Salah satu hal yang paling membedakan pesantren dari model pendidikan lain adalah sistemnya yang berjalan dua puluh empat jam. Bukan berarti anak belajar tanpa henti — tapi seluruh waktu yang dijalani santri, dari bangun tidur sampai menjelang istirahat malam, berada dalam lingkungan yang dirancang untuk mendidik. Apakah sistem ini cocok untuk semua anak? Belum tentu. Tapi memahami bagaimana sistem ini bekerja bisa membantu orang tua mengambil keputusan yang lebih tepat.
Apa artinya pendidikan 24 jam?
Istilah ini sering disalahpahami sebagai belajar tanpa istirahat. Kenyataannya jauh dari itu. Santri tetap punya waktu bermain, berolahraga, bersantai, dan bersosialisasi. Yang dimaksud pendidikan 24 jam adalah bahwa setiap aktivitas dalam keseharian santri — termasuk yang terlihat sepele — punya nilai pendidikan di dalamnya.
Merapikan tempat tidur sendiri setiap pagi. Antri kamar mandi dengan tertib. Makan bersama di waktu yang sudah ditentukan. Menjaga kebersihan kamar melalui jadwal piket. Hal-hal kecil ini bukan sekadar aturan — ini adalah cara pesantren membentuk kebiasaan tanpa harus menceramahi.
Apakah semua santri langsung menghayati ini? Tentu tidak. Ada yang butuh waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, untuk terbiasa. Dan itu wajar. Proses pembentukan kebiasaan memang tidak pernah instan.
Seperti apa ritme harian yang dijalani santri?
Pagi dimulai dengan ibadah bersama, dilanjutkan sarapan, lalu masuk kelas. Di kelas, santri belajar berbagai mata pelajaran — matematika, bahasa Arab, sains, fiqih, bahasa Inggris, nahwu — semuanya dalam satu jadwal tanpa pemisahan antara pelajaran agama dan umum.
Sore hari diisi dengan kegiatan ekstrakurikuler. Pilihannya cukup beragam — dari olahraga seperti pencak silat Tapak Suci dan panahan, sampai kegiatan kreatif seperti desain grafis, teater, dan jurnalistik. Tidak semua santri langsung menemukan kegiatan yang cocok di awal. Kadang perlu mencoba beberapa hal dulu sebelum menemukan yang paling sesuai.
Malam hari ada waktu belajar mandiri dan mengaji. Setelah itu waktu istirahat. Jadwal ini konsisten setiap hari, dengan variasi di akhir pekan untuk kegiatan yang lebih santai.
Kepadatan jadwal ini memang menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian anak — terutama di awal. Tapi banyak santri yang seiring waktu justru merasa lebih terstruktur dan produktif dibandingkan sebelumnya. Meskipun tentu ada juga yang butuh penyesuaian lebih lama.
Apa dampaknya terhadap tumbuh kembang anak?
Dari sisi kemandirian, dampaknya cukup terlihat. Anak-anak yang terbiasa mengatur jadwalnya sendiri, mencuci pakaian sendiri, dan mengelola uang sakunya sendiri setiap pekan — secara bertahap — membangun kapasitas yang berguna untuk kehidupan selanjutnya.
Dari sisi sosial, hidup bersama ratusan teman sebaya mengajarkan banyak hal yang sulit didapat di lingkungan rumah. Cara menyelesaikan perselisihan kecil. Cara menghargai orang yang berbeda latar belakang. Cara hidup dalam komunitas yang punya aturan bersama. Tentu ada dinamika yang tidak selalu mulus — tapi justru dari situlah keterampilan sosial tumbuh secara nyata.
Dari sisi spiritual, kebiasaan ibadah yang dijalani secara kolektif setiap hari membentuk ritme yang lambat laun menjadi bagian dari diri santri. Apakah semua santri menjadi pribadi yang sempurna secara spiritual? Tentu tidak. Tapi fondasi kebiasaan yang terbentuk sejak remaja biasanya cukup kuat untuk dibawa ke kehidupan selanjutnya.
Dari sisi akademik, sistem terpadu yang memadukan kurikulum agama dan umum memberikan paparan yang luas. Ditambah lingkungan bilingual yang membiasakan santri berkomunikasi dalam bahasa Arab dan Inggris. Hasilnya bervariasi antar individu — ada yang menonjol di akademik, ada yang lebih berkembang di bidang lain. Dan keduanya tidak apa-apa.
Apakah sistem ini cocok untuk semua anak?
Jujur, tidak semua anak cocok dengan sistem pendidikan 24 jam. Ada anak yang berkembang pesat di lingkungan terstruktur seperti pesantren. Ada juga yang lebih cocok dengan model pendidikan yang memberi ruang lebih longgar. Tidak ada yang salah dengan keduanya — ini soal kecocokan, bukan soal mana yang lebih baik.
Yang bisa dilakukan orang tua adalah mencari informasi selengkap mungkin, berkunjung langsung, dan kalau memungkinkan melibatkan anak dalam proses pengambilan keputusan. Anak yang merasa dilibatkan biasanya lebih siap menjalani apapun yang dipilih.
Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat, menjalankan sistem pendidikan 24 jam ini selama lebih dari tiga dekade. Dengan segala kelebihan dan keterbatasan yang terus diupayakan perbaikannya, pesantren ini terbuka bagi siapa saja yang ingin melihat langsung bagaimana sistem ini berjalan dalam keseharian.
Kunjungan bisa dilakukan kapan saja tanpa janji. Datang di hari biasa justru lebih baik — supaya bisa melihat suasana yang sesungguhnya, bukan yang disiapkan untuk tamu.
Kalau ingin bertanya lebih dulu, bisa menghubungi WhatsApp 0812111180.
Tim penerimaan akan berusaha menjawab sejujur mungkin, termasuk soal hal-hal yang mungkin belum sempurna. Karena kepercayaan orang tua lebih berharga daripada kesan pertama yang dipoles.