokumentasi turut disiapkan sebagai bahan pembelajaran, dilengkapi sesi refleksi bersama santri mengenai hikmah yang mereka peroleh selama pendakian. Evaluasi ini diharapkan dapat menjadi acuan agar kegiatan serupa ke depan berjalan lebih baik lagi. Pesantren berharap semangat ikhtiar, sabar, dan syukur yang tertanam selama pendakian dapat terus dibawa santri dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan pesantren maupun kelak di tengah masyarakat.
