Shalat Sunnah Tarawih: Sejarah Dan Tata Cara Pelaksanaannya
Menu

Shalat Sunnah Tarawih: Sejarah Dan Tata Cara Pelaksanaannya

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan berikut ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor Jawa Barat. Dengan tema “Shalat Sunnah Tarawih: Sejarah Dan Tata Cara Pelaksanaannya”

Pada kesempatan yang lalu telah dijelaskan tentang shalat muqayyad bil waqt, yaitu shalat Witir. Sekarang tibalah gilirannya ustadz menjelaskan tentang shalat Tarawih. Orang mengatakan shalat Tarweh. Kata-kata “Tarawih” merupakan bentuk jama’ dalam bahasa arab yang bentuk mufrad (kalimat tunggal)-nya adalah “tarwihatun”. Tarwihatun artinya istirahat/santai. Shalat Tarawih adalah shalat yang santai atau yang ada istirahatnya.

Ini berbeda dengan yang salah dipahami sebagian orang bahwa shalat Tarawih adalah shalat yang ngebut, tidak santai, tergesa-gesa, serta mengejar bagaimana supaya bisa mencapai 20 rakaat. Bacaannya pun yang penting bunyi, tidak peduli apakah harus panjang atau pendek, yang penting ada suaranya dan cepat selesai. Sedangkan Rasulullah SAW dalam melaksanakan shalat Tarawih itu untuk sepuluh rakaat saja membaca surat al-Baqarah yang cukup panjang sekali. Shalat Tarawih ini berdirinya lama karena bacaannya panjang, pelan, dan tidak ngebut.

Kita sebagai santri yang merupakan sumber informasi agama hendaknya mengembalikan Tarawih sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Rujukannya adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat. Rasulullah SAW memang belum pernah melakukan shalat Tarawih sebulan penuh. Rasulullah SAW melaksanakan shalat tarawih hanya 3 hari saja. Itu pun tidak diawal bulan. Ketika itu Rasulullah SAW malam-malam pada bulan puasa pergi ke masjid. Para sahabat melihat Rasulullah SAW mengerjakan shalat. Mereka ikut di belakang beliau sebagai makmum begitu saja seperti biasanya. Pada malam berikutnya Rasulullah SAW keluar lagi. Beliau melaksanakan shalat lagi. Jumlahnya shahabat yang ikut shalat lebih banyak daripada malam sebelumnya. Ternyata tersebar informasi bahwa Rasulullah SAW ba’da Isya’ malam-malam keluar ke masjid untuk menunaikan shalat. Pada hari itu pun semakin banyak yang menunggu di masjid untuk melakukan shalat bersama Rasulullah SAW Akan tetapi Rasulullah SAW tidak datang. Pada keesokan harinya para sahabat bertanya-tanya. Ternyata memang Rasulullah SAW sengaja tidak datang ke masjid karena Rasulullah SAW khawatir kalau shalat yang dilakukannya di masjid itu diwajibkan. Kalau shalat itu diwajibkan, maka itu berat bagi umatnya. Itulah Rasulullah SAW Beliau selalu sayang kepada umatnya.

Di zaman Rasulullah SAW kalau malam Rasulullah SAW biasa melakukan shalat witir, shalat sunah mutlak, dan sebagainya. Ketika Abu Bakar ra. meninggal kepemimpinan dilanjutkan oleh Khalifah Umar bin Khatthab ra. Ketika Umar bin Khatthab ra. pada bulan Ramadhan pergi ke masjid pada malam hari, ternyata di mana-mana banyak yang melakukan shalat; di situ ada yang jama’ah lima orang, di tempat lain ada yang jama’ah dua orang; yang satu shalat diikuti oleh orang yang berada di belakangnya. Di sana mengucapkan, “Amin,” di sini juga mengucapkan, “Amin.” Tidak sama serentak. Tapi yang jelas pada malam itu di masjid orang-orang ramai melaksanakan shalat. Orang-orang itu pun dikumpulkan oleh Umar bin Khatthab ra. kemudian beliau menyampaikan, “Bagaimana kalau kita shalat jangan sendiri-sendiri seperti ini, kelompok-kelompok seperti ini. Kalau seperti ini kan ramai dan mengganggu kekhusyukan. Bagaimana kalau imamnya satu saja?” Ditunjuklah seorang imam, yaitu Ubay bin Ka’ab ra. Orang-orang senang atas penunjukan Ubay bin Ka’ab ra. karena suaranya relatif merdu dibandingkan dengan yang lain. Kita kan mempunyai suara yang macam-macam; ada yang standard, ada yang tidak standard. Para sahabat gembira atas penunjukan Ubay bin Ka’ab ra. sebagai imam. Akhirnya di situ pada zaman Umar bin Khatthab ra. orang-orang melakukan shalat Tarawih 20 rakaat ditambah shalat Witir 3 rakaat.

