Memilih baju. Memilih kegiatan ekskul. Memilih teman. Memilih jurusan. Skala keputusannya berbeda, tapi prosesnya sama: menimbang pilihan, mempertimbangkan konsekuensi, dan berani menanggung hasilnya. Anak yang dilatih membuat keputusan kecil sejak remaja akan lebih siap saat harus membuat keputusan besar di usia dewasa. Sebaliknya, anak yang semua keputusannya selalu ditentukan orang lain akan kebingungan saat akhirnya harus memutuskan sendiri.
Kenapa banyak anak tidak bisa mengambil keputusan?
Karena tidak pernah diberi kesempatan. Orang tua yang menentukan semuanya — dari baju yang dipakai sampai kegiatan yang diikuti, dari teman yang boleh diajak sampai cita-cita yang harus dicapai — tanpa sadar merampas kesempatan anak untuk berlatih. Niatnya melindungi. Hasilnya: anak yang bergantung.
Sebagian karena takut anak membuat keputusan yang salah. Tapi keputusan yang salah di usia remaja — dengan konsekuensi yang masih relatif kecil — adalah latihan yang jauh lebih murah dari keputusan yang salah di usia dewasa dengan konsekuensi yang bisa sangat mahal.
Bagaimana melatihnya?
Pertama, berikan pilihan sejak dini. Bukan pilihan tanpa batas — tapi pilihan dalam kerangka yang sudah ditentukan. “Kamu mau pakai baju yang merah atau biru?” bukan “kamu mau pakai apa?” Yang pertama melatih memilih. Yang kedua bisa overwhelming. Kedua, ajarkan proses pengambilan keputusan. Bukan hanya hasilnya. “Apa pilihannya? Apa kelebihan dan kekurangan masing-masing? Apa yang paling penting buatmu? Kalau pilih ini, apa yang mungkin terjadi?” Proses berpikir ini, kalau sudah menjadi kebiasaan, bisa diterapkan untuk keputusan apa pun.
Ketiga, izinkan keputusan yang tidak sempurna. Anak memilih ekskul yang akhirnya tidak disukainya? Itu pelajaran. Memilih cara belajar yang tidak efektif? Itu pelajaran. Setiap keputusan yang hasilnya tidak ideal mengajarkan sesuatu yang tidak bisa didapat dari keputusan orang tua yang selalu sempurna.
Keempat, bedakan keputusan yang boleh diambil anak dan yang harus ditentukan orang tua. Keputusan soal keselamatan, kesehatan, dan prinsip agama tetap di tangan orang tua. Tapi keputusan soal gaya, minat, dan preferensi personal bisa diserahkan pada anak — dengan pendampingan. Kelima, diskusikan keputusan besar bersama. Saat ada keputusan yang signifikan — pindah sekolah, ikut lomba, memilih jurusan — libatkan anak dalam prosesnya. Bukan berarti anak yang memutuskan, tapi anak yang dilibatkan. Perbedaannya sangat besar bagi sense of ownership-nya terhadap keputusan itu.
Apa peran lingkungan?
Lingkungan yang memberikan banyak kesempatan untuk mengambil keputusan mandiri sangat mendukung. Di pesantren, santri mengambil banyak keputusan setiap hari tanpa orang tua: bagaimana mengatur waktu belajar, kegiatan ekskul mana yang diikuti, bagaimana mengelola uang saku, bagaimana menyelesaikan masalah dengan teman. Setiap keputusan ini — sekecil apa pun — melatih otot pengambilan keputusan.
Organisasi santri di pesantren memberikan latihan yang lebih besar: mengambil keputusan yang berdampak pada orang banyak, merencanakan acara, mendelegasikan tugas, dan mempertanggungjawabkan hasilnya. Ini latihan decision-making yang sangat nyata dan intensitasnya sulit direplikasi di lingkungan yang lebih terkontrol oleh orang tua.
Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat memberikan banyak santri kesempatan mengambil keputusan mandiri setiap hari — dari hal kecil sampai tanggung jawab organisasi yang besar. Ini latihan yang hasilnya cukup terasa pada kemandirian dan kepercayaan diri alumni.
Kunjungan kapan saja. Atau hubungi WhatsApp 0812111180.
Anak yang tidak pernah diizinkan memutuskan akan menjadi orang dewasa yang tidak berani memutuskan. Dan di dunia yang penuh pilihan, ketidakmampuan memutuskan bisa sama merugikannya dengan memutuskan yang salah.