SEKOLAH DI PESANTREN, WHY NOT?

Seringkali masyarakat meremehkan pendidikan pesantren. Ada stigma atau pandangan negatif yang melekat dalam benak masyarakat bahwa pesantren adalah tempat “pembuangan” anak-anak nakal untuk kemudian diperbaiki sehingga bisa menjadi baik kembali. Bahkan yang lebih menyedihkan adalah, anggapan bahwa pesantren merupakan tempat belajar para teroris.

Tentu, anggapan diatas tidaklah beralasan dan keliru. Di Pesantren, para santri belajar tentang perbedaan. Ya, sebab yang menuntut ilmu di pesantren bukan hanya berasal dari satu daerah saja, tapi juga berasal dari seluruh penjuru republik ini dari sabang hingga mereuke, bahkan ada juga yang berasal dari luar negeri. Mereka hidup bersama secara harmonis di asrama, saling berinteraksi satu sama lain meskipun berasal dari kultur yang berbeda. Sehingga mereka terbiasa hidup dalam perbedaan dan kebersamaan, sebagaimana Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, adat, dan agama. Islam pun mengajarkan bahwa perbedaan itu adalah rahmat yang harus kita sikapi dengan bijak. Bukankah perbedaan warna yang membuat pelangi itu menjadi indah?

Diakui atau tidak, tidak sedikit para tokoh, baik tingkat lokal maupun nasional, lahir dari lembaga pesantren. Prof. H.A. Mukti Ali, mantan Menteri Agama, pernah menyatakan bahwa “pesantren ya pesantren dan tidak pernah ada ulama yang lahir dari lembaga selain pesantren.” Apa yang dikatakan oleh Prof. H.A. Mukti Ali adalah kenyataan bahwa ulama Indonesia sebagian besar atau bahkan seluruhnya lahir dari pondok pesantren.

Pesantren telah melahirkan banyak pemimpin di negeri ini, sebut saja (alm) KH. Abdurrahman Wahid atau biasa yang akrab dengan panggilan Gus Dur. Presiden Indonesia yang ke 4 ini merupakan “jebolan” pondok pesantren. Beliau merupakan putra terbaik bangsa yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Selain beliau, ada juga nama seperti Hidayat Nur Wahid, Ketua MPR-RI periode 2004-2009, pun merupakan alumni dari pondok pesantren.

Tidak hanya di dunia politik, dalam bidang akademisi pun, pesantren banyak melahirkan tokoh-tokoh, antara lain; (alm) Prof. Dr. Nurcholish Madjid yang mendirikan Universitas Paramadina Jakarta, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Ramly Hutabarat, Rektor Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, M. Yudhi Haryono, Ph.D, Direktur Nusantara Center, penulis muda yang produktif, dan masih banyak nama lainnya.

Selain itu, pesantren juga banyak melahirkan pemimpin ummat dan ‘ulama, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PB NU) yang seringkali disebut-sebut sebagai organisasi massa terbesar di republik ini, nama lain yang tak kalah populernya adalah Prof. Dr. Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah, dan lain sebagainya. Ustadz Arifin Ilham, merupakan salah satu alumni Pesantren Darunnajah yang kini mengabdikan dirinya untuk kepentingan ummat.

Selain mengkaji ilmu-ilmu agama dari berbagai kitab, para santri juga mendapatkan pelajaran umum sebagaimana yang diajarkan di sekolah-sekolah umum; Biologi, Matematika, Fisika, Kimia, IPS, PKn, Komputer, Bahasa Indonesia dan sebagainya. Bahkan Pesantren Darunnajah Cipining, kini juga telah dilengkapi dengan fasilitas wi-fi atau hot spot sehingga para santri dan dewan guru bisa mengakses internet dengan mudah dan cepat.

Selain itu, kelebihan lain yang juga dimiliki oleh Pesantren Darunnajah Cipining adalah para santri diajarkan dan diharuskan menguasai dua bahasa internasional, yaitu, Bahasa Inggris, dan Bahasa Arab. Bahasa Arab dan Inggris merupakan dua bahasa sehari-hari yang digunakan untuk berkomunikasi baik di kelas maupun di luar kelas (asrama). Para santri mendapatkan pengajaran Bahasa Arab dan Inggris secara intensif oleh para pengurus dan dewan guru melalui berbagai macam kegiatan; ilqo’ mutaroodifat (pemberian kosakata), dan muhadatsah (conversation) merupakan sebagian kecil kegiatan yang menunjang santri untuk bisa menguasai bahasa internasional tersebut. Jadi, jangan pernah ragu untuk sekolah di Pesantren. Karena disinilah, awal kita melangkah menuju kesuksesan meraih cita-cita yang kita impikan. (wardan/dzikrillah).