Santriwati Darunnajah 17 Taklukkan Tantangan Trek Pendakian di Gunung Pulosari

Udara pagi di penghujung April terasa berbeda bagi para santriwati Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Ummul Mu’minin Darunnajah 17. Sebanyak 13 santriwati memulai perjalanan menuju Gunung Pulosari, Banten pada 29 April 2026, dalam sebuah kegiatan pendakian dengan tema pecinta alam. Pperjalanan ini bukan sekadar kegiatan fisik saja melainkan juga sebagai sarana untuk lebih dekat dengan alam sekaligus mentadabburi kebesaran ciptaan Allah SWT.
Rombongan berangkat dari lingkungan pesantren bersama para pembimbing dan panitia sejak pukul sembilan pagi. Mereka tiba di kawasan pendakian menjelang siang hari, setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam. Suasana penuh antusias langsung terlihat ketika para peserta mulai mempersiapkan perlengkapan sebelum memulai perjalanan menuju jalur pendakian.
Pendakian dimulai sekitar pukul setengah dua belas siang. Di awal perjalanan jalur yang dilalui masih terasa ringan dan menyenangkan. Namun semakin jauh melangkah, medan berubah menjadi lebih menantang. Tanjakan curam, jalan berbatu, serta udara lembap membuat beberapa peserta harus berhenti sejenak untuk mengatur napas sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Kegiatan ini dipimpin oleh Ust. Fawaz Afaf Dhuha selaku ketua pelaksana. Selama perjalanan ini para santriwati didampingi 4 orang pembimbing. Yakni 2 orang ustadz pembimbing serta 2 orang ustadzah yang mendampingi. Kehadiran para pembimbing menjadi penopang penting supaya seluruh peserta tetap dalam keadaan aman dan mampu mengikuti kegiatan dengan baik hingga selesai.
Pendakian ini merupakan pengalaman pertama mendaki gunung bagi sebagian besar peserta.Tantangan fisik yang mereka hadapi menjadi pengalaman baru yang tidak mudah dilupakan. Ada yang mulai kelelahan ketika melewati jalur menanjak, tetapi rasa kebersamaan membuat mereka terus saling membantu dan memberi semangat satu sama lain.
Kegiatan luar ruang seperti ini mulai dipandang penting dalam membangun ketahanan mental remaja, di tengah perkembangan pendidikan modern . Aktivitas di alam terbuka diyakini mampu meningkatkan kemampuan adaptasi, fokus, dan pengendalian emosi. Pendakian ini menjadi bukti bahwa proses belajar tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas. Alam pun dapat menjadi ruang pendidikan yang menghadirkan pengalaman tentang kesabaran, kerja sama, dan rasa syukur.
Allah SWT berfirman:
“إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ”
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
(QS. Ali Imran: 190)
Dalam ayat lain, Allah SWT juga berfirman:
“قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ”
“Katakanlah: berjalanlah di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan.”
(QS. Al-Ankabut: 20)
Rasulullah SAW pun bersabda:
“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.”
(HR. Muslim No. 2664)
Hadits lain menyebutkan:
“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu.”
(HR. Bukhari No. 5199)
Selama perjalanan, para santriwati merasakan bahwa alam bukan hanya sekadar pemandangan indah. Hamparan pepohonan, udara pegunungan yang sejuk, serta jalur yang menantang menghadirkan kesadaran bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari ciptaan Allah SWT yang begitu luas dan agung.
Suhu mulai terasa lebih dingin dan rasa lelah semakin muncul ketika rombongan memasuki jalur yang lebih tinggi. Beberapa peserta memilih beristirahat sambil menikmati suasana hutan di sekitar mereka. Saat-saat seperti inilah yang membuat kegiatan tadabbur alam terasa memiliki makna terutama bagi remaja yang sehari-hari disibukkan dengan rutinitas belajar.
Pendakian juga menjadi sarana untuk mengurangi kejenuhan dan membangun kembali semangat belajar. Pengalaman langsung di alam terbuka memberikan ketenangan sekaligus menghadirkan ruang healing yang jarang ditemukan dalam aktivitas sehari-hari.
Menurut Ust. Fawaz Afaf Dhuha selaku ketua pelaksana, kegiatan ini sengaja dirancang agar para santriwati dapat mengenal kebesaran Allah SWT secara lebih dekat melalui ciptaan-Nya. Ia menyampaikan bahwa pengalaman melihat langsung keindahan alam akan lebih mudah membekas di hati dibandingkan hanya mempelajarinya melalui teori di dalam kelas.
Perjalanan berlangsung lebih lama dari perkiraan karena sebagian besar peserta belum pernah mendaki sebelumnya. Banyak santriwati harus beberapa kali berhenti untuk memulihkan tenaga dan mengatur napas. Rombongan akhirnya tiba di kawasan kawah setelah waktu Ashar. Meski belum mencapai puncak Gunung Pulosari, para peserta tetap merasakan pengalaman berharga dan menikmati keindahan kawasan kawah yang memukau.