Setelah Umar bin Khatthab ra. meninggal kepemimpinan digantikan oleh Utsman bin Affan ra. Utsman bin Affan ra. juga melakukannnya 20 rakaat ditambah 3 rakaat shalat Witir. Demikian pula ketika khalifah Utsman meninggal dan dilanjutkan oleh Ali bin Thalib ra. Pada zaman tabi’in dan tabi’it tabi’in juga seperti itu. Hingga sekarang masjid-masjid besar di negara-negera Islam melakukan Tarawih 20 rakaat ditambah 3. Ada juga yang melakukan shalat Tarawih bukan 20 rakaat, tetapi 36 rakaat ditambah Witir 3 rakaat. Jadi banyak sekali.

Alasannya, kalau di Makkah setelah shalat Tarawih 4 rakaat orang-orang melakukan Thawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 putaran. Setelah selesai 7 putaran mereka melaksanakan shalat lagi 4 rakaat. Setelah dapat 4 rakaat mereka melakukan Thawaf lagi. Orang-orang Madinah berkata, “Kalau begitu kita di Madinah hanya sedikit.” Maka sebagai ganti Thawaf ditambah 2 rakaat. Sehingga hitungannya menjadi 36 rakaat ditambah Witir 3 rakaat. Ada juga yang melakukan 49 rakaat.

Sekarang dari sisi waktunya. Kapan shalat tarawih itu? Sebenarnya waktunya sama dengan shalat Witir, yaitu sejak shalat Isya’ sampai terbit fajar. Hanya saja kalau kita mau melaksanakan shalat Tarawih dan juga Witir, maka yang harus didahulukan adalah Tarawihnya. Andaikata kita sudah shalat Tarawih dan Witir di masjid, kemudian kita mau menambah shalat lagi boleh atau tidak? Boleh-boleh saja.

Shalat Tarawih itu pelaksanaannya bagaimana? Kemarin telah disampaikan bahwa Rasulullah SAW menyatakan,

صلاة الليل مثنى مثنى

Bahkan Rasulullah SAW mengatakan,

صلاة الليل والنهار مثنى مثنى

Shalat malam dan siang itu dua-dua. Itu berarti bahwa shalat Tarawih itu setiap dua rakaat salam. Caranya seperti itu.

Waktu melaksanakannya boleh di awal waktu sebagaimana kita ini. Kita melakukan shalat Tarawih di awal waktu. Shalat Tarawih juga boleh dilakukan di tengah malam. Misalnya, jam 11 sampai jam 1. Itu boleh-boleh saja. Dan boleh juga dilakukan di akhir malam. Silahkan melihat maslahat masing-masing. Kalau kita di sini biasanya melakukan shalat Tarawih di awal malam ba’da Isya’ dengan berjama’ah, maka ikutilah shalat Tarawih ba’da Isya dengan berjama’ah. Andaikata mau dilakukan pada akhir malam boleh atau tidak? Boleh-boleh saja. Orang yang ingin sekaligus bangun malam untuk shalat malam sampai subuh – artinya melakukannya di akhir malam sekalian ibadah di Lailatul Qadar, – sebaiknya memang sepertiga malam yang akhir, karena Lailatul Qadar itu sampai terbit fajar, bukan di awal malam. Inilah masalah shalat tarawih.

