Santri Darunnajah Takrir Hafalan Al-Qur’an 10 Kali Putaran Santri Darunnajah Takrir Hafalan Al-Qur’an 10 Kali Putaran

Santri Darunnajah Takrir Hafalan Al-Qur’an 10 Kali Putaran

Muhammad Iman Rafi, santri kelas 5A TMI Darunnajah 2 Cipining, berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz dalam waktu 2 tahun 1 bulan. Prestasi membanggakan ini dilengkapi dengan keberhasilannya melakukan takrir (pengulangan) Al-Qur’an sebanyak 10 kali putaran.

Santri Darunnajah Takrir Hafalan Al-Qur’an 10 Kali Putaran
Santri Darunnajah Takrir Hafalan Al-Qur’an 10 Kali Putaran

Perjalanan hafalan Rafi dimulai sejak 17 Juli 2022 melalui program kelas intensif di Pesantren Darunnajah 2 Cipining. Rafi mengetahui pesantren ini saat mencari di internet dan menemukan beasiswa tahfidz. Motivasi utama Rafi adalah membanggakan orang tua serta memberikan mahkota, jubah, dan kehormatan kepada mereka di akhirat nanti.

Tantangan terbesar penghafal Al-Qur’an adalah menjaga konsistensi di tengah kejenuhan dan kelelahan. Rafi mengatasinya dengan melakukan muhasabah (evaluasi diri), merenungkan kembali tujuan menghafal, dan berkonsultasi dengan para senior pesantren.

Konsistensi menjadi kunci utama keberhasilannya. Rafi memanfaatkan waktu-waktu mustajab seperti antara azan dan iqamah serta menjelang berbuka puasa untuk memperkuat hafalan. Strategi ini terbukti efektif mempertajam daya ingat terhadap ayat-ayat suci.

Rafi mengungkapkan bahwa sebenarnya ia telah menyelesaikan hafalan 30 juz sebelum masuk pesantren. Selama di pesantren, fokusnya adalah mengulang hafalan hingga mencapai 10 kali putaran.

Keseimbangan antara menghafal Al-Qur’an dan pendidikan formal menjadi tantangan tersendiri. Kegiatan formal terkadang mengganggu waktu murajaah, namun Rafi memegang prinsip bahwa penghafal Qur’an sejati harus tetap istiqomah menghadapi tantangan apapun.

Kisah Rafi memberikan inspirasi bahwa prestasi menghafal Al-Qur’an dapat dicapai melalui ketekunan, konsistensi, dan strategi tepat. Lingkungan pesantren yang kondusif turut mendukung pencapaian cita-cita menjadi hafiz, membuktikan bahwa pendidikan formal dan menghafal Al-Qur’an dapat berjalan beriringan.