Ada hal-hal dari masa mondok yang tidak langsung terasa berharga. Baru bertahun-tahun kemudian, di tengah kesibukan yang sama sekali berbeda, momen-momen itu tiba-tiba muncul kembali dan membuat dada terasa sesak ringan.
Kenapa justru hal-hal kecil yang paling susah dilupakan?
Kalau ditanya apa yang paling diingat dari masa pesantren, kebanyakan alumni tidak akan menyebut nama pelajaran atau prestasi akademik. Yang disebut justru hal-hal yang waktu itu terasa biasa. Suara adzan subuh yang masuk lewat jendela asrama ketika udara bukit masih dingin. Langkah kaki ramai menuju masjid dalam gelap, setengah sadar, tapi tetap berjalan karena semua teman sekamar juga bangun.
Sholat berjamaah lima waktu itu dulunya terasa seperti rutinitas. Sekarang, ketika harus sholat sendirian di mushola kantor, baru terasa betapa berbeda rasanya berdiri dalam shaf panjang bersama ratusan orang yang kita kenal wajahnya satu per satu.
Momen pertama yang selalu kembali?
Makan bersama. Bukan soal menunya. Bukan soal lauk yang kadang itu-itu saja. Tapi suasananya. Duduk berhadapan dengan teman-teman yang setiap hari kita lihat dari subuh sampai malam, makan dari nampan yang sama, bicara tentang hal-hal yang sekarang sudah tidak bisa diingat detailnya tapi masih terasa hangatnya. Alumni yang sudah berkeluarga sering bilang, makan bersama di rumah sendiri tidak pernah seramai itu. Tidak pernah sebebas itu tertawa tanpa alasan yang jelas.
Ada momen lain yang jarang diceritakan tapi hampir semua alumni menganggukkan kepala kalau mendengarnya. Latihan muhadhoroh. Berdiri di depan teman-teman sendiri, bicara dalam bahasa Arab atau Inggris, dengan lutut yang kadang gemetar. Waktu itu rasanya seperti siksaan kecil setiap pekan. Tapi coba tanya alumni yang sekarang jadi guru, jadi pemimpin di kantornya, atau yang harus presentasi di depan ruangan penuh orang asing. Hampir semuanya bilang hal yang sama. Keberanian itu pertama kali tumbuh di sana, di depan teman-teman yang sebenarnya juga sama gugupnya.
Apa yang membuat persahabatan di pesantren berbeda?
Persahabatan yang terbentuk di asrama punya karakter yang tidak bisa direplikasi di tempat lain. Bukan karena lebih baik atau lebih buruk. Tapi karena konteksnya berbeda sama sekali. Kita tidur di ruangan yang sama, bangun di jam yang sama, menghadapi hari yang sama, setiap hari selama bertahun-tahun. Wali kamar yang mendampingi setiap malam tahu siapa yang sedang rindu rumah dan siapa yang sedang kesulitan menghafal. Teman sekamar tahu kebiasaan kita yang tidak pernah kita ceritakan ke siapa pun.
Ikatan seperti itu tidak bisa dibuat ulang di lingkungan mana pun setelah lulus.
Kenapa momen ekskul yang paling sering diceritakan ulang?
Latihan Tapak Suci di lapangan sore hari, ketika matahari mulai turun dan angin dari bukit Bogor Barat membawa udara yang berbeda. Latihan sepak bola yang kadang berakhir dengan perdebatan kecil tentang siapa yang curang, lalu lima menit kemudian sudah tertawa lagi bersama. Pentas teater yang latihannya berminggu-minggu tapi penampilannya hanya satu malam. Atau sesi band di studio musik yang hasilnya mungkin tidak sempurna tapi momen kebersamaannya sempurna.
Kalau kita perhatikan, yang dirindukan bukan kegiatannya. Yang dirindukan adalah orang-orang yang ada di sana saat itu. Wajah-wajah yang sekarang sudah tersebar di kota-kota berbeda, dengan kehidupan yang sudah jauh berbeda pula.
Kapan rindu itu biasanya datang?
Ada pola yang menarik dari cerita banyak alumni. Rindu terhadap masa pesantren tidak langsung muncul setelah lulus. Biasanya butuh waktu. Tiga tahun. Lima tahun. Kadang sepuluh tahun. Baru kemudian, di satu momen yang tidak terduga, semuanya kembali. Mungkin saat mendengar adzan maghrib di perantauan dan teringat berlari dari asrama ke masjid karena hampir terlambat. Mungkin saat mencium aroma nasi dari warung dan tiba-tiba teringat suasana dapur pesantren.
Alumni Darunnajah 2 Cipining yang sudah lebih dari tiga dekade meluluskan santri sering menceritakan momen-momen seperti ini. Bukan tentang pencapaian besar. Tapi tentang kebersamaan kecil yang ternyata membentuk bagian terdalam dari siapa mereka sekarang.
Dan mungkin itu yang paling jujur tentang pesantren. Bukan gedungnya atau programnya yang paling membekas. Tapi momen-momen yang waktu itu tidak sempat kita syukuri karena terlalu sibuk menjalaninya.
Bagaimana kalau anak kita juga bisa punya momen seperti itu?
Setiap orang tua tentu berharap anaknya kelak punya kenangan yang membentuk karakternya. Kenangan yang bukan hanya menyenangkan, tapi juga bermakna. Momen-momen kecil di pesantren yang sudah diceritakan tadi bukan sesuatu yang bisa direncanakan. Tapi bisa difasilitasi, dengan menempatkan anak di lingkungan yang tepat, bersama orang-orang yang tepat, dalam sistem yang sudah terbukti selama puluhan tahun.
Kalau ada penasaran yang muncul setelah membaca ini, itu wajar. Banyak keluarga yang memulai dari sekadar bertanya. Obrolan singkat lewat wa.me/62812111180 bisa jadi awal dari cerita yang kelak akan dirindukan anak kita bertahun-tahun kemudian.