Bertahun-tahun setelah lulus, setelah dunia berputar dan kehidupan membawa ke tempat-tempat yang sangat berbeda dari asrama pesantren, ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang tetap bertahan. Kebiasaan yang sudah menjadi bagian dari diri sendiri, yang dilakukan tanpa perlu berpikir, yang kadang baru disadari sebagai warisan pesantren ketika seseorang bertanya — kenapa kamu selalu begitu?
Bangun sebelum subuh mungkin yang paling sering disebut alumni sebagai kebiasaan yang paling bertahan lama. Di pesantren, bangun sebelum subuh adalah keharusan. Bertahun-tahun kemudian, meskipun tidak ada lagi lonceng atau suara wali kamar yang membangunkan, tubuh tetap terjaga di jam yang sama. Mata terbuka sendiri. Kaki melangkah ke kamar mandi. Wudhu dilakukan seperti otot yang bergerak tanpa perlu perintah dari otak.
Alumni yang sudah bekerja di kantor sering terkejut menyadari bahwa mereka selalu jadi orang pertama yang datang. Kolega bertanya-tanya bagaimana bisa begitu pagi. Jawabannya sederhana — enam tahun bangun sebelum subuh membentuk jam biologis yang tidak bisa direset oleh tidur larut manapun.
Kebiasaan merapikan tempat tidur segera setelah bangun juga termasuk yang paling melekat. Di pesantren, tempat tidur yang berantakan di pagi hari adalah aib kecil yang dihindari semua orang. Kebiasaan itu terbawa ke apartemen, ke kamar kost, ke rumah setelah menikah. Pasangan yang tidak berasal dari pesantren kadang heran melihat tempat tidur sudah rapi sebelum sarapan selesai. Bagi alumni, itu bukan soal kerapian. Sudah menjadi refleks.
Makan dengan cepat dan efisien juga termasuk kebiasaan yang bertahan. Di pesantren, waktu makan terbatas. Ratusan orang makan di waktu yang sama, dan menunda berarti ketinggalan. Kebiasaan makan yang tidak bertele-tele itu terbawa sampai dewasa — di restoran, di kantin kantor, di mana saja. Alumni pesantren jarang menjadi orang terakhir yang selesai makan di meja.
Tapi kebiasaan yang paling bermakna mungkin bukan yang berkaitan dengan rutinitas fisik.
Kemampuan tidur di mana saja dan dalam kondisi apa saja — itu warisan pesantren yang sering membuat orang lain kagum sekaligus bingung. Di pesantren, kita belajar tidur di kasur tipis, di ruangan yang panas, dengan suara teman yang masih mengobrol di sebelah. Setelah melewati itu, tidur di kursi pesawat atau di lantai bandara saat transit tidak lagi terasa sebagai masalah.
Kebiasaan saling membantu tanpa diminta juga termasuk warisan yang sering tidak disadari. Alumni pesantren cenderung langsung bergerak ketika melihat orang lain butuh bantuan — memegang pintu untuk orang di belakangnya, membantu mengangkat barang bawaan orang asing, atau menawarkan tempat duduk di transportasi umum. Kebiasaan itu bukan soal ingin terlihat baik. Sudah menjadi respons otomatis yang terbentuk dari bertahun-tahun hidup di lingkungan di mana tolong-menolong adalah bagian dari udara yang dihirup setiap hari.
Sholat berjamaah di masjid — bukan di kamar, bukan di mushola kecil, tapi di masjid besar dengan jamaah yang banyak — juga menjadi kebiasaan yang dicari alumni ke mana pun mereka pindah. Di kota baru, hal pertama yang dicari sering bukan restoran atau pusat perbelanjaan. Tapi masjid terdekat yang jamaahnya ramai.
Di Darunnajah 2 Cipining, kebiasaan-kebiasaan ini dibentuk selama puluhan tahun lewat sistem pendidikan dan kehidupan asrama yang konsisten. Ribuan alumni membawa kebiasaan yang sama ke berbagai penjuru Indonesia dan dunia — menjadi identitas diam-diam yang menghubungkan mereka meskipun sudah bertahun-tahun tidak bertemu.
Kebiasaan yang paling bertahan lama memang bukan yang paling besar atau paling terlihat. Justru yang paling kecil — yang sudah menyatu dengan diri kita sampai lupa bahwa itu pernah harus dipelajari.
Kalau ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan dan pendidikan di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.