Di pesantren, ada satu momen yang selalu disambut dengan antusiasme yang tidak bisa disembunyikan — ketika nama santri dipanggil untuk mengambil paket dari rumah. Momen itu bisa terjadi kapan saja, tapi reaksinya selalu sama: mata berbinar, langkah cepat ke pos penerimaan, dan senyum lebar saat memegang kardus yang sudah ditunggu berhari-hari. Tapi ceritanya tidak berhenti di situ. Justru bagian paling indahnya terjadi setelah kardus itu dibawa masuk ke kamar.
Apa yang biasanya ada di dalam paket dari rumah?
Isinya bermacam-macam, tergantung dari mana santri itu berasal dan apa yang dirindukan dari rumah. Ada yang menerima rendang kering buatan ibu yang dibungkus rapat supaya tahan lama. Ada yang mendapat kerupuk ikan dari kampung di pesisir. Ada yang dibawakan dodol khas daerahnya. Ada juga yang isinya sesederhana sabun mandi dan pasta gigi — tapi tetap disambut dengan kegembiraan yang sama karena yang penting bukan isinya, tapi perasaan bahwa seseorang di rumah masih memikirkannya.
Kadang ada surat kecil dari ibu yang diselipkan di antara bungkusan. Beberapa baris kalimat sederhana — jaga kesehatan, rajin sholat, ibu doakan selalu. Surat itu biasanya dibaca diam-diam di sudut kamar, dilipat rapi, dan disimpan di bawah bantal. Teman sekamar yang melihat biasanya pura-pura tidak tahu, karena mereka mengerti bahwa momen itu privat.
Mengapa tradisi membagikan isi paket begitu istimewa?
Begitu kardus dibuka di kamar, sesuatu yang indah terjadi tanpa perlu dikomandoi. Santri yang menerima paket langsung membagikan sebagian isinya kepada teman sekamar. Bukan karena ada aturan tertulis. Bukan karena disuruh wali kamar. Tapi karena hidup bersama selama berbulan-bulan telah menumbuhkan insting untuk membagikan kebahagiaan.
Satu potong rendang dipotong kecil-kecil supaya semua kebagian. Satu bungkus kerupuk dibuka dan diletakkan di tengah kamar supaya siapa saja yang lewat bisa mengambil. Kue kering diedarkan dari satu kasur ke kasur lain sampai toples kosong kembali ke pemiliknya.
Yang paling menyentuh adalah ketika santri membagikan makanan kepada teman yang jarang mendapat paket dari rumah. Bukan dengan cara yang mencolok atau membuat teman merasa dikasihani. Tapi dengan cara yang sangat natural — “nih cobain, enak loh” — seolah ia yang sedang meminta tolong untuk menghabiskan makanannya.
Kehalusan itu bukan diajarkan di kelas mana pun. Ia tumbuh dari empati yang terbentuk karena hidup berdampingan setiap hari.
Apa yang dipelajari santri dari tradisi ini?
Bahwa kebahagiaan bertambah ketika dibagikan. Ini bukan kalimat klise di pesantren — ini pengalaman nyata yang dirasakan setiap kali paket datang. Rendang yang dimakan sendiri terasa enak. Tapi rendang yang dimakan bersama teman sekamar sambil ngobrol dan tertawa terasa berkali-kali lipat lebih nikmat.
Santri juga belajar tentang keikhlasan. Membagikan makanan dari rumah berarti mengurangi porsi untuk diri sendiri. Tapi justru pengurangan itulah yang membuat mereka merasa lebih kaya — kaya dalam persahabatan, kaya dalam rasa syukur, kaya dalam perasaan bahwa ia punya orang-orang yang bisa ia bahagiakan dengan hal sesederhana sepotong kue.
Ada juga pelajaran tentang keberagaman budaya yang muncul dari tradisi ini. Santri dari Padang mengenalkan rendang kepada temannya dari Jawa. Santri dari Makassar memperkenalkan coto kepada temannya dari Kalimantan. Ruang makan kecil di kamar asrama berubah menjadi pameran kuliner nusantara — dan semua orang jadi kaya pengetahuan tentang makanan dari daerah yang belum pernah mereka kunjungi.
Bagaimana kalau ada santri yang tidak pernah mendapat paket?
Di sinilah keindahan komunitas pesantren terlihat paling jelas. Santri yang jarang atau tidak pernah mendapat paket tidak pernah benar-benar merasa tertinggal. Karena setiap kali teman sekamarnya mendapat paket, ia selalu kebagian. Bukan sisa. Bukan belas kasihan. Tapi bagian yang setara dengan yang lain.
Kadang, tanpa diminta, santri yang sering mendapat paket diam-diam meminta orang tuanya mengirimkan porsi lebih supaya temannya juga bisa menikmati. Orang tua yang memahami biasanya dengan senang hati menambahkan — karena mereka tahu bahwa di pesantren, anak mereka bukan hanya hidup untuk dirinya sendiri.
Mengapa momen ini menjadi salah satu kenangan terbaik di pesantren?
Karena momen menerima paket dari rumah adalah campuran sempurna dari beberapa perasaan terbaik yang bisa dialami manusia — rindu yang terjawab, kegembiraan yang tulus, dan kebahagiaan membagikan sesuatu kepada orang-orang yang disayangi.
Di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, suasana asrama yang hangat dan sistem pengasuhan yang memperhatikan kesejahteraan setiap santri menciptakan lingkungan di mana tradisi-tradisi indah seperti ini tumbuh secara alami. Bukan karena diprogramkan, tapi karena nilai kebersamaan dan saling peduli sudah menjadi udara yang dihirup santri setiap hari.
Kelak, ketika alumni menerima paket di tempat kos atau di rumah barunya, ia akan teringat satu hal — bahwa paket paling membahagiakan bukan yang paling besar atau paling mahal, tapi yang dibuka bersama teman-teman di kamar asrama yang sempit, lalu dibagikan sampai habis sambil bercerita sampai larut malam.
Buat yang ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan santri dan suasana asrama di pesantren, bisa langsung ngobrol lewat WhatsApp 0812111180. Setiap pertanyaan selalu dijawab dengan hangat.