Kalau di siang hari kita puasa bisa mengampuni dosa-dosa yang telah lampau yang kita lakukan, ternyata shalat Tarawih yang kita lakukan juga bisa menghapuskan dosa. Sabda Rasul SAW yang terkenal,

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barangsiapa yang puasa Ramadhan atas dasar keimanannya dan mengharapkan balasan dari Allah, maka dosa-dosanya yang lampau akan diampuni oleh Allah.”

Rasulullah SAW juga menyatakan,

من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

Qama Ramadhan berbeda dengan Shama Ramadhan. “Shama ramadhan” artinya puasa di bulan Ramadhan. Sedangkan “qama ramadhan” artinya melakukan qiyamullail di bulan Ramadhan. Apa qiyamullail itu? Qiyamullail itu shalat, bukan puasa. Tidak ada puasa pada malam hari. Shalat di malam Ramadhan bisa menghapuskan dosa-dosa kita yang telah lampau. Inilah tentang shalat Tarawih.

Bagaimana kita melakukan shalat Tarawih? Rasulullah SAW melakukan shalat Tarawih yang diikuti oleh para sahabat di masjid hanya 8 rakaat ditambah dengan 3 rakaat shalat Witir. Jadi jumlah rakaat yang diikuti oleh para sahabat adalah 11 rakaat. Tetapi Umar bin Khatthab ra. tidak melakukan shalat 11 rakaat seperti Rasulullah SAW Apakah kalau kita melakukan shalat Tarawih 23 rakaat dengan Witir itu bid’ah yang tidak diterima oleh Allah Swt. bahkan masuk neraka? Tidak demikian. Kita melakukan shalat Tarawih 8 rakaat ditambah 3 rakaat boleh-boleh saja, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW waktu berjama’ah. Andaikata kita melakukan shalat 20 rakaat ditambah 3 rakaat menjadi 23 rakaat, itu juga boleh saja. Rasulullah SAW sudah menyatakan,

عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي عضوا عليها بالنواجذ

“Wajib bagi kamu mengikuti apa yang telah aku lakukan dan wajib bagi kamu mengikuti sunah-sunah (perbuatan-perbuatan) yang sudah dilakukan oleh khalifah yang empat (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali).” Kita diperintahkan mengikuti apa yang dilakukan oleh empat khalifah ini. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah Swt. dan sudah dijanjikan oleh Allah Swt. masuk surga. Bahkan Rasulullah SAW berpesan, “Pegang teguhlah, gigitlah dengan gerahammu.” Artinya, pegang dengan sungguh-sungguh, jangan sampai kita tidak mengikutinya.

Jadi ketika kita di rumah, yang di situ jama’ahnya melakukan shalat Tarawih 8 rakaat ditambah 3 rakaat, kita ikut saja, karena kita menjadi makmum. Ketika kamu berjama’ah di masjid yang di situ shalat Tarawihnya 20 rakaat ditambah 3 rakaat, kamu ikut saja. Namanya juga ibadah. Tidak ada yang paling benar dan yang salah. Keduanya dibenarkan oleh Rasulullah SAW Yang mengikuti Rasulullah SAW benar. Yang mengikuti orang-orang yang dipercaya oleh Rasulullah SAW – khulafaur rasyidin – juga dibenarkan dalam agama. Kalau itu bid’ah yang dilarang, Umar, Utsman, dan Ali yang dilanjutkan oleh tabi’in dan tabi’it-tabi’in, mereka tidak akan berani melakukan itu. Apalagi pengetahuan mereka cukup tinggi. Mereka cukup dekat dengan Rasulullah SAW Mereka tidak akan berani melakukan yang dilarang. Tetapi mereka – orang-orang yang sudah dijamin masuk surga – melakukan hal itu, yang berarti bahwa itu boleh-boleh saja.

Sebagai santri Darunnajah Cipining hendaknya kalian mempunyai wawasan luas. Jangan sampai kalian nanti di kampung berkelahi gara-gara shalat Tarawih ada yang 8 ditambah 3 dan ada yang 20 ditambah 3. Yang 8 ditambah 3 mengaku lebih benar. Demikian pula yang 20 ditambah 3 mengaku lebih banyak pahalanya. Tidak usah seperti itu. Yang penting dalam shalat itu ikhlas. Jangan menyalahkan pihak lain.

Shalat Tarawih disunahkan berjama’ah. Sekalipun Rasulullah SAW shalat Tarawih berjama’ah hanya sebentar, kita disunahkan melakukan shalat Tarawih dengan berjama’ah. Sebuah hadits diriwayatkan oleh Aisyah,

صلى رسول الله صلى عليه وسلم في المسجد فصلى بصلاته أناس كثير ثم صلى من القابلة فكثروا ثم اجتمعوا من الليلة الثالثة فلم يخرج إليهم فلما أصبح قال : قد رأيت صنيعكم فلا يمنعني من الخروج إليكم إلا أني خشيت أن تفرض عليكم

Suatu hari Rasulullah SAW melaksanakan shalat Tarawih di masjid. Pada saat itu orang-orang banyak yang mengikuti shalat Rasul itu. Pada hari berikutnya Rasulullah SAW shalat lagi di situ. Ternyata jumlah yang mengikuti shalat lebih besar daripada malam sebelumnya. Pada malam ketiga mereka bersiap-siap untuk melakukan shalat bersama Rasulullah SAW di masjid itu. Jumlahnya juga lebih besar dibandingkan dengan jumlah sebelumnya. Sayang pada hari ketiga ini Rasulullah SAW tidak keluar ke masjid. Setelah subuh berlalu, pada pagi harinya Rasulullah SAW menjawab pertanyaan mereka. Beliau menjelaskan kenapa tidak ke masjid. “Saya telah melihat apa yang kalian perbuat di masjid tadi malam. Tidak ada yang mencegah saya ke masjid selain saya khawatir kalau shalat tarawih akan menjadi wajib bagi kalian.” Rasulullah SAW tidak ke masjid karena takut kalau Tarawih ini dianggap sebagai shalat yang wajib. Dua hari Rasulullah SAW melakukan shalat Tarawih di masjid. Pada hari ketiganya Rasulullah SAW tidak melakukan shalat Tarawih di masjid.

Jadi pada bulan puasa Rasulullah SAW keluar ke masjid melakukan shalat. Para sahabat yang ada di masjid pun ikut shalat. Tersebarlah berita bahwa Rasulullah SAW melakukan shalat malam di masjid. Pada hari berikutnya semakin banyak para sahabat yang berdatangan ingin ikut shalat di masjid. Pada hari ketiga lebih besar lagi jumlahnya, tetapi Rasulullah SAW tidak keluar ke masjid. Pada pagi harinya Rasulullah SAW menyatakan, “Saya tahu apa yang kalian lakukan semalam. Sebenarnya tidak ada yang menghalangiku ke masjid. Saya tidak sakit. Saya juga tidak ada kesibukan-kesibukan lain. Saya hanya takut kalau nanti shalat saya di masjid ini yang kalian ikuti menjadi wajib.” Rasulullah SAW memang tidak keluar ke masjid dan melakukan shalat Tarawih di rumah. Dan pada tahun berikutnya Rasulullah SAW meninggal dunia. Jadi hanya itu Tarawih Rasulullah SAW Pada zaman Abu Bakar masih seperti itu juga; kadang-kadang di masjid, kadang-kadang tidak. Tetapi bukan berarti kalau para sahabat tidak shalat di masjid, mereka tidur di rumah. Mereka tetap melakukan shalat. Di rumah mereka melakukan shalat.

Pada masa berikutnya, yaitu di zaman Umar bin Khatthab ra., orang-orang juga melakukan shalat malam di masjid seperti pada zaman Rasul SAW Ada juga yang shalat malamnya di rumah. Tetapi di zaman Umar bin Khatthab ra. ini, Umar bin Khatthab ra. juga keluar ke masjid. Beliau menyaksikan shalat begitu gaduh; di sini shalat, di sana shalat, ada yang sedang ruku’, ada yang mulai takbir, ada yang sujud, ada yang mengucapkan, “Amin”. Semuanya sepertinya tidak rapi, tidak tertib. Maka oleh Umar bin Khatthab ra. ditertibkan. Pada saat itu juga ditetapkan imamnya. Kita sama-sama bisa bersuara, tapi suara kita kan berbeda-beda. Kita menyanyi lagu “Oh pondokku” saja tidak bisa-bisa. Ada yang enak didengar. Ada yang suaranya menyakitkan seperti knalpot rusak. Maka di zaman Umar bin Khatthab ini dipilihlah orang yang suaranya standard, yang merdu. Orang-orang menunjuk Ubay bin Ka’ab ra. yang kemudian disepakati oleh Umar bin Khattab ra. sebagai imam. Hal itu dikisahkan dalam sebuah atsar,

قال عبد الرحمن بن عبد القاري : خرجت مع عمر ليلة في رمضان فإذا الناس أوزاع متفرقون يصلي الرجل لنفسه ويصلى الرجل فيصلي بصلاته الرهط ، فقال عمر : إني أرى لو جمعت هؤلاء على قارئ واحد لكان أمثل ثم عزم فجمعهم على أبي بن كعب . ثم خرجت معه ليلة أخرى والناس يصلون بصلاة قارئهم ، قال عمر : نعمت البدعة هذه ، والتي ينامون عنها أفضل من التي يقومون وكان الناس يقومون أوله . رواه البخاري وابن خزيمة والبيهقي وغيرهم

Abdurrahman berkata, “Saya di bulan puasa keluar bersama Umar bin Khatthab ra. ke masjid. Ketika itu kami melihat orang-orang sedang melakukan shalat. Tapi antara yang satu dengan yang lain berbeda. Ada yang shalat sendirian. Ada yang shalat diikuti banyak orang di belakangnya; ada yang diikuti satu atau dua baris, ada yang diikuti mungkin sampai berlapis-lapis barisannya.” Ini yang dilihatnya. Pada saat itu Umar berkata kepada mereka, jama’ah yang melakukan shalat itu, “Saya berpendapat sekiranya mereka dikumpulkan untuk shalat dengan satu imam yang ahli betul di dalam membaca al-Quran, saya kira ini akan lebih baik.” Mereka setuju dengan hal itu. Maka ditetapkanlah Ubay bin Ka’ab ra. sebagai imam. Jadi seorang sahabat yang ditunjuk oleh Umar bin Khattab ra. untuk menjadi imam Tarawih siapa namanya? Ubay bin ka’ab. Dia termasuk orang yang bacaannya bagus. Kata Abdurrahman, “Pada malam yang lain saya keluar lagi bersama Umar bin Khatthab ra. sedangkan orang-orang melakukan shalat diimami oleh Ubay bin Ka’ab. Terlontarkan kata-kata Umar bin Khattab, ‘Ini adalah sebaik-baik bid’ah.’” Karena Rasulullah SAW tidak melakukan seperti ini maka ini dikatakan sebaik-baik sesuatu yang baru. Sekarang, orang yang pada saat itu tidak shalat di masjid, ia tidur saja untuk shalat pada akhir malam, itu boleh saja. Itu afdhal, lebih baik. Shalatnya tidak karena malas seperti kita. Tetapi shalatnya karena dia ingin shalat di akhir malam sekalian mengharapkan Lailatul Qadar. Ini dibilangnya afdhal. Tetapi andaikata kita melakukan shalat di awal malam dan pada akhir malam kita bangun lagi untuk shalat, saya kira itu juga boleh-boleh saja. Orang-orang banyak yang melakukan shalat Tarawih di awal malam. Bahkan di Makkah dan Madinah pun sampai sekarang shalat Tarawih dilakukan ba’da Isya’ sekalipun ada satu atau dua orang yang shalat tarawihnya malam, tetapi kebanyakan dilakukan ba’da Isya’.

Tulisan ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor Jawa Barat. Dengan tema “Shalat Sunnah Tarawih: Sejarah Dan Tata Cara Pelaksanaannya”

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
Pondok Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14 Serang Banten

Idul Adha Di Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14

Pada perayaan Hari Raya Idul Adha 1441 H, Pondok Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14 melaksanakan kurban dengan menyembelih sebanyak 2 ekor sapi dan 28 ekor

blank
Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Peran Orang Tua Dalam Pembelajaran Jarak Jauh

Adanya Pandemi Covid-19 mengharuskan para anak-anak harus mengikuti pembelajaran jarak jauh, dengan begitu dukungan orang tua atau wali murid menjadi sangat penting bagi keberlanjutan pendidik