Setelah media digegerkan dengan perseteruan Eyang Subur dan Adi Bing Slamet. Kini episode ‘demi tuhan’ ala Arya Wiguna menjadi naik daun. Di youtube terutama, ‘latah-isasi’ gaya dan ekspresi Arya ini menjadi aneka kreativitas yang unik, lucu, dan fenomenal. Bahkan animasi video ini digabungkan dengan video-video yang lain sampai music bergenre remix, dangdut, juga ada. Beberapa video yang beberapa saat diunggah saja, pengunjungnya sudah berlimpah.

Namun, di balik itu semua, yang perlu kita cermati adalah penggunaan kata ‘demi tuhan’ yang ini merupakan bentuk dari sumpah. bagaimana Islam melihat sebuah sumpah?

Pengertian

Menurut bahasa, sumpah adalah pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang dianggap suci (untuk menguatkan kebenaran dan kesungguhannya). Sumpah juga berarti pernyataan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenarannya atau berani menderita sesuatu kalau pernyataan itu tidak benar. Sumpah diartikan pula dengan janji atau ikrar yang teguh (akan menunaikan sesuatu).

Sumpah menurut pengertian syara’ yaitu menahkikkan atau menguatkan sesuatu dengan menyebut nama Allah S WT, seperti; walLahi, bilLahi, talLahi. Secara etimologis arti sumpah yaitu:

1)      Pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Allah SWT untuk menguatkan kebenaran dan kesungguhan.

2)      Pernyataan yang disertai tekad melakukan sesuatu menguatkan kebenarannya atau berani menerima sesuatu bila yang dinyatakan tidak benar.

3)      Janji atau ikrar yang teguhakan menunaikan sesuatu.

Dalam bahasa Arab sumpah disebut dengan al-aimanu, al-halfu, al-qasamu. Al-aimanu jama’ dari kata al-yamiinu (tangan kanan) karena orang Arab di zaman Jahiliyah apabila bersumpah satu sama lain saling berpegangan tangan kanan. Kata al-yamiinu secara etimologis dikaitakan dengan tangan kanan yang bisa berarti al-quwwah (kekuatan), dan al-qasam (sumpah). Dengan demikian pengertian al-yuamiinu merupakan perpaduan dari tiga makna tersebut yang selanjutnya digunakan untuk bersumpah. Dikaitkan dengan kekuatan (al-quwwah), karena orang yang ingin mengatakan atau menyatakan sesuatu dikukuhkan dengan sumpah sehingga pernyataannya lebih kuat sebagaimana tangan kanan lebih kuat dari tangan kiri. Lafal sumpah tersebut harus menggunakan huruf sumpah (al-qasam) yaitu: waw, ba dan ta. seperti; walLahi, bilLahi, talLahi.

Bersumpah untuk kepentingan sesuatu yang disyari’atkan dalam Islam. Allah SWT berfirman, ”Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun“. (QS. Al-Baqarah [2]: 225). Oleh karena itu bagi yang telah bersumpah atas nama Allah untuk sesuatu, al-Quran menyerukan agar memelihara sumpah itu “Dan jagalah sumpahmu” (QS.Al-Maidah: 89).

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum bersumpah, Imam Malik berpendapat bahwa hukum asal sumpah adalah ‘jaiz‘(boleh). Hukumnya bisa menjadi sunnah apabila dimaksudkan untuk menekankan suatu masalah keagamaan atau untuk mendorong orang melakukan sesuatu yang diperintahkan agama, atau melarang orang berbuat sesuatu yang diperintahkan agama, atau melarang orang berbuat sesuatu yang dilarang agama Jika sumpah hukumnya mubah, maka melanggarnya pun mubah, tetapi harus membayar kafarat (denda), kecuali jika pelanggaran sumpah itu lebih baik.

Imam Hambali berpendapat bahwa hukum bersumpah itu tergantung kepada keadaannya. Bisa wajib, haram, makruh, sunnah ataupun mubah. Jika yang disumpahkan itu menyangkut masalah yang wajib dilakukan, maka hukum bersumpahnya adalah wajib. Sebaliknya jika bersumpah untuk hal-hal yang diharamkan, maka hukum bersumpahnya juga sunnah dan seterusnya.

