Cara Santri Mengatasi Kejenuhan Belajar Tanpa Membuka Media Sosial

Pernah tidak, kita merasa kepala sudah penuh sesak setelah seharian belajar, lalu tangan otomatis meraih ponsel? Scroll sebentar, katanya. Tapi tahu-tahu sudah dua jam lewat dan rasa lelahnya justru bertambah. Kita semua pernah di titik itu. Bedanya, ada sekelompok anak muda yang sudah menemukan jalan lain.

Kenapa scrolling justru membuat otak makin lelah?

Otak kita butuh istirahat, tapi istirahat yang sesungguhnya bukan memindahkan beban dari pelajaran ke konten video pendek. Itu bukan jeda. Itu mengganti satu jenis kelelahan dengan jenis yang lain. Mata tetap bekerja keras, pikiran tetap memproses informasi, dan dopamin yang dihasilkan hanya memberi ilusi segar.

Santri di pesantren tidak punya opsi itu. Tidak ada ponsel di tangan. Dan justru dari keterbatasan itulah lahir kreativitas yang kadang bikin kita berpikir ulang tentang arti istirahat.

Apa yang dilakukan santri ketika jenuh melanda?

Bayangkan sore hari setelah pelajaran terakhir selesai. Ada yang mengajak teman-temannya jalan-jalan ke danau di area pesantren. Bukan jalan cepat — cuma jalan santai sambil ngobrol soal hal-hal remeh yang entah kenapa selalu terasa penting di usia itu. Kaki bergerak, udara segar masuk paru-paru, dan tanpa sadar kepala yang tadi terasa berat perlahan jadi ringan.

Ada juga yang memilih duduk di teras asrama. Cuma duduk. Ngobrol ringan dengan kakak kelas atau adik kelas tentang apa saja. Di situlah ikatan tumbuh — ikatan yang tidak bisa dibentuk lewat kolom komentar atau emoji hati di media sosial.

Lalu ada yang lebih ekspresif. Sekelompok santri berkumpul untuk latihan band. Gitar akustik, perkusi dari ember bekas, kadang keyboard pinjaman. Musiknya tidak harus bagus. Yang penting bunyi itu keluar, dan bersama bunyi itu ikut keluar semua tekanan yang menumpuk dari pagi.

Bagaimana kreativitas bisa menjadi terapi?

Tidak semua santri suka keramaian. Sebagian menemukan jeda dalam keheningan. Kaligrafi, misalnya. Menulis huruf Arab dengan tinta dan pena khusus membutuhkan konsentrasi tinggi, tapi jenis konsentrasi yang berbeda dari menghafal rumus. Tangan bergerak perlahan, napas ikut melambat, dan pikiran yang tadinya berantakan perlahan menemukan titik fokus baru.

Ada juga yang menulis puisi. Bukan puisi untuk lomba atau untuk dinilai siapa pun. Puisi untuk diri sendiri. Tentang rindu rumah, tentang sahabat, tentang hujan yang datang tepat saat waktunya jemur pakaian. Kata-kata yang dituliskan di kertas punya kekuatan yang berbeda dari kata-kata yang diketik di layar.

Dan percaya atau tidak, ada yang melepas penat dengan mancing di kolam pesantren. Duduk berjam-jam menunggu umpan dimakan ikan. Itu jenis ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan langganan aplikasi meditasi mana pun.

Anak-anak yang tumbuh tanpa ketergantungan pada layar punya kemampuan yang mulai langka di generasi ini — kemampuan untuk merasa cukup dengan apa yang ada di depan mata.

Apakah hidup tanpa gadget benar-benar bisa menyenangkan?

Tanyakan kepada santri yang sudah menjalaninya, dan jawaban mereka hampir selalu sama: mereka tidak merasa kekurangan. Justru sebaliknya. Waktu terasa lebih panjang. Pertemanan terasa lebih nyata. Dan momen-momen kecil jadi hal yang benar-benar dinikmati, bukan sekadar dijadikan konten.

Di Darunnajah 2 Cipining, puluhan cara kreatif itu bukan program yang dirancang oleh siapa pun. Itu tumbuh sendiri dari keseharian. Dari kebiasaan yang diwariskan kakak kelas ke adik kelas, dari keberanian untuk mencari kesenangan tanpa harus bergantung pada teknologi.

Mungkin yang paling mengejutkan bukan caranya. Tapi kenyataan bahwa mereka tidak pernah merasa perlu kembali ke layar setelah menemukan semua itu.

Kalau kita penasaran seperti apa keseharian yang membentuk kebiasaan-kebiasaan itu, hubungi lewat WhatsApp 0812111180. Kadang satu percakapan singkat bisa menjawab lebih banyak dari seribu artikel.