Kalau kamu sedang membaca ini di minggu pertama mondok, kemungkinan besar kamu sedang duduk di sudut asrama sambil memikirkan rumah. Mungkin bantal di sini tidak senyaman bantal di kamarmu. Mungkin makanannya berbeda dari masakan ibu. Mungkin kamu belum hafal nama semua teman sekamar. Itu semua wajar. Sangat wajar.
Apa yang ingin disampaikan alumni kepada santri baru?
Bertahun-tahun lalu, ada seseorang yang duduk di tempat yang sama persis dengan tempatmu sekarang. Bantal yang sama kerasnya. Rindu yang sama beratnya. Pertanyaan yang sama di kepala — apakah keputusan ini benar.
Orang itu sekarang sudah lulus. Sudah kuliah. Sudah bekerja. Dan kalau ditanya apa momen paling berharga dalam hidupnya, jawabannya selalu kembali ke pesantren.
Bukan karena pesantren itu sempurna. Tapi karena di situlah ia pertama kali menemukan siapa dirinya sebenarnya.
Apa yang akan berubah setelah minggu pertama berlalu?
Minggu pertama memang yang paling berat. Semuanya terasa asing. Suara adzan yang nadanya sedikit berbeda dari masjid dekat rumah. Jadwal yang padat dari sebelum subuh sampai setelah isya. Kamar mandi yang harus diantri. Tidur yang tidak bisa semaunya sendiri.
Tapi ada satu hal yang jarang diceritakan orang tentang minggu pertama. Di antara semua rasa asing itu, ada momen-momen kecil yang diam-diam mulai terasa akrab. Teman sekamar yang menawarkan selimut cadangan tanpa diminta. Kakak kelas yang menunjukkan jalan ke masjid supaya tidak tersesat. Ustadz yang menepuk bahu dan bilang bahwa semua santri yang sekarang hebat pernah merasakan apa yang kamu rasakan.
Momen-momen kecil itu menumpuk. Dan suatu pagi, tanpa kamu sadari, kamu bangun bukan karena dibangunkan — tapi karena tubuhmu sudah terbiasa. Di situlah semuanya mulai berubah.
Apa yang akan kamu temukan di pesantren yang tidak ada di tempat lain?
Teman yang mengenal kamu di kondisi paling jujur. Di rumah, kita bisa menyembunyikan banyak hal. Di asrama, semuanya terlihat. Cara kita bangun tidur. Cara kita menghadapi hari yang buruk. Cara kita memperlakukan orang lain ketika tidak ada yang mengawasi.
Justru karena semuanya terlihat, persahabatan yang terbentuk di pesantren punya kedalaman yang berbeda. Teman-teman di sini akan mengenal versi paling asli dari dirimu — dan mereka tetap memilih untuk berteman.
Kamu juga akan menemukan kemampuan yang tidak pernah kamu tahu ada di dalam dirimu. Mungkin kamu akan berdiri di podium muhadharah dan terkejut mendengar suaramu sendiri mengisi seluruh aula. Mungkin kamu akan menghafal ayat yang kamu kira mustahil untuk dihafal. Mungkin kamu akan menang lomba di bidang yang belum pernah kamu coba sebelumnya.
Pesantren punya cara tersendiri untuk mengeluarkan potensi yang selama ini tersimpan di tempat yang kamu sendiri tidak tahu letaknya.
Apa pesan yang paling ingin disampaikan alumni?
Jangan buru-buru menilai. Beri dirimu waktu. Tiga bulan. Itu yang dibutuhkan untuk benar-benar merasakan ritme pesantren. Setelah tiga bulan, kamu akan mulai memahami mengapa jadwal yang ketat justru memberi rasa tenang. Mengapa hidup sederhana justru terasa kaya. Mengapa jauh dari rumah justru membuat kamu lebih dekat dengan keluarga.
Ada satu hal yang baru disadari setelah bertahun-tahun berlalu. Semua kebiasaan yang terbentuk di pesantren — bangun sebelum subuh, sholat berjamaah, mengantri dengan sabar, menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda — semua itu tidak terasa sedang diajarkan saat menjalaninya. Tapi begitu keluar dari pesantren, kita baru sadar bahwa kebiasaan-kebiasaan itu sudah menjadi bagian dari siapa kita.
Dan di situlah rasa syukur itu datang. Bukan di hari kelulusan. Bukan di upacara wisuda. Tapi di momen biasa, bertahun-tahun kemudian, ketika kita menjalani sesuatu dan menyadari bahwa kita bisa melakukannya karena pesantren.
Apa yang dirindukan alumni dari pesantren?
Bukan gedungnya. Bukan makanannya. Yang dirindukan adalah perasaan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Sholat subuh berjamaah ketika udara masih dingin dan mata masih berat, tapi kaki tetap melangkah ke masjid bersama ratusan orang lain. Momen itu tidak bisa diulang di tempat lain.
Yang dirindukan adalah tawa di lorong asrama setelah jam belajar selesai. Suara hafalan yang terdengar dari kamar sebelah. Aroma kopi dari dapur pesantren yang jadi penanda bahwa pagi sudah tiba. Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa, sekarang terasa sangat berharga.
Di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, ribuan alumni sudah melewati apa yang sedang kamu jalani sekarang. Mereka semua pernah duduk di sudut yang sama, dengan perasaan yang sama. Dan hampir semua dari mereka, kalau ditanya sekarang, akan bilang bahwa keputusan mondok adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah terjadi dalam hidupnya.
Jadi untuk kamu yang baru mulai — selamat datang. Kamu sedang berada di tempat yang tepat, di waktu yang tepat. Suatu hari nanti, kamu yang akan menulis surat seperti ini untuk adik kelasmu.
Buat orang tua yang ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan dan suasana pesantren, bisa langsung ngobrol lewat WhatsApp 0812111180. Setiap pertanyaan selalu dijawab dengan senang hati.