Imam Syafi’i berpendapat hukum asal sumpah adalah makruh. Tetapi bisa saja hukum bersumpah menjadi sunnah, wajib, haram, atau mubah. Tergantung pada keadaaanya.

Menurut Imam Hanafi asal hukum bersumpah adalah ‘jaiz‘, tetapi lebih baik tidak terlalu banyak melakukan sumpah. Jika seseorang bersumpah akan melakukan maksiat, wajib ia melanggar sumpahnya. Jika seseorang bersumpah akan meninggalkan maksiat maka ia wajib melakukan sesuai dengan sumpahnya.

Menurut Mazhab Hanafi sumpah itu ada tiga macam, yaitu :

1)      Al-yamin al-laghwu yaitu sumpah yang diucapkan tanpa ada niat untuk bersumpah. Pelanggaran atas sumpah ini tidak berdosa dan tidak wajib membayar kafarat.

2)      Al-yamin al-mu’akkidah yaitu sumpah yang diniatkan untuk bersumpah. Sumpah semacam ini wajib dilaksanakan. Jika dilanggar harus membayar kafarat

3)      Al-yaminal-gamus yaitu sumpah palsu yang mengakibatkan hak-hak orang tak terlindungi atau sumpah fasik dankhianat. Sumpah semacam termasuk dosa besar.

Dalam Ensiklopedi Islam dijelaskan bahwa kafarat atas pelanggaran sumpah ada tiga macam yaitu:

1)      Memerdekakan budak.

2)      Memberi makan sepuluh orang miskin yang setiap orang mendapat satu mud atau 3/4 liter.

3)      Memberikan pakaian kepada sepuluh orang miskin, masing-masing satu lembar pakaian.

Sumpah diketegorikan sah apabila terpenuhi syarat-syaratnya yaitu: Menyebut asma Allah S WT atau salah satu sifatnya. Orang yang bersumpah sudah mukallaf. Tidak dalam keadaan terpaksa dan disengaja dengan niat untuk bersumpah. Terlepas dari segala pendapat di atas bahwa sumpah adalah suatu ucapan yang mengatas namakan Allah SWTyang apabila dipermainkan berarti telah mempermainkan agama. Oleh karena itu bila telah bersumpah, peliharalah sumpah itu.

Sumpah atau al-qasam merupakan suatu hal atau kebiasaan bangsa Arab dalam berkomunikasi untuk menyakinkan lawan bicaranya. Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh bangsa Arab merupakan suatu hal yang oleh al-Qur’an direkonstruksi bahkan ada yang didekonstruksi nilai dan maknanya. Oleh karena itu, al-Qur’an diturunkan di lingkungan bangsa Arab dan juga dalam bahasa Arab, maka Allah juga menggunakan sumpah dalam mengkomunikasikan Kalam-Nya.

Bahkan kebiasaan dalam hal bersumpah tersebut sudah ada sejak nilai doktrin Islam belum eksis tatanan bangsa Arab. Meskipun bangsa Arab dikenal dengan menyembah berhala (paganism) mereka tetap menggunakan kata Allah dalam sumpahnya, seperti disinyalir oleh al-Qur’an dalam surat Al-Fathiir ayat 42 yang berbunyi:

Artinya:”Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; Sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, Maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran)”. (QS. Al-Fathiir 35: 42)

Atau dalam surat An-Nahl ayat 38 yang berbunyi:

Artinya:”Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: “Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati”. (tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitnya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui”. (QS. An-Nahl 16: 38).

Namun, konsep sumpah tersebut berbeda dengan kebiasan bangsa Indonesia, sumpah lebih mengacu kepada sebuah kesaksian atau menguatkan kebenaran sesuatu dalam forum resmi, seperti kesaksian saksi dalam pengadilan dan sumpah jabatan, dengan tekad menjalankan tugas dengan baik.

Sumpah, “Demi Tuhan”

Terkait sumpah ‘demi Tuhan’, ada dua hal yang perlu dipahami; Pertama, bersumpah dengan sifat Allah. Sumpah yang boleh dilakukan oleh seorang muslim adalah sumpah yang menyebut kata Allah, seperti ‘demi Allah’ atau salah satu nama Allah, seperti ‘demi Ar-Rahman’, atau salah satu sifat Allah, seperti ‘demi Keagungan Allah’.

