Teman liburan ke Bali dan memposting fotonya di Instagram. Teman lain dapat sepatu limited edition dan pamer di story. Teman yang lain lagi ikut konser dan live streaming di TikTok. Dan anak kita — yang liburannya di rumah saja, yang sepatunya masih yang tahun lalu, yang tidak diajak ke konser itu — merasa hidupnya sangat membosankan. Ini bukan sekadar iri. Ini FOMO — fear of missing out — dan dampaknya pada anak bisa jauh lebih dalam dari sekadar kecemburuan sesaat.
Apa sebenarnya FOMO?
FOMO adalah kecemasan bahwa orang lain sedang mengalami sesuatu yang menyenangkan sementara kita tidak. Bukan sekadar iri — ini rasa takut ketinggalan yang bisa sangat mengganggu. Di era sebelum media sosial, FOMO ada tapi dalam skala kecil — kita hanya tahu apa yang dilakukan teman-teman terdekat. Sekarang, melalui media sosial, kita bisa melihat apa yang dilakukan ratusan bahkan ribuan orang secara real-time. Dan otak yang terus-menerus membandingkan secara alami merasa semakin tertinggal.
Pada remaja — yang identitasnya masih terbentuk dan kebutuhan akan penerimaan sosial sangat tinggi — FOMO bisa sangat menggerogoti. Ia bisa menyebabkan kecemasan, penurunan harga diri, dan bahkan mendorong anak mengambil keputusan yang tidak bijak hanya supaya tidak merasa ketinggalan.
Kenapa media sosial memperparah FOMO?
Karena media sosial menciptakan ilusi bahwa semua orang sedang bersenang-senang sepanjang waktu kecuali kita. Padahal yang ditampilkan hanya momen-momen terbaik — bukan keseluruhan hidup seseorang. Tidak ada yang memposting momen membosankan, momen sedih, atau momen biasa-biasa saja. Hasilnya: gambaran yang sangat tidak proporsional tentang kehidupan orang lain.
Anak yang belum memahami ini — yang belum bisa membedakan highlight reel dari realita — menyimpulkan bahwa hidup semua orang memang seindah yang terlihat di layar. Dan hidupnya sendiri, yang sebenarnya normal dan baik-baik saja, terasa sangat kurang.
Apa yang bisa dilakukan?
Pertama, bicarakan tentang FOMO secara terbuka. Anak yang tahu bahwa perasaan ini punya nama dan dialami banyak orang merasa lebih normal. “Itu namanya FOMO. Mama juga kadang merasa begitu kalau lihat teman liburan di media sosial. Tapi kita belajar bahwa apa yang kita lihat di sana bukan gambaran lengkap.” Menormalisasi perasaan ini sudah mengurangi kekuatannya.
Kedua, ajarkan membedakan antara konten dan kenyataan. “Foto di pantai itu satu momen dari seluruh liburannya. Kita tidak tahu bagaimana perjalanan macetnya, bagaimana pertengkaran di hotel, bagaimana rasa bosannya di pesawat.” Membongkar ilusi ini membantu anak melihat media sosial secara lebih realistis.
Ketiga, bantu anak fokus pada apa yang dimiliki, bukan apa yang tidak. Bukan dengan ceramah “kamu harus bersyukur” — tapi dengan praktik. Ritual bersyukur sebelum tidur. Membicarakan hal-hal baik yang terjadi hari ini. Fokus pada pengalaman yang kita jalani, bukan yang kita lewatkan.
Keempat, kurangi paparan. Bukan menghilangkan media sosial sepenuhnya — tapi mengurangi waktu scrolling yang tidak bertujuan. Meng-unfollow akun yang membuat merasa kurang. Membatasi waktu di platform tertentu. Setiap pengurangan paparan mengurangi bahan bakar FOMO.
Kelima, perkaya pengalaman nyata. Anak yang punya banyak pengalaman langsung — bermain dengan teman, berkegiatan yang disukainya, menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga — punya apa yang bisa ditandingi: kehidupan nyata yang memuaskan. FOMO sering muncul paling kuat saat kehidupan nyata terasa kosong.
Bagaimana lingkungan berperan?
Lingkungan yang kaya akan pengalaman langsung dan miskin akan paparan media sosial secara natural mengurangi FOMO. Anak yang sibuk menjalani kehidupan yang penuh — belajar, bermain, berinteraksi, berkreasi — tidak punya waktu atau energi untuk membandingkan diri dengan orang lain di layar.
Pesantren, karena tidak ada gadget dan kehidupannya sangat penuh dengan aktivitas langsung — dari belajar sampai olahraga, dari ibadah sampai seni — secara natural menghilangkan FOMO digital. banyak santri menjalani kehidupan yang sama, berbagi pengalaman yang sama, tanpa satu pun yang memamerkan di media sosial. Fokusnya bergeser dari apa yang tidak dimiliki ke apa yang sedang dijalani bersama.
Banyak alumni pesantren yang menyebutkan bahwa setelah bertahun-tahun tanpa media sosial, hubungan mereka dengan dunia digital menjadi lebih sehat. Mereka bisa menggunakan tanpa digunakan. Tidak berarti kebal dari FOMO sepenuhnya — tapi fondasinya lebih kuat.
Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat menyediakan lingkungan di mana FOMO digital tidak ada karena tidak ada akses media sosial. Kehidupan diisi dengan pengalaman langsung yang penuh. Ini bukan solusi yang bisa diterapkan langsung di rumah, tapi prinsipnya bisa diadopsi: perkaya kehidupan nyata, kurangi paparan digital.
Kunjungan kapan saja. Atau hubungi WhatsApp 0812111180.
Anak yang sibuk menjalani hidupnya sendiri tidak punya waktu untuk iri pada hidup orang lain. Dan itu mungkin perlindungan terbaik terhadap FOMO — kehidupan nyata yang cukup bermakna untuk tidak perlu dibandingkan.