Santri Jakarta Antusias Ikuti Training di Cipining PDF

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Kegiatan training ini merupakan hasil musyawarah di pesantren Al-Mansur Serang pada awal Juli 2007. Pertemuan tersebut dihadiri para pimpinan pesantren, biro pendidikan, biro pengasuhan dan beberapa guru dari pesantren Darunnjaah Jakarta, Darunnajah Cipining dan Al-Mansur Serang. Delegasi Darunnajah Cipining pada musyawarah tersebut terdiri dari K.H. Jamhari Abdul Jalal, Lc (pimpinan pesantren), Ustadz Ahmad Rosikhin Wasyraf, S.Pd.I (Kepala Biro Pengasuhan Santri), Ustadz Jeje Juraemi, S.Ag.(Kepala MTs.), Ustadz Muhlisin Ibnu Muhtarom, S.H.I. (Kepala Asrama Santri Putra), dan Ustadz Asmari Ihsan Al-Hafidz (Kepala Asrama Santri Tahfidz Al- Qur’an).

Musyawarah itu dibuka oleh pimpinan pesantren Darunnjah Jakarta, Drs. K.H. Sofwan Manaf, M.Si. Setelah melalui berbagai pertimbangan dan pemikiran, akhirnya disepakati bahwa 74 santri putra ditempatkan di Darunajah Cipining, dan 40 santri putri ditempatkan di Al-Mansur Serang.

Berkenaan dengan keputusan tersebut, di Darunnajah Cipining ditunjuk Ustadz Muhlisin Ibnu Muhtarom, S.H.I. sebagai penanggung jawab program. Program ini dibagi menjadi 2 (dua) kategori: (1) Kategori Isyrafut Tafawwuq, selama 2 pekan (16-30 Juli 2007), bagi santri yang mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis Arab. Jumlah pesertanya 52 anak; dan (2) Kategori Isyrafus Suluk, selama 3 bulan (16 Juli-30 September 2007), bagi santri yang mempunyai masalah disiplin dan akhlak. Jumlah pesertanya 22 anak. Mereka berasal dari berbagai kelas, baik tingkat Tsanawiyah maupun Aliyah.

Dalam praktiknya, progam kategori Isyrafut Tafawwuq dilakukan ba’da Shuhuh, pagi hari (jam 08.00-10.00), ba’da Ashar dan ba’da Maghrib. Adapun ba’da Isya diisi dengan materi imla’ atau belajar menulis mandiri. Para santri diberi tugas menulis/menyalin beberapa halaman dari buku panduan: 10 Jam Belajar Membaca Al-Qur’an, yang disusun oleh Dr. Habib Chirzin, kemudian diperiksa oleh musyrif pada keesokan harinya. Para santri yang terdiri dari kelas II, III dan V TMI tersebut dibagi menjadi 3 kelompok. Setiap kelompok terdiri atas 15-18 anak, dibimbing oleh dua ustadz sekaligus wali kamar mereka. Para trainer tersebut adalah Ustadz Muhlisin Ibnu Muhtarom, S.H.I. dan Ustadz Asmari Ichsan Al-Hafidz (Kelompok I, kamar 14), Ustadz Mu’allim Fajri Rustam dan Ustadz Syarqi Suganda Sa’in (Kelompok 2, kamar tengah), dan Ustadz Hanafi Salman dan Ustadz Ahmad Abdulloh Husaeni (Kelompok 3, kamar 12).

Adapun santri yang mengikuti progam tiga bulan bertempat tinggal di kamar 13 di bawah asuhan Ustsdz Irfan Nuryani, S.Ag.

Di samping belajar mengaji Al-Qur’an dan menulis huruf Arab, para santri yang tampak bersemangat tersebut juga mendapatkan materi tambahan lain, seperti: kuliah umum oleh pimpinan pesantren setiap Jum’at pagi, ESQ for Kids oleh Ustadz Mukhammad Mudatstsir, S.H.I. (alumnus pelatihan ESQ tahun 2006), pendalaman aqidah Islamiyah oleh Ustadz Muhlisin Ibnu Muhtarom, S.H.I., dan hafalan ayat-ayat pilihan oleh Ustadz Asmari Ichsan Al-Hafidz.

Mereka juga dibiasakan untuk mudzakarah dan mempraktikkan adab-adab harian yang dipandu oleh wali kamar masing-masing. Di penghujung progam, para peserta yang terlihat enjoy dengan keasrian dan kesejukan lingkungan Darunnajah Cipining ini, diadu kebolehannya dalam aneka lomba seperti: mengarang cerita pendek (cerpen), cerdas cermat agama, kebersihan kamar, juga lomba ‘santri paling gaul,’ yaitu peserta yang terbanyak mengenal dan menghafal nama ustadz dan santri Darunnajah Cipining.

Sementara itu, peserta progam Isyrafus Suluk selama tiga bulan, mereka mengikuti rutinitas kegiatan seperti santri Darunnajah Cipining pada umumnya. Mereka belajar di kelas dari pukul 06.45-13.40 wib setiap hari. Di luar itu mereka mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti: menjadi peserta TAGANA, menjadi panitia PORSEKA, menjadi panitia kegiatan Santunan Sosial, melatih kegiatan kepramukaan, bahkan salah seorang dari mereka ikut terlibat magang mengajar di Madrasah Diniyah. Meskipun pada awalnya mereka agak kaget dengan sistem pengasuhan Darunnajah Cipining yang ‘agak berbeda’ dengan Darunnajah Jakarta, namun secara umum, mereka dapat mengikuti progam tersebut dengan baik. “Kita pasti bisa berubah ke arah yang lebih baik, (karena) Umar bin Khottob yang pernah membunuh putrinya hidup-hidup saja, bisa berubah menjadi sahabat Rosul yang dijamin masuk Surga !” Demikian kesan dan pesan salah seorang peserta santri kelas 6 TMI yang disampaikannya dengan mantap kepada panitia. Kita pasti bisa lebih baik, semoga!

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait