Suara Drumband Pesantren yang Menggetarkan Lapangan dan Membangunkan Kebanggaan

Di antara semua suara yang bisa terdengar dari kehidupan pesantren, ada satu yang paling sulit dilupakan. Bukan suara adzan, bukan suara hafalan pagi, bukan juga riuh lapangan olahraga. Tapi dentuman bass drum yang tiba-tiba memenuhi seluruh lapangan di sore hari, diikuti ketukan snare yang rapi, lalu tiupan terompet yang entah sejak kapan sudah terdengar begitu kompak.

Apa yang sebenarnya terjadi di balik suara drumband yang terdengar begitu gagah itu?

Kebanyakan orang hanya melihat hasilnya saja. Barisan rapi. Seragam serasi. Gerakan yang sinkron tanpa jeda. Tapi di balik itu semua ada perjalanan panjang yang dimulai dari tempat yang sangat sederhana — santri yang belum pernah memegang stik drum seumur hidupnya.

Bagaimana latihan pertama drumband di pesantren biasanya dimulai?

Tidak dari bakat. Dari niat. Santri yang mendaftar ke unit drumband datang dengan latar belakang yang bermacam-macam. Ada yang memang suka musik sejak kecil. Beberapa sekadar penasaran ingin mencoba hal baru. Ada juga yang ikut karena ajakan teman sekamar yang susah sekali ditolak.

Hari pertama latihan selalu kacau.

Ketukan yang seharusnya bersamaan justru saling tumpang tindih. Tiupan terompet yang mestinya panjang terputus di tengah karena napas belum kuat. Ada yang salah pukul, ada yang lupa hitungan, ada yang menahan tawa karena mendengar suaranya sendiri yang fals. Tidak ada yang sempurna di hari pertama. Tapi tidak ada juga yang menyerah. Mungkin karena kekacauan yang dilalui bersama-sama terasa lebih ringan dari yang dibayangkan sebelumnya.

Minggu demi minggu, latihan terus berjalan tanpa jeda. Sore hari sepulang dari kelas, sementara santri lain bermain bola atau beristirahat di asrama, anggota drumband sudah berkumpul di lapangan. Cuaca panas tidak pernah jadi alasan untuk absen. Gerimis pun kadang tidak menghentikan mereka. Kakak kelas yang sudah lebih berpengalaman menjadi pelatih bagi adik kelasnya secara sukarela, tanpa silabus dan tanpa nilai. Santri yang tahun lalu masih belajar cara memegang stik dengan benar sekarang sudah mengajarkan teknik paradiddle kepada anak baru. Siklus itu berulang setiap tahun ajaran, dan setiap tahun hasilnya selalu mengejutkan siapa pun yang mendengar.

Ada satu fase dalam proses latihan yang jarang diketahui orang luar. Fase ketika seluruh formasi sudah mulai berbunyi, tapi belum menyatu. Masing-masing seksi sudah bisa memainkan bagiannya, tapi ketika digabungkan hasilnya masih berantakan. Fase itu bisa berlangsung berminggu-minggu. Di situlah kesabaran diuji paling keras. Bukan kesabaran individual — tapi kesabaran kolektif, kesabaran untuk menunggu sampai semua orang siap bergerak bersama.

Lalu tiba satu sore ketika semuanya tiba-tiba klik.

Bass drum, snare, tenor, cymbal, dan seluruh seksi tiup berbunyi di waktu yang sama untuk pertama kalinya. Tidak ada aba-aba khusus. Wajah-wajah di barisan berubah. Ada senyum yang muncul di sela-sela konsentrasi. Sore itu, sesuatu yang tidak bisa diajarkan di dalam kelas sedang terjadi di lapangan.

Perubahan paling terasa bukan di suaranya. Tapi di wajah mereka.

Apa yang terjadi ketika drumband tampil untuk pertama kalinya di depan seluruh pesantren?

Ada satu hari yang selalu ditunggu oleh setiap anggota drumband. Hari penampilan pertama di hadapan banyak santri. Momen itu biasanya datang saat upacara besar atau acara tahunan pesantren.

Detak jantung terasa lebih cepat dari biasanya. Tangan yang memegang stik sedikit basah oleh keringat. Komando pertama dari field commander bergema di lapangan, lalu seluruh barisan mulai bergerak.

Suara itu memenuhi seluruh ruang terbuka.

Bukan suara yang sempurna. Masih ada satu dua ketukan yang agak telat. Satu nada terompet yang kurang tepat. Tapi tidak ada yang peduli soal itu. Karena yang mengisi lapangan bukan hanya bunyi alat musik, melainkan energi dari puluhan santri yang sudah berlatih berminggu-minggu demi momen ini. Santri lain yang menonton dari pinggir lapangan bertepuk tangan tanpa diminta. Bukan tepuk tangan formalitas. Tepuk tangan yang lahir dari rasa hormat kepada teman yang sudah berjuang.

Orang tua yang kebetulan sedang berkunjung kadang berdiri terpaku melihat semua itu. Mereka tidak menyangka bahwa anak yang beberapa bulan lalu masih menangis saat pertama kali ditinggal di asrama, sekarang berjalan gagah di barisan paling depan, memimpin formasi dengan percaya diri yang tidak pernah terlihat sebelumnya di rumah.

Dampak drumband sering kali baru terasa bertahun-tahun setelah santri lulus.

Ada momen-momen tertentu dalam kehidupan pesantren yang tidak bisa diceritakan lewat rapor atau sertifikat. Drumband adalah salah satunya. Di dalamnya ada pelajaran tentang disiplin yang tidak terasa seperti disiplin. Santri belajar mendengarkan instruksi dengan saksama, menghitung tempo dengan presisi, dan bergerak sebagai satu kesatuan utuh. Kalau satu orang salah langkah, seluruh formasi bisa berantakan. Tanggung jawab itu tidak ringan, tapi justru itulah yang membuat mereka tumbuh tanpa merasa sedang dididik.

Tapi ada pelajaran lain yang lebih halus dari semua itu. Bahwa hasil terbaik tidak pernah datang dari usaha sendiri. Bahwa menunggu orang lain siap adalah bagian dari proses. Bahwa momen ketika seluruh barisan akhirnya berbunyi sebagai satu suara — momen itu lebih berharga dari nilai ujian manapun.

Di Darunnajah 2 Cipining, unit drumband menjadi salah satu kegiatan yang paling diminati setiap kali pendaftaran kegiatan dibuka. Bukan karena alatnya canggih atau pelatihnya terkenal, tapi karena santri yang sudah di dalamnya memancarkan sesuatu yang membuat anak lain ingin merasakan hal yang sama.

Kebanggaan itu menular.

Cerita sore hari di lapangan pesantren ini punya pesan yang sederhana tapi penting.

Kadang kita terlalu sibuk memastikan anak mendapat nilai bagus dan peringkat tinggi sampai lupa bahwa ada bentuk pertumbuhan lain yang sama pentingnya. Anak yang belajar berdiri tegak di barisan drumband, yang berlatih setiap sore tanpa pernah mengeluh, yang akhirnya tampil gagah di hadapan ribuan temannya — anak itu sedang membangun sesuatu yang akan dia bawa ke mana pun dia pergi setelah lulus nanti.

Kalau penasaran dengan kehidupan pesantren dan kegiatan apa saja yang tersedia untuk santri, bisa langsung datang survei kapan saja atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.