Ada satu hari dalam minggu pertama mondok yang jarang diceritakan santri kepada orang tuanya saat menelepon. Bukan karena buruk. Justru karena terlalu sulit untuk diungkapkan lewat kata-kata. Hari Jumat pertama. Sholat Jumat pertama di masjid pesantren. Di antara ribuan orang yang berdiri dalam satu shaf, dan untuk pertama kalinya, anak itu merasa menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri.
Suasana masjid pesantren di hari Jumat berbeda dari hari-hari biasa.
Masjid yang biasanya terasa luas tiba-tiba penuh sesak. Shaf-shaf terisi rapat dari depan sampai belakang. Santri dari semua jenjang berkumpul di satu tempat yang sama — yang paling kecil duduk di barisan depan, yang paling besar di belakang. Semua mengenakan pakaian putih bersih. Tidak ada suara selain gema suara imam yang memulai khutbah.
Bagi santri yang baru pertama kali mengalaminya, momen itu bisa terasa sangat asing sekaligus sangat tenang.
Di rumah, sholat Jumat biasanya dilakukan di masjid kampung yang tidak terlalu ramai. Mungkin bersama ayah dan beberapa tetangga. Suasananya akrab tapi biasa. Di pesantren, skala dan intensitasnya berubah total. Jumlah jamaah bisa mencapai ribuan. Suara takbir yang terdengar dari ribuan mulut secara bersamaan menciptakan getaran yang tidak bisa ditiru di tempat lain. Anak yang biasanya sholat sambil masih memikirkan hal lain, di momen itu, untuk pertama kalinya benar-benar hadir sepenuhnya.
Apa yang terjadi di dalam diri santri saat itu?
Sulit untuk menjelaskannya secara tepat. Mungkin itu campuran dari banyak hal sekaligus — rindu rumah yang masih terasa, rasa takjub melihat begitu banyak orang berdoa di waktu yang sama, dan sesuatu yang lebih halus dari semua itu. Perasaan bahwa meskipun dia jauh dari keluarga, dia tidak sendirian.
Khutbah Jumat di pesantren biasanya disampaikan dalam bahasa yang bisa dipahami santri. Bukan bahasa yang berat dan penuh istilah rumit. Ustadz yang menyampaikan khutbah sering kali mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari — bersyukur atas hal-hal kecil, menjaga hubungan baik dengan teman, atau bagaimana ibadah dan kehidupan berjalan berdampingan tanpa harus dipisahkan.
Santri yang tadinya menunduk karena mengantuk perlahan mengangkat kepala. Ada kalimat yang tiba-tiba terasa tepat mengenai sesuatu yang sedang dipikirkannya.
Momen setelah sholat Jumat punya ketenangan tersendiri.
Setelah salam, masjid tidak langsung kosong. Banyak santri yang tetap duduk sejenak, membaca doa atau sekadar diam. Ada jeda singkat sebelum hiruk-pikuk kehidupan pesantren kembali berjalan. Jeda itu mungkin hanya beberapa menit, tapi bagi sebagian santri, itu adalah momen paling tenang dalam seluruh minggu mereka.
Kakak kelas yang sudah lebih lama mondok biasanya tidak membuat momen ini menjadi besar. Mereka tidak bertanya atau memberikan penjelasan spiritual yang panjang. Cukup dengan menepuk pundak dan mengajak makan siang bersama. Kesederhanaan itu justru yang membuat segalanya terasa lebih natural.
Kenapa pengalaman ini membentuk hubungan santri dengan ibadah untuk selamanya?
Sholat Jumat di pesantren mengajarkan sesuatu yang tidak bisa diajarkan lewat ceramah atau buku. Ibadah bukan hanya urusan pribadi. Berdiri di antara orang-orang yang punya niat yang sama menciptakan energi yang mengubah cara seseorang memandang doanya sendiri. Santri yang sebelumnya menjalankan ibadah karena diperintahkan perlahan mulai menjalankannya karena merasakan langsung dampaknya.
Perubahan itu tidak terjadi dalam satu Jumat. Butuh berbulan-bulan, kadang bertahun-tahun. Tapi hampir semua alumni sepakat bahwa ada satu momen di awal masa mondok mereka ketika sesuatu bergeser di dalam dada — dan sholat Jumat pertama itu sering kali menjadi salah satu pemicunya.
Di Darunnajah 2 Cipining, masjid bukan hanya tempat ibadah. Itu adalah pusat kehidupan seluruh santri. Segala hal yang terjadi di pesantren bermula dan berakhir di sana.
Ada hal-hal yang memang tidak bisa kita jelaskan kepada anak sebelum mereka mengalaminya sendiri. Sholat Jumat pertama di pesantren adalah salah satunya.
Kalau ingin mengetahui lebih banyak tentang kehidupan dan suasana pesantren, bisa langsung datang berkunjung atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.