Setiap Senin pagi, ada sesuatu yang berubah di seluruh lingkungan pesantren. Bukan jadwal, bukan menu makan, bukan kegiatan. Tapi bahasa. Dalam satu malam, bahasa yang digunakan seluruh santri berganti — dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Arab, atau dari Bahasa Arab ke Bahasa Inggris. Pergantian itu berlaku untuk semua orang, semua tempat, dan semua situasi, tanpa kecuali.
Bayangkan bangun tidur di pagi Senin, dan tiba-tiba seluruh dunia di sekitar kita bicara dalam bahasa yang berbeda dari kemarin.
Sistem ini bernama program bilingual. Arab dan Inggris bergantian setiap pekan. Bagi santri baru yang belum menguasai keduanya, Senin pagi bisa terasa membingungkan sekaligus menegangkan. Kalimat-kalimat yang kemarin bisa diucapkan dengan mudah tiba-tiba harus dicari padanannya dalam bahasa lain.
Mau minta garam di meja makan? Harus dalam bahasa Arab. Bertanya lokasi kelas berikutnya? Harus dalam bahasa Inggris. Cerita tentang mimpi semalam terpaksa ditunda dulu kalau kosakatanya belum dikuasai.
Hari pertama berganti bahasa selalu penuh kejadian yang tidak terduga.
Santri yang salah bahasa di tengah percakapan baru sadar setelah temannya mengingatkan sambil tertawa. Sebagian mencampur tiga bahasa dalam satu kalimat karena belum terbiasa. Yang lain memilih diam seharian karena malu salah bicara. Suasananya bukan tegang — justru penuh tawa. Kesalahan-kesalahan itu menjadi bahan candaan yang mempererat, bukan mempermalukan.
Kakak kelas yang sudah lebih fasih biasanya menjadi penerjemah dadakan di mana-mana. Di kantin, di lorong asrama, bahkan di lapangan olahraga. Mereka tidak menghukum adik kelas yang lupa. Cukup mengingatkan dengan cara yang ringan, kadang sambil bercanda.
Bagaimana proses itu akhirnya membentuk kemampuan berbahasa yang nyata?
Metode yang dipakai di pesantren berbeda dari pelajaran bahasa di sekolah pada umumnya. Di kelas, santri mempelajari tata bahasa dan kosakata secara formal. Tapi di luar kelas, mereka dipaksa menggunakannya dalam kehidupan nyata — untuk berbelanja di kantin, untuk berdiskusi dengan teman, untuk menyampaikan pengumuman di depan asrama. Bahasa bukan lagi mata pelajaran. Bahasa menjadi alat bertahan hidup sehari-hari.
Proses ini tidak nyaman di awal. Santri yang fasih berbicara dalam Bahasa Indonesia mendadak menjadi orang yang terbata-bata. Rasa percaya diri yang sudah terbangun harus dibangun ulang dalam bahasa baru. Tapi justru dari ketidaknyamanan itu kemampuan tumbuh dengan cepat. Dalam hitungan bulan, santri yang awalnya tidak bisa merangkai satu kalimat Arab sudah mampu berdebat dalam forum resmi.
Muhadharah — latihan berpidato tiga bahasa — menjadi ajang pembuktian.
Setiap santri mendapat giliran berpidato di hadapan seluruh asrama. Dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, dan Bahasa Inggris secara bergantian. Bagi yang belum terbiasa, berdiri di depan ratusan orang sambil mencari kata yang tepat dalam bahasa asing terasa menakutkan. Tapi setelah melewatinya, ada kepuasan yang sulit digambarkan.
Santri yang enam bulan lalu masih tidak bisa menyapa dalam Bahasa Arab sekarang berdiri tegak menyampaikan pidato lima menit tanpa teks. Perubahannya nyata. Bukan karena jenius. Tapi karena setiap hari, dari pagi sampai malam, bahasa itu mengelilinginya.
Dampak jangka panjang yang baru terasa setelah lulus.
Alumni pesantren sering bercerita bahwa kemampuan bahasa yang mereka dapat bukan hanya soal bisa berbicara Arab atau Inggris. Tapi soal keberanian menggunakan bahasa asing tanpa takut salah. Keberanian itu terbentuk dari pengalaman bertahun-tahun membuat kesalahan di depan teman, dikoreksi tanpa dihakimi, lalu mencoba lagi keesokan harinya.
Di dunia kerja, di kampus luar negeri, atau bahkan saat berkomunikasi dengan orang asing di jalan, alumni yang pernah melewati sistem ini punya keunggulan yang tidak terlihat di ijazah — mereka tidak takut bicara.
Di Darunnajah 2 Cipining, program bilingual sudah menjadi bagian dari identitas pesantren selama puluhan tahun. banyak santri melewati proses yang sama setiap pekan, dan setiap pekan selalu ada cerita baru yang lahir dari pergantian bahasa di hari Senin itu.
Kemampuan berbahasa asing bukan hanya tentang kosakata dan tata bahasa. Ini tentang keberanian yang dilatih setiap hari tanpa kita sadari sedang dilatih.
Kalau ingin tahu lebih banyak tentang program pendidikan dan kehidupan santri di pesantren, bisa langsung datang berkunjung atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.