
Pena kembali menjadi bekal utama para santri. Sabtu (19/9/2026), santri kelas 4 hingga 6 Tarbiyatul Mu’allimin al-Islamiyah (TMI) berkumpul di Lapangan Rumput Zaid. Mereka mengikuti pembukaan program penulisan autobiografi, resensi, dan paper. Dalam waktu sekitar satu bulan, setiap santri ditantang menuntaskan tugas menulis tersebut dengan cara penulisan yang baik dan benar.
Pembukaan program berlangsung sejak jam pelajaran pertama hingga jam pelajaran keempat. Pagi itu, lapangan rumput yang biasa menjadi tempat berolahraga berubah menjadi ruang belajar terbuka. Santri duduk menyimak setiap penjelasan tentang tugas yang akan mereka kerjakan. Kegiatan yang digelar di Pesantren Darunnajah 2 Cipining ini berjalan lancar. Para santri tampak bersemangat dan aktif menanggapi materi yang disampaikan.
Program ini memuat tiga jenis tulisan yang masing-masing melatih kemampuan berbeda:
- Autobiografi, yaitu tulisan tentang kisah hidup penulisnya sendiri, yang melatih santri bercerita secara runtut dan jujur.
- Resensi, yaitu ulasan terhadap sebuah karya seperti buku, yang melatih santri membaca dengan teliti lalu menilai secara adil.
- Paper, yaitu karya tulis ilmiah singkat, yang melatih santri berpikir sistematis dan menyusun gagasan berdasarkan sumber yang jelas.
Pihak Pesantren memandang kegiatan ini sebagai wujud syukur sekaligus sarana belajar. Harapannya jelas dan terukur. Seluruh santri kelas 4 hingga 6 TMI diharapkan mampu membuat paper dan resensi dengan baik. Kemampuan ini diharapkan menjadi bekal berharga bagi mereka di masa mendatang, terutama saat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi yang menuntut keterampilan menulis akademik.


Di balik kelancaran acara, ada persiapan panjang yang harus dilalui panitia. Tantangan terbesar terletak pada pengaturan waktu. Program ini telah dipersiapkan jauh hari karena harus menggunakan jam sekolah, mulai dari jam pertama hingga jam keempat. Panitia perlu memastikan kegiatan berjalan efektif tanpa mengganggu keseimbangan kegiatan belajar santri. Hasilnya, acara pembukaan dapat terlaksana sesuai rencana.
Semangat menulis sesungguhnya berakar kuat dalam tradisi Islam. Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca, disertai pengingat bahwa Allah mengajarkan manusia melalui perantaraan qalam atau pena (QS Al-‘Alaq: 1–5). Allah bahkan bersumpah dengan pena dan apa yang dituliskannya (QS Al-Qalam: 1). Imam Syafi’i pun berpesan bahwa ilmu ibarat hewan buruan, sedangkan tulisan adalah tali pengikatnya. Menulis berarti menjaga ilmu agar tidak lepas dan hilang.
Ketiga tugas dalam program ini juga menyimpan pelajaran karakter. Menulis autobiografi mengajak santri bermuhasabah, merenungi perjalanan hidup yang telah dilalui. Menulis resensi melatih adab dalam menilai karya orang lain secara jujur dan santun. Sementara itu, menyusun paper menanamkan kejujuran ilmiah, karena setiap gagasan harus disertai sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Proses inilah yang membentuk santri menjadi pembelajar yang teliti dan bertanggung jawab.
Setelah pembukaan, perjalanan santri baru saja dimulai. Pihak Pesantren berencana terus mendorong dan mengawasi jalannya program. Para pendamping akan menemani santri mengerjakan tugas masing-masing selama kurang lebih satu bulan. Pendampingan ini penting agar santri tidak berjalan sendirian ketika menemui kesulitan. Dengan bimbingan yang konsisten, setiap santri diharapkan mampu menyelesaikan karyanya tepat waktu dan dengan kualitas yang baik.


Program ini menjadi pengingat bahwa kemampuan menulis perlu dilatih sejak dini dan dijaga dengan kebiasaan. Satu bulan ke depan akan menjadi masa penting bagi santri untuk membuktikan diri. Para orang tua dan wali santri dapat ikut berperan dengan memberi semangat dan menanyakan perkembangan tulisan putra-putri mereka. Bagi pembaca umum, mari mulai membudayakan menulis dari hal sederhana, seperti catatan harian atau ulasan buku yang baru dibaca. Sebab, setiap tulisan adalah jejak ilmu yang kelak bermanfaat bagi banyak orang.
