Santri IQDA Darunnajah 2 Cipining: Mencetak Generasi Qurani Bertalenta Seni

Di tengah modernisasi yang kian pesat, Pesantren Darunnajah 2 Cipining tetap konsisten melestarikan seni baca Al-Quran melalui wadah Ikatan Qori Darunnajah (IQDA). Program unggulan yang diinisiasi oleh Qismul Ibadah OSDC ini menjadi oase bagi 44 santri berbakat dalam mengembangkan kemampuan tilawah dengan ragam maqamat.

 

Dua kali dalam sepekan, tepatnya Senin dan Rabu seusai salat Ashar, para santri terpilih berkumpul untuk mengasah kemampuan membaca Al-Quran dengan irama bayyati, shoba, nahawan, hijaz, rots, hingga syikah jiharkah. Mereka dibimbing langsung oleh tujuh pelatih internal pesantren yang memiliki dedikasi tinggi.

 

“IQDA bukan sekadar wadah pelatihan, tapi juga menjadi sarana pembentukan karakter santri yang mencintai Al-Quran,” ungkap Fatkhul Mu’min, salah satu staf pelatih IQDA. Menurutnya, program ini dirancang sistematis dengan pembagian tiga kategori: mubtadi (pemula), mutawassith (menengah), dan mutamayyiz (mahir).

 

Para santri yang tergabung dalam IQDA merupakan hasil seleksi ketat yang diselenggarakan OSDC. Mereka tidak hanya dilatih teknik vokal, namun juga diarahkan untuk memahami makna mendalam dari ayat-ayat yang dilantunkan, sehingga dapat mentadabburi Al-Quran dengan lebih baik.

 

Meski menghadapi tantangan seperti padatnya jadwal dan kendala teknis suara, semangat para santri tidak pernah surut. Setiap akhir semester, pesantren menggelar Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) internal sebagai ajang evaluasi dan apresiasi bagi para qori dan qori’ah berprestasi.

 

Program IQDA telah membuktikan diri sebagai pembentuk bibit unggul qori dan qori’ah yang mampu mengharumkan nama pesantren. Lebih dari itu, program ini menjadi bukti nyata komitmen Darunnajah 2 Cipining dalam mencetak generasi yang tidak hanya cakap dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki keterampilan seni membaca Al-Quran.

 

Keberadaan IQDA menjadi magnet tersendiri bagi calon santri yang memiliki minat dalam bidang tilawah. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi pesantren dan modernitas dapat berjalan beriringan dalam membentuk generasi Qurani yang bertalenta.