Semangat Berpuasa

Semangat Berpuasa

Alkisah ada seorang anak kecil yang meminta izin pada ibunya untuk berpuasa sebagaimana orang-orang berpuasa. Oleh ibunya tidak diberikan izin, karena memang si anak ini kondisinya masih sangat kecil. Walaupun ibunya tidak mengijinkan, nampaknya sang anak ini memaksa terus. Dia ingin sekali berpuasa.

DSC_4041Waktu sahur tiba. Sang ibu pun makan sahur sendirian. Ia sengaja tidak membangunkan anaknya untuk makan sahur, karena ibunya tidak ingin anaknya ikut berpuasa dulu. Tetapi walaupun tidak dibangunkan ibunya, sang anak ini ternyata bangun. Kemudian ikutlah sang anak ini makan sahur bersama ibunya. Dan sang anak inipun berpuasa.

Pagi hari dilalui tanpa ada rasa lapar dan haus yang berarti. Siang hari, sang anak mulai merasakan dahaga dan lapar. Namun sang anak masih mempertahankan puasanya. Ia tidak mau mendengarkan nasehat ibunya untuk membatalkan puasanya karena masih belum kuat. Waktu ashar tiba, sang anak tiba-tiba terkulai lemas. Sang anak ini ternyata meninggal dunia.

Melihat kematian anaknya, tentu sang ibu sangat bersedih. Ia tidak percaya melihat kenyataan bahwa anaknya harus meninggal secepat itu. Ia hanya bias pasrah dan berusaha Bersabar dan Ridha dengan takdir-Nya.

Menjelang magrib, ketika sang ibu ini di rundung kesedihan. Datanglah seseorang tamu yang tidak dikenal. Tamu ini hendak meminta Ifthar (bukaan) kepada sang ibu. Kemudian si ibu ini menyediakan berbagai macam menu ifthar. Ketika sang tamu asing ini hendak berbuka, sang tamu melihat raut wajah sang ibu yang sedang berduka. Sang tamu penasaran dan ingin tahu penyebab kenapa si ibu bersedih. Kemudian si ibu menceritakan bahwa anak kecilnya baru saja meninggal.

ikk 6Mendengar penuturan sang ibu, si tamu asing ini ingin melihat kondisi anak tersebut. Namun sang ibu tidak mengijinkan. Tamu asing ini ternyata terus mendesak ingin dipertemukan. Dan si ibupun mengijinkan ia melihat anaknya yang sudah terbujur kaku. Melihat jasad sang anak, tamu asing ini duduk dan menengadahkan tangan sambil komat-kamit, seolah mengucapkan sesuatu. Tidak lama kemudian, ajaib! Sang anak kembali bangkit, hidup kembali. Si ibu sangat senang melihatnya, ia sangat bersyukur anaknya bisa selamat. Ia juga tidak percaya bahwa yang telah datang kepadanya adalah malaikat Allah yang diutus menjaditamunya. Sang ibu semakin yakin dengan Janji dan kasih sayang Allah swt.

Ramadhan adalah bulan yang Agung, bulan yang Mulia. Berpuasa adalah sebuah Jihad yang sangat besar. Seperti yang telah digambarkan pada kisah diatas, seorang anak kecil rela mempertaruhkan nyawanya hanya untuk bisa berpuasa. Namun apa yang kita sering jumpai dilingkungan kita, orang-orang yang sudah dewasa malah menyia-nyiakan puasa. Dia tidak melihat betapa besar keutamaan yang terkandung dalam bulan Ramadhan ini. Dia tidak bisa melihat betapa banyak keberkahan yang bisa kita ambil selama bulan puasa ini, seperti dalam sebuah hadits;

Dari Abu Mas’ud al-ghifari ra, bahwa saya mendengar Rasulullah saw bersabda; ‘Seandainya setiap hamba mengetahui apa yang ada dalam bulan Ramadhan, maka umatku akan berharap seandainya setahun itu bulan Ramadhan’. (HR Ibnu Huzaimah)

——–

Disampaikan kembali oleh ; Ust. Rosikhin, S.Pd.I

Pada Kultum Ramadhan di Masjid Jamik Darunnajah Cipining

Pendaftaran Santri Baru