Santri dari Puluhan Suku Berbeda yang Belajar Hidup Bersama Tanpa Sekat

Di satu kamar asrama pesantren yang ukurannya tidak terlalu besar, tidur berdampingan anak dari Aceh, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua. Mereka tidak memilih siapa teman sekamarnya. Pesantren yang menentukan. Dan dari ketidakpilihan itulah sesuatu yang tidak terduga tumbuh — persaudaraan yang melampaui batas suku, bahasa, dan kebiasaan.

Hari-hari pertama selalu penuh kejutan kecil.

Anak dari Sumatera yang terbiasa bicara dengan volume tinggi bertemu dengan anak dari Jawa yang suaranya pelan dan halus. Keduanya mengira ada yang salah dengan cara bicara satu sama lain — yang satu terasa terlalu keras, yang satu terasa terlalu lirih. Butuh beberapa minggu untuk memahami bahwa tidak ada yang salah. Hanya berbeda.

Perbedaan itu terlihat di hal-hal paling sederhana.

Cara makan. Santri dari satu daerah terbiasa makan dengan lauk yang sangat pedas — sambal di setiap hidangan. Santri dari daerah lain tidak terbiasa pedas sama sekali dan matanya berair hanya dengan sedikit cabai. Cara berbicara ketika marah juga berbeda. Ada yang langsung bersuara keras, ada yang justru diam total. Memahami perbedaan ekspresi emosi ini menjadi pelajaran pertama yang tidak tertulis di kurikulum manapun.

Momen ketika perbedaan berhenti menjadi masalah dan mulai menjadi kekayaan.

Biasanya terjadi setelah beberapa bulan tinggal bersama. Santri yang awalnya hanya bergaul dengan teman sesuku mulai membuka lingkaran. Batas yang tadinya terasa jelas perlahan kabur. Anak dari Papua yang awalnya merasa sendirian karena tidak ada teman sedaerah justru menjadi yang paling dikelilingi — karena ceritanya tentang kampung halaman selalu menarik perhatian teman-teman yang belum pernah mendengar hal serupa.

Pertukaran budaya terjadi setiap hari tanpa perlu diorganisir.

Saat liburan berakhir dan santri kembali ke pesantren membawa makanan dari rumah, meja di kamar asrama berubah menjadi peta kuliner Indonesia. Dodol dari Garut bersebelahan dengan bika ambon dari Medan. Kerupuk gendar dari Semarang dimakan bersama sambal roa dari Manado. Tidak ada yang merasa makanannya lebih enak atau lebih mewah dari yang lain. Semua dimakan bersama, dicicipi dengan rasa penasaran yang sama.

Bahasa daerah yang tadinya hanya dipahami segelintir orang perlahan menyebar. Santri Jawa mengajarkan kata-kata lucu dalam Bahasa Jawa kepada teman-temannya. Santri Minang memperkenalkan pepatah yang artinya mendalam. Santri Bugis berbicara tentang tradisi di kampungnya yang membuat semua orang terdiam kagum. Keberagaman itu bukan beban. Itu adalah harta yang tidak dimiliki oleh sekolah manapun yang muridnya berasal dari satu daerah saja.

Apa yang dibawa santri pulang dari pengalaman hidup bersama lintas suku?

Toleransi yang terbentuk di pesantren bukan toleransi teori. Bukan yang diajarkan lewat poster atau ceramah. Ini toleransi yang lahir dari pengalaman tidur di kasur yang berdekatan dengan orang yang cara hidupnya berbeda, dan bangun keesokan harinya tetap saling menyapa. Toleransi yang terbentuk dari mendengar cerita langsung, bukan dari berita di layar. Toleransi yang diuji setiap hari dalam hal-hal kecil — siapa yang piket duluan, siapa yang pakai kamar mandi duluan, siapa yang tidur duluan.

Alumni pesantren yang sudah berkarir di berbagai tempat sering bercerita bahwa kemampuan mereka bekerja dengan orang dari latar belakang berbeda sudah terlatih sejak masa mondok. Mereka tidak kaget menghadapi perbedaan. Justru merasa nyaman di dalamnya.

Di Darunnajah 2 Cipining, santri yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia hidup bersama dalam satu lingkungan tanpa pengelompokan berdasarkan asal daerah. Motto pesantren yang berbunyi Berdiri Di Atas Dan Untuk Semua Golongan bukan sekadar tulisan — itu dipraktikkan setiap hari di setiap sudut asrama.

Kemampuan hidup berdampingan dengan orang yang berbeda bukan sesuatu yang bisa diajarkan dalam satu semester. Itu harus dialami. Dan pesantren mungkin salah satu tempat terakhir di Indonesia yang masih memberikan pengalaman itu secara utuh kepada anak-anak kita.

Kalau ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan santri di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.