Ketika Santri dari Sabang dan Merauke Duduk Semeja dan Bertukar Cerita Kampung Halaman

Di satu meja makan pesantren, duduk bersebelahan dua anak yang rumahnya terpisah hampir lima ribu kilometer. Satu dari kota kecil di ujung barat Sumatera, satu dari kampung di pedalaman Papua. Mereka tidak pernah membayangkan akan bertemu di tempat yang sama. Tapi di sinilah mereka — makan dari nampan yang sama, dan bertukar cerita tentang dunia yang sama sekali berbeda dari apa yang masing-masing kenal.

Apa yang biasanya diceritakan santri tentang kampung halamannya?

Hal-hal yang tidak bisa ditemukan di buku geografi. Santri dari pesisir Sulawesi menceritakan bagaimana ayahnya berlayar seminggu penuh dan pulang membawa ikan yang langsung diasapi di belakang rumah. Santri dari pegunungan Jawa Barat menceritakan kabut pagi yang begitu tebal sampai tetangga sebelah rumah tidak terlihat. Santri dari Kalimantan menceritakan sungai besar yang menjadi jalan utama ke sekolah.

Cerita-cerita ini membuka jendela ke dunia yang sama sekali baru. Santri dari Jakarta yang selama ini hanya mengenal kemacetan dan gedung tinggi tiba-tiba memahami bahwa Indonesia jauh lebih luas dan lebih beragam dari apa yang ia lihat setiap hari.

Pertukaran cerita ini terjadi secara alami — di meja makan, di waktu istirahat, di lorong asrama sebelum tidur. Tidak ada kurikulum khusus tentang keberagaman budaya. Yang ada hanya anak-anak dari berbagai penjuru Indonesia yang hidup bersama dan secara natural saling belajar tentang dunia masing-masing.

Bagaimana cerita kampung halaman mengubah cara pandang santri?

Santri yang mendengar cerita temannya dari daerah yang sangat berbeda mulai melihat dunia dengan lebih luas. Ia belajar bahwa ada cara hidup lain selain yang ia kenal. Bahwa ada keindahan di tempat yang belum pernah ia kunjungi. Bahwa ada kesulitan yang tidak pernah ia bayangkan — dan ada kekuatan yang tumbuh dari kesulitan itu.

Ketika santri dari kota besar mendengar temannya dari daerah pelosok menceritakan perjalanan dua hari untuk sampai ke pesantren, perspektifnya tentang perjuangan langsung berubah. Ia menyadari bahwa keluhan-keluhannya selama ini mungkin terlalu kecil dibandingkan dengan apa yang sudah dilalui temannya hanya untuk bisa duduk di bangku yang sama.

Rasa hormat yang tumbuh dari pemahaman ini tidak bisa diajarkan di kelas. Ia hanya bisa tumbuh dari pengalaman langsung — dari duduk bersama, makan bersama, dan mendengarkan cerita orang yang latar belakangnya sangat berbeda.

Apa yang terjadi ketika perbedaan budaya bertemu di pesantren?

Di awal, perbedaan itu kadang menghasilkan momen-momen lucu. Santri dari Jawa yang terbiasa bicara halus kaget mendengar temannya dari Batak yang bicaranya lantang dan langsung. Santri dari Sunda yang terbiasa makan lauk ringan heran melihat temannya dari Padang yang memakan sambal sebagai lauk utama.

Tapi momen-momen itu tidak pernah menjadi sumber konflik. Justru menjadi bahan candaan yang mempererat hubungan. Santri belajar bahwa perbedaan cara bicara bukan berarti perbedaan maksud. Bahwa keras dan lantang bukan berarti marah. Bahwa pelan dan halus bukan berarti tidak tegas.

Pesantren dengan motto “Berdiri Di Atas Dan Untuk Semua Golongan” memang dirancang untuk menjadi tempat pertemuan. Tidak ada dominasi suku tertentu. Tidak ada kelompok eksklusif berdasarkan asal daerah. Semua santri diperlakukan setara — dan dari kesetaraan itulah persahabatan lintas budaya tumbuh dengan kuat.

Apa yang dibawa santri dari pengalaman keberagaman ini?

Kecerdasan budaya. Santri yang sudah hidup bertahun-tahun bersama teman dari berbagai suku dan daerah punya kemampuan adaptasi sosial yang sangat tinggi. Ia tahu cara berkomunikasi dengan orang dari latar belakang yang berbeda. Ia tahu kapan harus menyesuaikan gaya bicara. Ia tahu bahwa menghormati perbedaan bukan berarti menghilangkan identitas sendiri.

Kemampuan ini sangat berharga di dunia kerja yang semakin global. Alumni pesantren yang masuk perusahaan multinasional atau bekerja di lingkungan yang beragam tidak kaget dengan perbedaan — karena mereka sudah terlatih hidup di tengah keberagaman sejak usia dua belas tahun.

Dan di level yang lebih dalam, pengalaman ini membentuk manusia yang lebih bijaksana. Manusia yang tahu bahwa kebenaran tidak hanya milik satu sudut pandang. Bahwa kebijaksanaan lahir dari kemampuan melihat dunia melalui mata orang lain.

Mengapa pengalaman ini sulit didapat di tempat lain?

Di sekolah umum, murid biasanya berasal dari daerah yang sama. Lingkaran pertemanan terbatas pada orang-orang dengan latar belakang serupa. Kalaupun ada program pertukaran budaya, biasanya hanya berlangsung beberapa hari dan tidak meninggalkan kesan yang mendalam.

Di pesantren, pertukaran budaya terjadi setiap hari selama bertahun-tahun. Bukan sebagai program, tapi sebagai cara hidup. Santri dari Sabang dan Merauke tidak hanya duduk semeja sekali — mereka duduk semeja setiap hari, tidur di kamar yang sama, sholat di shaf yang sama, belajar di kelas yang sama.

Di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, santri dari seluruh Indonesia berkumpul dan belajar bersama. Sistem penempatan kamar yang mencampurkan berbagai daerah memastikan bahwa setiap santri punya kesempatan untuk mengenal Indonesia dari dekat — bukan dari peta, tapi dari teman yang duduk di sebelahnya.

Mungkin suatu hari nanti, ketika santri dari Sabang dan santri dari Merauke bertemu lagi di suatu tempat, mereka akan tersenyum dan teringat meja makan di pesantren yang mempertemukan mereka pertama kali — tempat di mana dua dunia yang berbeda akhirnya saling memahami.

Buat yang ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan santri dan keberagaman di pesantren, bisa langsung ngobrol lewat WhatsApp 0812111180. Setiap keluarga selalu disambut hangat.