Hari menuju petang, dan petang beranjak gelap. Setelah beristirahat sejenak perjalanan kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi curug yang berada tidak jauh dari jalur turun. Menuju curug, santriwati harus melewati trek yang lebih ekstrem dari trek yang sebelumnya telah dilalui. Mereka harus melewati pinggiran jalan yang curam dan seseklai harus berpegangan pada tali untuk melewati trek tersebut. Namun perjalanan itu terbalaskan dengan pemandangan air terjun yang indah. Ketika sampai di sana, santriwati bermain air curug dengan penuh keceriaan serta membilas pakaian mereka yang kotor terkena tanah sepanjang perjalanan.


Dalam kehidupan sehari-hari banyak orang merasa gagal hanya karena targetnya belum tercapai. Tanpa ia menyadari bahwa perjalanan menuju tujuan itu sendiri lebih menimbulkan makna ddibandingkan dengan hasil akhir yang dicapai.
Perjalanan pendakian ini menunjukkan bahwa keberhasilan itu tidak selalu diukur dari sejauh mana kita mencapai titik tertinggi. Terkadang proses dari perjalanan itu sendiri justru yang memberikan pelajaran yang paling penting. Kesabaran, ketahanan diri, dan kemampuan menghargai teman menjadi nilai yang tumbuh selama pendakian tersebut berlangsung.
Suasana solidaritas/kebersamaan terlihat selama perjalanan. Para santriwati saling membantu membawa perlengkapan dan memberi dukungan ketika ada teman yang mulai lelah. Bahkan mereka rela menunggu apabila ada satu teman yang lelah untuk beristirahat.
Kebersamaan seperti ini sangatlah penting dalam kehidupan saat ini yang cenderung lebih ke arah individualis. Kegiatan di alam mampu mempererat hubungan antar sesama karena setiap orang harus saling bergantung untuk mencapai tujuan bersama. Nilai inilah yang menjadi kekuatan utama pendidikan berbasis pesantren.
Ustadzah Umrah sebagai pembimbing menjelaskan bahwa pengalaman mendaki memberikan kesan yang snagat membekas di benak para santriwati. Menurutnya banyak santriwati yang awalnya ragu justru merasa bangga setelah berhasil melewati jalur yang menantang.
Mendaki Gunung Pulosari menjadi pengalaman pertama yang sulit dilupakan bagi sebagian besar peserta. Perasaan lelah, takut, dan antusias bercampur menjadi satu selama perjalanan berlangsung.
Pendakian ini juga memperlihatkan bahwa generasi muda membutuhkan ruang untuk bertumbuh melalui pengalaman. Pendidikan karakter tidak cukup hanya melalui teori. Anak muda perlu merasakan langsung proses perjuangan agar mampu memahami kehidupan.
Tadabbur alam membantu manusia memahami bahwa kehidupan tidak hanya tentang pencapaian duniawi. Alam mengingatkan kita tentang keteraturan ciptaan Allah SWT dan pentingnya menjaga hubungan dengan Sang Pencipta.
Banyak orang mengalami tekanan mental akibat target dalam kehidupan kerja maupun pendidikan. Kegiatan alam dapat menjadi solusi paling murah dengan hasil yang mahal untuk memulihkan kesehatan emosional dan psikologis seseorang.
Kegiatan ini membuktikan bahwa pendidikan Islam mampu menghadirkan metode pembelajaran yang menyentuh kehidupan. Santriwati tidak hanya belajar menghafal saja akan tetapi juga belajar merasakan makna ayat-ayat Allah melalui pengalaman.
Pendakian Gunung Pulosari yang diikuti santriwati Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Ummul Mu’minin Darunnajah 17 menmberikan pelajaran penting tentang kesabaran, kebersamaan, dan tadabbur alam. Meski pun penuh tantangan kegiatan ini meninggalkan pengalaman menyenangkan bagi para peserta.
Kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan terbaik tidak hanya berlangsung melalui buku dan ruang kelas. Alam mampu menjadi guru yang menghadirkan pelajaran hidup secara nyata. Karena itu kita perlu menghadirkan lebih banyak ruang pembelajaran yang mendekatkan generasi muda kepada alam dan nilai-nilai keimanan.
Pengalaman mendaki ini menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup tidak selalu mudah. Namun, dengan kebersamaan, kesabaran, dan keyakinan kepada Allah SWT, setiap tantangan dapat dilalui dengan lebih bermakna. Mari menjadikan alam sebagai ruang belajar, ruang refleksi, dan ruang untuk semakin mengenal kebesaran Sang Pencipta.
Salsabila