Bersumpah yang menyebut kata ‘demi Allah’ atau salah satu nama Allah lainnya mungkin sudah sangat sering kita dengar, sehingga kita tidak akan banyak mempertanyakannya. Karena itu, yang perlu kita tekankan di sini adalah bersumpah dengan menyebut sifat Allah. Yang kami maksud sifat Allah, seperti keagungan Allah, rahmat Allah, firman Allah, dst.

Terdapat banyak dalil yang menyebutkan hal ini, sampai Imam Bukhari membuat satu bab khusus dalam shahihnya ‘Bab tentang bersumpah dengan keagungan Allah, sifat-sifat-Nya, dan firman-Nya.’ Kemudian beliau membawakan beberapa hadis, diantaranya;

1)      Hadis tentang penduduk surga yang terakhir masuk surga:

‘Tinggallah seseorang di antara surga dan neraka. Dia meminta: ‘Wahai Rabku, palingkan wajahku dari neraka, demi keagungan-Mu, saya tidak minta yang lainnya.’

 

2)      Hadis tentang ucapan Nabi Ayyub ketika mengambil belalang emas:

“Demi keagungan-Mu, saya tidak pernah cukup untuk mendapatkan berkah-Mu”

[Shahih Bukhari: Bab tentang Sumpah dan Nadzar, 8/134].

Karena itulah, pendapat yang jauh lebih kuat dalam masalah ini, boleh bersumpah dengan menyebut sifat Allah. Ibnu Rusyd mengatakan, “Adapun pendapat yang melarang bersumpah dengan sifat atau perbuatan Allah adalah pendapat yang lemah.” (Bidayatul Mujtahid, 1/334)

Dalam beberapa hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersumpah dengan keterangan tentang Allah, yang hanya mungkin ada pada Dzat Allah, misalnya “Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya”.

Sumpah semacam ini banyak disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari. Dan makna kalimat di atas, tidak lain hanya tertuju pada Allah. Syaikh Bakr Abu Zaid menjelaskan satu kaidah dalam masalah sumpah. Kaidah baku dalam syariat, bahwa tidak boleh bersumpah kecuali dengan kata ‘Allah’ atau salah satu nama Allah, atau salah satu sifatnya. Karena dalam sumpah, berarti unsur mengagungkan, dimana tidak boleh ada seorangpun yang menjadi sekutu di dalamnya. Dan pengagungan semacam ini hanya boleh ditujukan untuk Allah ta’ala. Oleh karena itu, bersumpah dengan menyebut makhluk selain Allah, sudah layak dikatakan syirik. (Mu’jam Al-Manahi Al-Lafdziyah).

Kedua, status kata ‘Tuhan’ dalam bahasa Indonesia. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), kata tuhan didefinisikan sebagai, sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai yang Mahakuasa, Mahaperkasa, dsb.

Dalam sila pertama pancasila tertera: Ketuhanan yang Mahaesa. Padahal kalimat ini tidak diingkari oleh penganut agama selain Islam.

Menimbang penggunaan masyarakat Indonesia untuk kata ‘Tuhan’, kita bisa menyimpulkan bahwa makna kata ‘Tuhan’ ada 2: Sesembahan (sesuatu yang disembah) atau Pencipta alam semesta.

Pancasila disetujui oleh penduduk indonesia yang memeluk agama berbeda-beda. Yang tentu saja masing-masing agama memiliki sesembahan yang tidak sama. Sehingga, arti ‘tuhan’ yang tepat di sini bukan sesembahan tetapi pencipta. Karena mereka tidak mengakui keesaan sesembahan, sebagaimana yang diyakini orang islam.

Lain halnya untuk KBBI, makna kata ‘Tuhan’ yang lebih ditekankan adalah dzat yang disembah. Dan bagi kita makna kedua penggunaan ini tertuju hanya kepada Allah, tidak keluar dari itu. Oleh karena itu, diperbolehkan bersumpah dengan menyebut; demi Tuhan. Namun, alangkah utama jika dalam bersumpah seorang muslim mengatakan dengan nama Allah (red__Berbagai sumber)