Santriwati yang Fasih Tiga Bahasa Sebelum Lulus — Modal Karir Global Muslimah
Kemampuan berbicara tiga bahasa dengan lancar membuka pintu yang tertutup bagi kebanyakan orang seusianya. Seorang santriwati yang menguasai bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris dengan baik memiliki akses ke peluang yang tidak tersedia bagi lulusan sekolah biasa. Ia bisa melanjutkan studi ke Timur Tengah, ke negara berbahasa Inggris, atau berkarir di lembaga internasional.
Bagi orang tua kelas menengah-atas dengan anak perempuan yang berminat karir global, kemampuan bahasa menjadi modal yang paling menentukan. Asumsi yang sering muncul adalah bahwa kemampuan bahasa asing yang baik hanya bisa dibangun di sekolah internasional dengan biaya yang sangat tinggi. Padahal sistem pendidikan pesantren modern membangun kemampuan multibahasa melalui pendekatan pembiasaan sehari-hari.
Pesantren yang menjalankan program bahasa secara konsisten mampu mengantarkan santriwatinya menguasai tiga bahasa sekaligus. Yang menarik untuk dipahami adalah bagaimana hal ini terjadi dan mengapa hasilnya terasa berbeda dari kursus bahasa pada umumnya.
Sudut Pandang yang Sering Terlewat
Ada sudut pandang tentang penguasaan bahasa yang sering terlewat dalam pembicaraan tentang pendidikan anak perempuan.
Kenyataannya, banyak perempuan Indonesia yang berbakat namun terhambat karirnya karena kendala bahasa. Mereka tidak bisa melanjutkan studi ke luar negeri karena kemampuan bahasa Inggris tidak mencukupi. Mereka tidak bisa melamar di perusahaan multinasional karena tidak percaya diri berbicara dalam bahasa asing.
Kendala ini sering tidak disadari sampai kesempatan datang dan tidak bisa diambil. Banyak yang baru menyadari pentingnya bahasa ketika sudah terlambat.
Yang lebih jarang disadari adalah nilai bahasa Arab. Banyak yang menganggap bahasa Arab hanya berguna untuk memahami agama. Padahal kawasan Timur Tengah memiliki ekonomi yang sangat besar dengan kebutuhan tenaga profesional yang tinggi.
Bagi perempuan Muslim, kawasan ini justru menawarkan peluang yang menarik. Banyak lembaga di Timur Tengah yang membutuhkan tenaga perempuan untuk melayani perempuan. Rumah sakit membutuhkan dokter perempuan. Sekolah membutuhkan guru perempuan. Lembaga membutuhkan staf perempuan.
Perempuan Indonesia yang menguasai bahasa Arab dan memahami budaya Timur Tengah memiliki nilai tambah yang berarti untuk peluang seperti ini. Namun jumlahnya masih sangat sedikit.
Ada juga peluang di lembaga internasional yang menangani isu dunia Islam. Organisasi internasional, lembaga penelitian, atau lembaga kemanusiaan yang bekerja di negara Muslim membutuhkan tenaga yang menguasai bahasa Arab dan Inggris sekaligus memahami konteks Islam.
Santriwati yang menguasai tiga bahasa berada tepat pada titik yang dibutuhkan. Kombinasi ini sangat langka dan sangat dicari.
Bagaimana Kemampuan Ini Terbentuk
Cara kemampuan ini terbentuk di pesantren berbeda dari kursus bahasa konvensional dan perbedaan ini menjelaskan mengapa hasilnya berbeda.
Yang paling menentukan adalah penggunaan bahasa dalam keseharian. Di pesantren yang menjalankan program bahasa dengan serius, santriwati diwajibkan berbicara dalam bahasa Arab atau Inggris pada waktu dan tempat tertentu, bukan sekadar sebagai latihan melainkan sebagai keharusan untuk berkomunikasi. Bedanya terletak di sini: alih-alih mempraktikkan percakapan yang disiapkan untuk situasi tertentu, santriwati benar-benar harus menyampaikan kebutuhannya, bertanya kepada teman, dan menyelesaikan urusannya dalam bahasa itu.
