Kyai dan Santri Sebagai Tonggak Kemerdekaan Indonesia Kyai dan Santri Sebagai Tonggak Kemerdekaan Indonesia

Kyai dan Santri Sebagai Tonggak Kemerdekaan Indonesia

Santri adalah sebuah julukan bagi pelajar atau pencari ilmu-ilmu agama Islam. Kata “santri” dalam berbagai bahasa yang telah diserap dalam bahasa Indonesia mengandung makna kaum terpelajar. Peran Kyai dan Santri dalam memperjuangkan dan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia sangatlah besar.

Kyai dan Santri Sebagai Tonggak Kemerdekaan Indonesia
Kyai dan Santri Sebagai Tonggak Kemerdekaan Indonesia

Dalam “Pelajaran Sejarah” yang telah banyak dipelajari oleh para murid tingkat Sekolah Dasar sangat jarang ditemukan adanya peran Kyai dan Santri dalam membangkitkan semangat mempertahankan Nusantara Indonesia. Padahal, Kyai dan Santri merupakan  peran utama dalam mempelopori kata “Nasionalisme” yang sangat menjunjung tinggi ” Cinta Tanah Air”. Namun, semua berubah ketika para Sejarawan mulai Mendistorsikan penulisan sejarah Kemerdekaan Idonesia.

Mereka tidak menyebutkan bahwa Kyai dan Santri-lah yang memulai pergerakan – pergerakan Nasionalisme. Mereka hanya menyebutkan segelintir dari peran para Ulama dan kerajaan – kerajaan Islam di Nusantara.

Bahkan, di berbagai buku pelajaran yang banyak dipakai di sekolah – sekolah negri, peran Islam dalam Kemerdekaan Indonesia seolah – olah diminimalisir penulisannya.

Mengubah sejarah memang mahal. Tak cuma mahal diongkos karena sulitnya referensi, namun juga biaya membangun kembali mental kaum yang dahulu pernah dijajah bahkan masih terjajah sampai saat ini secara tidak sadar.

Sejarah memang ditulis oleh pemenang. Apalagi kalau pemenangnya dahulu adalah kaum penjajah? Tetapi akurasi kebenarannya wajib dikritisi, dikaji ulang, dll terutama bila ditemukan bukti-bukti baru. Selain itu, sebagaiamana ilmu-ilmu lainnya, sekalipun ilmu Eksakta, tak lepas dari perubahan yang berasal dari hasil penelitian tentang kebenaran ilmunya. sejalan dengan pengaruh zaman tidak hanya mengalami perebuhan penemuan fakta dan interpretasinya. Tetapi juga mengalami perubahan materi penerbitannya.

Membahas sejarah Indonesia, saya teringat dengan asumsi dari Juri Lina, penulis Swedia dalam buku Architects of Deception- the Concealed History of Freemasonry (2004), “Bahwa ada tiga cara untuk melemahkan dan menjajah suatu negeri, antara lain:

1. Kaburkan sejarahnya;

2. Hancurkan bukti-bukti sejarah agar tidak bisa dibuktikan kebenarannya;

3. Putuskan hubungan mereka dengan leluhur, katakan bahwa leluhurnya itu bodoh dan primitif.

Generasi Muda Indonesia terkhusus kaum pelajar yang menganut ajaran Islam saat ini terhinggapi rasa herolessness (kebodohan) merasa tidak memiliki pahlawannya. Dampak dari sistem penulisan Sejarah Indonesia ataupun Museum dan Monumen Nasional, dituliskan atau disajikan bertolak dari dasar pemikiran deislamisasi. Peran para pahlawan yang berasal dari penganut ajaran islam dalam hal ini para Ulama dan Santri tempo doeloe dalam bela negara, bangsa dan agama dipinggirkan dan bahkan ditiadakan. Digantikan oleh para pelaku sejarah yang realitasnya hidupnya menolak bersama Ulama dan Santri dalam membangun kesatuan dan persatuan nasional melawan penjajah.

Realitas penulisan Sejarah Indonesia yang dengan sengaja meminggirkan Islam dengan para mujahidin sebagai pelaku sejarah, sampai detik ini terus dibiarkan. Hal ini sebagai dampak dari para Ulama, Kaum Pelajar, Para santri dan sebagainnya yang lebih mengutamakan atau membahas Sejarah Para Nabi dan Sahabatnya serta membahas Sejarah Timur Tengah. Alhasil, Sejarah para pahlawan yang berasal dari Ulama dan Santri tempo doeloe terlupakan.

Bung Karno dalam bukunya “Dibawah Bendera Revolusi” yang ternyata isinya masih relevan sampai sekarang, pernah berkata bahwa Ulama kurang feeling terhadap sejarah. Ulama kurang perhatiannya terhadap sejarah sebagai tulisan. Tidak pula paham bahwa dengan sejarah akan dapat mengubah alam pikiran manusia pembacanya.

Sejarah sebagai salah satu cabang Ilmu Sosial amatlah perlu mendapatkan perhatian serius dari Ulama, Kaum Pelajar, Para Santri serta ummat Islam Indonesia. Banyak karya sejarah Islam Indonesia dan Dunia Islam pada umumnya, yang beredar di sekitar kita. Namun, banyak pula isinya yang bertentangan dengan apa yang diperjuangkan oleh para Nabi, Sahabat, Ulama tempo doeloe serta ummat Islam. Apalagi, dari dulu dan hingga saat ini Deislamisasi telah dijalankan dalam sejarah Indonesia.