Di beberapa pesantren, ada kegiatan jurnalistik yang cukup aktif — santri belajar menulis berita, meliput kegiatan, mewawancarai narasumber, dan menyusun majalah pesantren. Semua dilakukan oleh santri sendiri — dari menulis sampai mendesain layout. Hasilnya mungkin tidak seprofesional media cetak, tapi proses belajarnya sangat berharga.
Apa yang dipelajari?
Menulis dengan struktur yang jelas. Merangkai kata agar menarik dibaca. Memilih topik yang relevan untuk pembaca. Dan bekerja dalam tim — karena membuat satu edisi majalah butuh kerja sama banyak orang. Semua keterampilan ini berguna di luar pesantren — untuk kuliah, karir, bahkan kehidupan sehari-hari.
Di pesantren, jurnalistik juga kadang menjadi sarana untuk melatih bahasa — karena tulisan bisa dibuat dalam bahasa Indonesia, Arab, atau Inggris. Ini memberi konteks nyata untuk penggunaan bahasa yang dipelajari.
Tapi seperti kegiatan lain, kualitasnya tergantung pembimbingannya. Ada pesantren yang program jurnalistiknya sudah cukup matang, ada yang masih tahap awal. Hasilnya bervariasi.
Salah satu pesantren di Bogor
Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining punya kegiatan jurnalistik sebagai salah satu ekstrakurikuler. Santri membuat majalah dan konten pesantren. Masih terus berkembang — ada yang sudah bagus, ada yang perlu ditingkatkan. Hubungi lewat WhatsApp 0812111180.