Di setiap kelas pesantren, ada satu anak yang posisinya unik. Bukan juara satu. Bukan juara dua. Mungkin peringkatnya ada di tengah-tengah. Tapi setiap kali ada pelajaran yang tidak dipahami, teman-teman sekelas tidak pergi ke juara kelas. Mereka pergi kepadanya. Anak itu yang selalu menjadi tempat bertanya — bukan karena nilainya paling tinggi, tapi karena cara dia menjelaskan selalu membuat orang lain akhirnya mengerti.
Kemampuan menjelaskan dan kemampuan mendapat nilai tinggi ternyata adalah dua hal yang berbeda.
Juara kelas sering kali sangat pandai memahami materi untuk dirinya sendiri. Tapi ketika diminta menjelaskan kepada orang lain, cara penyampaiannya kadang terlalu cepat, terlalu abstrak, atau terlalu teknis. Santri yang selalu jadi tempat bertanya punya kemampuan yang berbeda — dia bisa mengubah konsep yang rumit menjadi penjelasan yang sederhana. Bukan karena dia memahami lebih dalam. Tapi karena dia pernah berjuang untuk memahami, dan ingat betul proses berjuangnya.
Santri yang pernah kesulitan memahami sesuatu punya empati yang tidak dimiliki oleh santri yang langsung mengerti.
Dia tahu di bagian mana biasanya orang bingung. Tahu pertanyaan apa yang kemungkinan besar muncul. Tahu cara menjelaskan yang paling mudah diterima — karena itulah cara yang berhasil untuknya sendiri. Pengalaman berjuang itu menjadi modal mengajar yang tidak bisa didapat dari nilai ujian yang sempurna.
Di pesantren, peran santri seperti ini sangat berharga.
Malam menjelang ujian, kamarnya selalu ramai. Teman-teman datang dengan buku catatan, duduk melingkar, dan memintanya menjelaskan ulang materi yang baru saja diajarkan di kelas. Dia menjelaskan dengan sabar — kadang mengulangi satu konsep tiga atau empat kali sampai semua paham. Tidak pernah menunjukkan rasa kesal. Justru terlihat senang karena bisa membantu.
Proses mengajar itu tanpa disadari memperdalam pemahamannya sendiri.
Setiap kali dia menjelaskan sesuatu kepada teman, otaknya memproses ulang materi itu dari sudut pandang yang baru. Pertanyaan teman yang tidak terduga memaksanya berpikir lebih dalam. Kesulitan teman di bagian tertentu membuat dia mengeksplorasi konsep yang mungkin dia sendiri belum sepenuhnya kuasai. Siklus mengajar dan belajar itu menguntungkan kedua belah pihak.
Kenapa anak seperti ini jarang mendapat pengakuan resmi?
Karena sistem nilai di sekolah hanya mengukur kemampuan individu di atas kertas ujian. Tidak ada ujian yang mengukur kemampuan menjelaskan kepada orang lain. Tidak ada nilai rapor untuk kesabaran mengajar teman yang sedang kesulitan. Tidak ada peringkat untuk kontribusi terhadap pemahaman kolektif kelas. Tapi di antara teman-temannya, pengakuan itu ada — dalam bentuk kepercayaan yang diberikan setiap kali mereka datang bertanya.
Bertahun-tahun setelah lulus, teman-teman sekelas sering menyebut nama anak ini dengan cara yang istimewa. Bukan sebagai yang paling pintar. Tapi sebagai yang paling membantu. Dalam banyak hal, pengakuan itu jauh lebih bermakna dari piala juara kelas yang dipajang di lemari.
Di Darunnajah 2 Cipining, tradisi belajar bersama di kamar asrama sudah menjadi bagian dari budaya santri. Setiap angkatan selalu punya santri yang secara natural menjadi tempat semua orang bertanya — dan peran itu membentuk jiwa pemimpin yang melayani.
Nilai di rapor memang penting. Tapi ada satu kemampuan yang nilainya tidak tertulis di mana pun — kemampuan membuat orang lain mengerti. Dan itu mungkin salah satu kemampuan paling berharga yang bisa dimiliki seseorang.
Kalau ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan dan pendidikan santri di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.