Di pesantren, buku catatan bukan sekadar tempat menulis materi pelajaran. Setiap buku yang dipakai santri selama satu semester menyimpan jauh lebih banyak dari catatan nahwu atau rumus matematika. Di balik halaman-halaman yang terisi dengan tulisan tangan, ada jejak kehidupan yang utuh — coretan iseng, gambar kecil, pesan dari teman, dan kadang catatan pribadi yang ditulis di saat pelajaran terasa membosankan.
Halaman depan buku catatan santri biasanya yang paling rapi. Di sinilah semangat awal semester terlihat — tulisan yang teratur, garis yang lurus, dan warna pena yang konsisten. Tapi seiring minggu berganti, kerapian itu perlahan berubah. Tulisan menjadi lebih cepat karena ustadz bicara lebih cepat dari tangan yang menulis. Garis menjadi tidak lurus karena terlalu fokus mendengarkan. Warna pena berubah-ubah karena pena sebelumnya habis tintanya dan harus meminjam dari teman.
Di sela-sela catatan pelajaran, ada coretan kecil yang menceritakan apa yang sedang terjadi di kepala santri saat itu. Gambar wajah ustadz yang sedang mengajar — kadang mirip kadang sangat jauh dari kenyataan. Doodle kecil di pojok halaman yang bentuknya abstrak tapi selalu muncul di saat pelajaran terasa panjang. Nama teman yang ditulis di margin buku karena sedang diminta menuliskan sesuatu. Setiap coretan itu bukan sekadar corat-coret. Itu adalah rekaman suasana hati di momen tertentu.
Kita yang pernah membuka kembali buku catatan lama dari masa pesantren tahu perasaan yang muncul saat melihat halaman-halaman itu. Tulisan tangan sendiri yang terasa asing karena sudah sangat lama tidak menulis dengan cara itu. Catatan yang dulunya terasa sangat penting sekarang terlihat sederhana. Tapi coretan kecil di pojok halaman — gambar, pesan, atau lelucon yang ditulis teman — justru yang paling membuat tersenyum.
Buku catatan di pesantren juga sering menjadi media komunikasi diam-diam antar teman. Di saat pelajaran tidak memungkinkan untuk bicara, pesan ditulis di pojok halaman lalu buku digeser ke teman di sebelah. Jawaban ditulis di bawahnya. Percakapan tertulis itu kadang lebih jujur dari percakapan lisan — karena menulis memberikan waktu untuk memilih kata yang tepat.
Di akhir semester, buku catatan yang sudah penuh biasanya disimpan di koper atau loker. Santri yang rapi menumpuknya berurutan per mata pelajaran. Yang tidak terlalu rapi mencampurnya tanpa urutan. Tapi semua menyimpannya — karena ada perasaan bahwa buku-buku itu menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar materi ujian.
Bertahun-tahun kemudian, saat alumni membongkar kardus lama dan menemukan buku catatan dari masa pesantren, momen itu selalu menjadi perjalanan waktu yang tak terduga. Setiap halaman membawa kembali kenangan yang sudah lama tersimpan. Tulisan ustadz yang dipelajari di kelas. Nama-nama teman di margin. Gambar kecil yang dulu membuat tertawa tapi sekarang membuat terdiam — karena mengingatkan pada seseorang yang sudah lama tidak bertemu.
Di Darunnajah 2 Cipining, sistem pembelajaran yang memadukan kurikulum agama dan umum menghasilkan buku catatan santri yang unik — di halaman yang sama bisa ada catatan nahwu bersebelahan dengan rumus fisika, puisi Arab berdampingan dengan catatan sejarah. Keberagaman itu mencerminkan kekayaan kurikulum yang tidak dimiliki sekolah biasa.
Buku catatan memang akan usang. Kertasnya menguning. Tintanya memudar. Tapi cerita di setiap halamannya — cerita tentang hari-hari yang penuh belajar, tawa, dan pertumbuhan — tidak pernah kehilangan nilainya.
Kalau ingin tahu lebih banyak tentang sistem pendidikan di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.