Kekuatan lain datang dari paparan yang sangat intensif. Ketika santriwati berada dalam zona bahasa selama beberapa jam setiap hari sepanjang enam tahun, total paparannya bisa mencapai ribuan jam, jauh lebih banyak daripada yang biasanya dicapai melalui beberapa jam belajar per minggu. Paparan sebanyak itu ditopang pula oleh pembelajaran formal yang mendalam, sebab bahasa Arab tidak hanya dipelajari sebagai alat komunikasi tetapi juga sebagai ilmu. Nahwu, sharaf, dan balaghah dipelajari dengan sungguh-sungguh, dan pemahaman atas strukturnya membuat penguasaan bahasa terasa jauh lebih kokoh.
Kemampuan itu diasah lebih jauh melalui membaca teks asli. Santriwati membaca kitab berbahasa Arab karya ulama berabad-abad lalu, sebuah latihan membaca teks kompleks yang melampaui percakapan sehari-hari. Keberanian berbahasa dibangun lewat muhadhoroh dalam tiga bahasa, ketika santriwati menyampaikan pidato dalam bahasa Arab dan Inggris di depan teman-temannya. Kegiatan menulis karangan dalam kedua bahasa itu bahkan menuntut penguasaan yang lebih dalam daripada sekadar berbicara.
Semua itu tumbuh subur karena lingkungan yang mendukung. Ketika hampir semua orang di sekitar sama-sama berusaha berbahasa asing, rasa malu memudar, kesalahan menjadi hal yang wajar, dan tidak ada yang menertawakan.
Peluang yang Terbuka
Peluang pertama adalah melanjutkan studi ke Timur Tengah. Universitas di Mesir, Arab Saudi, Yordania, atau negara lain menerima mahasiswa internasional dengan beasiswa. Santriwati yang menguasai bahasa Arab bisa mengakses peluang ini.
Peluang kedua adalah melanjutkan studi ke negara berbahasa Inggris. Kemampuan bahasa Inggris yang baik menjadi syarat utama. Banyak beasiswa yang tersedia bagi yang memenuhi syarat.
Peluang ketiga adalah berkarir sebagai penerjemah. Penerjemah Arab-Indonesia yang berkualitas sangat sedikit dan sangat dicari. Bidang ini bisa menjadi profesi yang menghasilkan dengan baik.
Peluang keempat adalah berkarir di lembaga internasional. Organisasi yang bekerja di dunia Islam membutuhkan staf yang menguasai bahasa dan memahami konteks.
Peluang kelima adalah berkarir di bidang pendidikan. Guru bahasa Arab yang berkualitas sangat dibutuhkan. Banyak lembaga pendidikan Islam yang kesulitan mencari pengajar yang benar-benar menguasai.
Peluang keenam adalah berkarir di bidang keuangan syariah. Lembaga keuangan syariah membutuhkan tenaga yang memahami istilah fiqih dalam bahasa Arab sekaligus bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris untuk urusan internasional.
Peluang ketujuh adalah berkarir di bidang haji dan umroh. Industri ini besar dan membutuhkan tenaga yang bisa berkomunikasi dengan mitra di Arab Saudi.
Peluang kedelapan adalah menjadi pembimbing atau pendakwah yang bisa mengakses sumber asli. Kemampuan membaca kitab langsung tanpa terjemahan memberi otoritas keilmuan yang berbeda.
Bagi orang tua kelas menengah-atas dengan anak perempuan yang berminat karir global, jenjang pesantren modern dengan program bahasa yang serius memberi modal yang sangat berharga. Kemampuan multibahasa membuka pintu yang tertutup bagi kebanyakan orang.
Kemampuan multibahasa seperti yang dibahas di sini memang terbentuk dari paparan yang intensif selama bertahun-tahun, bukan dari kursus singkat. Yang efektif adalah lingkungan yang menuntut penggunaan bahasa untuk komunikasi nyata setiap hari. Pesantren Darunnajah 2 Cipining berusaha menyediakan lingkungan berbahasa tersebut bagi anak yang dititipkan di sana. Jalan menumbuhkan kemampuan bahasa anak pun berbeda-beda pada setiap keluarga.
Bila Ingin Berbincang Lebih Jauh
Bila Bapak atau Ibu ingin berbincang lebih jauh, bisa langsung menghubungi WhatsApp di wa.me/62812111180. Pertanyaan apapun akan dijawab dengan tenang dari pengalaman keseharian, bukan dari brosur. Kunjungan langsung juga terbuka setiap hari tanpa perlu janji terlebih dahulu, dan biasanya pengamatan sendiri memberi gambaran yang lebih utuh dari apa yang bisa dijelaskan dalam tulisan.