SOSIALISASI BUKU PELAJARAN

Pentingnya buku bagi santri dalam menunjang proses KBM sangat ditekankan Darunnajah Cipining pada awal tahun ajaran 2009-2010 ini. Salah satu hal yang telah dilakukan adalah memasukkan paket buku pelajaran dalam daftar keperluan santri baru dan daftar ulang bagi santri lama. Sosialisasi kepemilikan buku pelajaran kembali ditekankan oleh pihak pesantren terutama kepada orang tua dan wali dari siswa-siswi nonasrama yang berada di kampus 2 pada tingkat MI, SMP, MTs, MA, dan SMK, Ahad, 16 Agustus 2009. Sosialisasi yang dilaksanakan di masjid Jami Darunnajah Cipining ini melibatkan kepala-kepala sekolah sebagai penanggung jawabnya.

Sebagai  keynote speaker, KH. Jamhari dalam sosialisasi tersebut mengatakan bahwa buku menjadi salah satu indikasi siswa/i dalam membaca dan belajar. Bagi yang tidak memiliki buku, maka sudah barang tentu memiliki sedikit kesempatan untuk membaca. “Bagaimana siswa/i seperti ini akan mendapatkan nilai bagus jika kegiatan membaca (belajar-red) saja jarang dilakukan“ungkap beliau. “Selain itu juga,  membaca menjadi salah satu pesan ilahiyah sebagaimana termaktub dalam surat Al-Alaq yaitu ‘iqra’ yang terkandung makna diantaranya membaca secara tekstual. Bisa kita istilahkan sebagai buku” papar beliau melengkapi.

Maka untuk itu, di hadapan para orang tua siswa, pimpinan pesantren sangat mengharapkan kepada mereka untuk mendukung upaya ini dengan membelikan anak-anaknya buku-buku pelajaran yang dibutuhkan. Beliau juga menjelaskan bahwa buku sebenarnya tidak memiliki masa kadaluarsa. Meskipun berganti kurikulum, buku yang sebelumnya masih dapat digunakan. Oleh karenanya, buku yang telah dimiliki dapat digunakan kembali untuk adik-adiknya ketika sudah naik kelas nantinya.

sosialisasi 1

Dalam kesempatan yang sama, Kepala SMK, Ustadz Sholeh Ahmad, S.Kom. mengatakan bahwa sosialisasi ini sebagai antisipasi bagi kecenderungan siswa/i  yang enggan memiliki buku. Menurutnya, disinyalir  siswa/i yang tidak memiliki buku menjadi penghambat dalam kelancaran proses KBM. Apalagi jika tidak memiliki buku, siwa/i juga malas dalam mencatat. Tidak memiliki buku catatan dan buku pelajaran, mengakibatkan kecenderungan siswa untuk tidak memperhatikan pelajaran saat guru menerangkan. “Dengan sosialisasi ini, saya berharap KBM dapat lancar dan mutu tetap terjaga” ungkapnya optimis.

Senada dengan kepala SMK, kepala MA, Ustadz Drs. Abd. Rosyid menekankan bahwa kepemilikan buku bagi siswa/i  dapat mengangkat kualitas KBM di Darunnajah Cipining. Karena dalam proses belajar, masih menurutnya, kedua belah pihak, yaitu guru dan siswa harus sama-sama siap. Guru ketika mengajar telah siap dengan RPPnya, maka siswa juga harus siap dengan buku pelajarannya. Sehingga dengan hubungan yang saling melengkapi seperti ini, proses KBM menjadi mudah dan menyenangkan hingga target kurikulum pun dapat tercapai.

“Pencapaian target kurikulum yang bertendensi  kompetensi siswa/i  baik koqnitif, afektif, dan psikomotorik sangat kita harapkan seiring dengan program pendidikan yang diselenggarakan Darunnajah Cipining. Salah satu program yang kita prioritaskan adalah siwa/i ini memiliki buku pelajaran” katanya.

sosialisasi 2

Sediakan Buku Murah dan Wakaf Buku

Sebagai konskuensi, pihak pesantren akan menyediakan buku-buku pelajaran yang dapat dibeli siswa/i melalui TU Keuangan pesantren. “Jumlah buku yang dibeli juga tidak terlalu banyak, karena beberapa buku telah disediakan sekolah melalui peminjaman di perpustakaan yang selama ini telah berjalan” terang Ustadz Jeje dihadapan orang tua siswa/i MTs.

Mekanisme yang ditawarkan adalah orang tua siswa/i dapat langsung membeli secara kontan atau dengan cara berangsur. Biasanya yang memiliki tanggungan anak lebih dari satu, mereka memilih mengangsur karena lebih ringan.

