~ Experience is The Best Teacher ~
“Pengalaman adalah guru yang terbaik”. Berabad-abad, mantra ini telah berhasil membawa Dunia Barat ke titik tertinggi dalam peradaban ilmu. Tentu, dalam bingkai lensa kacamata positivisme Immanuel Kant dalam memandang ilmu pengetahuan yang menolak metafisika. Menolak yang tidak rasional, termasuk menolak keberadaan Tuhan. “tuhan telah mati”, kata Nietzhe. Tentu bukan Tuhan Allah, tapi tuhan dalam alam pikiran masyarakat Barat.
Hari ini (20/02/2017), keluarga besar Pondok Pesantren Annur Darunnajah 8 Cidokom sangat berbahagia. Para asatidz serta santriwan-santriwati dikunjungi sepasang suami istri dari Amerika Serikat. Mr. Fadi Chaboo dan Ms. Asma Al Garh.
Ini adalah kali kedua Asma berkunjung ke Cidokom. Ia kangen dengan suasana pondok kami serta santri-santriwatinya. Kali ini, ia membawa suaminya yang bekerja sebagai dokter anak di salah satu rumah sakit di negeri mereka tinggal.
Asma kaget, pertama ia ke pondok ini setahun lalu, jumlah santri kisaran 450. Hari ini, hampir 800. Mister Fadi juga heran, ini pasti kerja keras para guru, katanya sambil ‘kepedesan’ setelah makan soto mie pedas dan rujak buah.
Kunjungan berharga ini dimanfaatkan oleh santri dan santriwati dengan mengadakan dialog. Dengan tema “Islam in America Today”, para santri berhasil memaksa keduanya cerita panjang lebar tentang pengalaman pribadi mereka menjalani kehidupan sebagai muslim minoritas di Amerika.
Dengan bahasa terbata-bata, santri kelas 2 TMI (setingkat SMP), Sofia dan Nafa, juga santriwati lainnya menanyakan banyak hal tentang isu-isu Islam kontemporer terbaru di Amerika. Mulai dari terpilihnya Donald Trump dan imbasnya terhadap kebijakan dalam dan luar negeri yang merugikan kaum minoritas termasuk di dalamnya warga muslim, hingga pertanyaan bagaimana cara Asma hidup bersama umat agama lain yang mayoritas, khususnya di rumah sakit tempat ia bekerja.
Asma menuturkan, bahwa ia harus berjuang sekuat tenaga untuk menjadi anggota masyarakat yang terbaik. Hal itu ia lakukan, agar teman-teman dan tetangganya tahu, bahwa umat Islam adalah umat terbaik yang menebarkan rahmat kasih sayang kepada semua manusia.
Tidak hanya itu, masih menurut cerita Asma, ia harus menjadi atasan yang baik bagi bawahannya yang beragama Kristen dan Yahudi. Dia merampungkan segala tugas dengan tuntas, dan bisa menolong banyak orang di tempat ia bekerja. Dengan begitu, banyak yang memberi simpati dan mulai mempelajari Islam. “It was hard in the beginning, but I had to do it”, ujar Asma menekankan.
Selanjutnya, jawaban Asma tentang Donald Trump membuat para guru dan santriwati terdiam. Menurutnya, ini pilihan sulit bagi warga Amerika. Keduanya susah untuk dipilih. Tapi rakyat harus memilih. Trump tidak lebih baik dari Hillary, tapi orang Amerika suka yang pasti-pasti, yang implementatif. Secara personal Hillary baik, tapi dia politikus. Sebagian masyarakat Amerika sudah bosan dengan politikus.
Dialog semakin seru, meski sebagian santri kecil belum paham, tapi mereka tetap ikut tepuk tangan dan tertawa ketika ada hal yang ‘terlihat’ lucu.
Mr. Fadi, yang dapat bagian dialog bersama santri putra di masjid, mengisahkan pengalaman masa kecilnya yang tidak mudah. Ia harus bekerja keras untuk bisa belajar hingga sampai menjadi doktor dalam bidang ilmu kedokteran.
Selepas selesai dialog bersama santri putra, ia bergabung dengan istrinya yang sedang bercengkrama bersama santriwati di Mini Hall Pondok. Para santriwati menanyakan bagaimana kisah awal pertemuan mereka hingga menikah. Dengan sangat serius, Fadi menceritakan kisah awal pertemuan mereka yang sangat singkat namun romantis. Ia sholat istikharah dan terbang dari Jerman menuju Maroko menemui wanita yang belum pernah ia lihat sama sekali. Dalam tempo tiga hari, ia langsung menikahi Asma, wanita yang hanya ia lihat dalam mimpi selepas istikhoroh dari tempat yang terpaut sangat jauh. Tepuk tangan dan gemuruh tasbih dari mulut santriwatipun menggema di aula.
Acara dialogpun usai. Hampir dua jam santri tidak merasa, bahwa yang mereka lakukan adalah praktik langsung menggunakan bahasa Inggris, “direct Method”. Dari terbata-bata hingga ‘pede’ dan teriak-teriak berbahasa Inggris dengan Mr. Fadi dan Ms. Asma.
Itulah cara pondok mendidik dan melatih santri. Semua hal dipraktekkan berulang-ulang. Tidak hanya pengetahuan di dalam kelas. Tapi 24 jam dikali 7 hari hingga dua semester, santri mendapatkan kesempatan mempraktekkan apa yang mereka dapat di kelas ke dalam keseharian mereka di pondok. Dari bahasa Arab dan Inggris, sholat lima waktu, pidato, ibadah qouliyah dan amaliyah, imam sholat berjamaah, khutbah Jum’at, mengajar, berorganisasi dan lain sebagainya.
Hanya dengan cara ‘mempraktekkan’, santri dan santriwati mendapatkan ‘guru terbaik’ dalam belajar, yaitu PENGALAMAN.


Info pendaftaran;
Ghofar Al Hajiz, S.Pd.I 087876892410
Kholis Wafiddurahman 085733977776
Noviatin Mahmudah 081310103964