Bagaimana cara agar bisa belajar ke Perancis? Jawabannya sangat mudah. Begitulah yang dikatakan oleh sahabat dan keluarga dari Ikatan Keluarga Besar Darunnajah Cipining (IKPDC) bernama Subhan Ali Yusuf saat bertandang ke almamaternya tercinta, Ahad (7/8). Selidik punya selidik silaturahminya ke pesantren, salah satunya guna meminta restu dan do’a dari Bapak Kyai, KH Jamhari Abdul Jalal, Lc terkait hendak keberangkatannya ke Perancis akhir bulan ini untuk mengambil S-2.

Menurut suami dari Ledy Rizka Yusuf ini, belajar di luar negeri bagi orang Indonesia sangat terbuka, apalagi di Eropa, di antaranya adalah Perancis. Tinggal memiliki keinginan dan mau mengejar kesempatan tersebut apa tidak. Apalagi saat ini, informasi pendidikan luar negeri sudah banyak diinformasikan di internet, semakin mudahlah akses ke arah itu.

Subhan-begitulah ia akrab dipanggil, sejak menyelesaikan s1-nya (2005) dan sibuk bekerja di berbagai perusahaan, memang telah memiliki keinginan untuk melanjutkan s-2 sejak 3 tahun lalu. Maka, ayah dari Akhtar Abdurrahman Yusuf (2) ini juga banyak mengakses informasi tentang universitas yang ada di luar negeri. Akhirnya ia menautkan hati di Perancis dengan mencoba apply ke 2 tempat,  Toulouse Business School  dan Université Bordeaux. Di kedua Universitas terkemuka ini, ia diterima. Setelah melakukan berbagai komunikasi dan konsultasi kepada pihak-pihak yang berkopenten, ia pun memilih Université Bordeaux sebagai pilihan pastinya.

Masih menurutnya, ia akan menyelesaikan studinya di perancis selama 1 tahun. Biaya disana juga terhitung murah, yaitu kurang lebih 27 Euro. “Rencana disana 1 tahun meskipun disana sebenarnya 2 tahun. Karena saya telah menyelesaikan s1 di Indonesia, maka itu dianggap sebagai 1 tahun pertama” ungkap Subhan yang saat ditanya motivasi belajar di Perancis memang ingin menjadi CEO atau seorang dosen.

Ia kini juga tengah menjalani belajar kursus bahasa Perancis meskipun menurutnya saat belajar di kelasnya nanti menggunakan bahasa Inggris. Bahasa Perancis akan ia gunakan sebagai bahasa keseharian untuk berkomunikasi dan bersosialisasi dengan masyarakat Perancis. Selain itu, bisa bahasa Perancis juga menguntungkan karena bahasa Perancis juga banyak digunakan sebagai bahasa pergaulan kedua di tingkat Internasional.

Subhan yang pernah belajar selama 3 tahun di pesantren (2001-2004) merasa terpanggil untuk mengembangkan almamater Darunnajah Cipining saat kembali nanti. Ia berhasrat memberikan motivasi dalam kelas terbuka untuk para santri secara reguler. Baginya, alumni Darunnajah Cipining memiliki potensi luar biasa dalam mendukung perkembangan Darunnajah Cipining, maka dengan mengambil peran sebagai penggagas dan pioneer, ia akan segera wujudkan cita-citanya tersebut.

Saat ditanya soal apa yang bisa diambil dari masa nyantrinya dulu, ia mengaku pesantren telah membentuk kepribadiannya dengan baik. Dari hidup di pesantrenlah ia merasa memiliki mental yang kuat.  Apapun masalah yang dihadapinya, ia telah terbiasa dan siap menyelesaikannya sendiri. Di pesantren, jiwa kemandirian seperti itulah yang mendorongnya untuk terus mengejar cita-citanya. Berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler juga dirasa sangat berguna.

“Alhamdulillah, apa yang telah saya rasakan, saya pelajari, dan saya dapat dari pesantren ini menjadi daya dukung bagi saya” akunya. (Wardan/Billah)