Kedua opsi tersebut ditawarkan kepada orang tua siswa/i sebagai bentuk kemudahan yang diberikan Darunnajah Cipining. Dan untuk menjaga kesuksesan dari program sosialisasi ini, mereka diberikan lembar pernyataan yang dapat dipertanggungjawabkan serta mendapat persetujuan dari kepala sekolah.

Rencananya, realisasi kepemilikan buku bagi siswa/i ini akan terus dikejar agar dapat cepat terwujud. “Saat ini, kebutuhan akan buku bagi siswa/i sudah sangat mendesak” terang kepala sekolah SMP, Ustadz Fathul Mu’min, S.Pd.I. Sehingga dalam perhitungannya, siswa/i SMP dalam satu minggu berikutnya telah memiliki buku-buku yang dibutuhkan.

Hal demikian juga disampaikan oleh kepala MI, Ustadz Nurfathoni, S.H.I. Siswa/i MI Darunnajah juga ditargetkan harus memiliki buku pelajaran dalam waktu kurang dari seminggu usai sosialisasi ini. Bagi siswa/i MI, memiliki buku sangat membantu belajar mereka, baik di kelas maupun di rumah. Harapan kepala MI, semoga dengan adanya buku ini dapat berdampak kepada siswa/i dalam proses KBM, prestasi, dan semangat anak-anak dalam bersekolah secara umum.

Kemudian untuk menjaga dan melestarikan buku sebagai penunjang dalam belajar dan mengurangi krisis buku di sekolah, perpustakaan sekolah yang mencakup semua jenjang pendidikan juga telah membuka program wakaf buku. Wakaf buku ini sangat dianjurkan bagi siswa/i yang telah naik ke kelas berikutnya. Buku-buku yang sudah tidak terpakai, dapat diwakafkan ke perpustakaan dan dapat digunakan kembali dengan tanpa membeli buku baru.

“Keuntungan yang didapat antara lain, seorang siswa ketika naik kelas tidak perlu membeli buku lagi karena telah mendapatkan dari kakak kelasnya. Dan dia juga meninggalkan buku-bukunya untuk digunakan bagi adik-adik kelasnya” kata Ustadz Sarwito di perpustakaan tempat tugasnya sehari-hari.

Wakaf buku ini sebenarnya telah digulirkan sejak lama terutama bagi siswa/i akhir, yaitu  kelas IX MTs/SMP dan XII MA. Selama ini, buku wakaf tersebut telah banyak membantu siswa/i dalam belajar. Bahkan merasa senang karena mereka hanya mengeluarkan sedikit biaya untuk ppembelian buku baru.

“Buku-buku wakaf itu juga melengkapi inventaris buku perpustakaan yang salah satu sumbernya berasal dari pemerintah melalui dana BOS dan bantuan lain. Selain itu, swadaya dari perpustkaan sendiri”  ucap ustadz Sarwito menambahkan.

sosialisasi 3

Masuk Sekolah Jam 7 Pagi

Kebijakan lain yang turut disosialisasikan dalam kesempatan pagi itu adalah majunya jam masuk kelas bagi siswa/i nonasrama. Dari semula pukul 07.30 WIB, kini jam belajar dimulai pukul 06.55 WIB. Kebijakan ini diambil sebagai tahapan untuk sedikit demi sedikit mensejajarkan program pendidikan nonasrama seperti di dalam asrama yang telah menjadwalkan masuk kelas pukul 06.45 WIB.

Sosialisasi ini disampaikan di hadapan orang tua siswa/i agar mendapat dukungan. Orang tua diharapkan mampu membantu anak-anaknya untuk pergi sekolah tepat pada waktunya. Selain itu, mereka dapat turut memahami program pendidikan yang menjadi kebijakan pesantren.

Lebih jauh Ustadz Drs. Abd. Rosyid mengatakan bahwa program ini juga telah dilakukan di tempat-tempat lain seperti di Kota Jakarta. Di Darunnajah Cipining, tendensi utama dari program ini adalah meningkatkan porsi belajar siswa/i yang berada di kampus 2. Dengan begitu, yang tadinya memiliki 8 jam setiap harinya, kini menjadi 9 jam.

Sebelumnya, program ini telah disosialisasikan kepada siswa/i di awal tahun 2009-2010 lalu dan telah diberlangsungkan. Hingga saat ini, dalam lapangan, Alhamdulillah para siswa/i dapat mengikutinya dengan kondusif dan berdisiplin dan serta tidak ada halangan yang cukup berarti.(Billah)