Santri yang Berlatih Berbicara di Depan Umum untuk Kebutuhan Nyata — Bukan Latihan di Atas Kertas
Bagi orang tua yang ingin anak berani berbicara di depan orang banyak, ada satu kenyataan yang perlu dipahami tentang bagaimana keberanian itu terbentuk. Keberanian tidak muncul dari membaca buku tentang cara berbicara. Ia juga tidak muncul dari kursus beberapa hari. Keberanian muncul dari berdiri di depan orang berkali-kali sampai rasa takut itu berkurang dengan sendirinya.
Bagi orang tua dengan anak yang aktif kreatif, kemampuan berbicara di depan umum menjadi salah satu keterampilan yang paling diinginkan. Asumsi yang sering muncul adalah bahwa keterampilan ini bisa dilatih melalui kursus khusus. Padahal yang paling menentukan adalah jumlah kesempatan berdiri di depan orang, dan kesempatan seperti itu jarang tersedia di sekolah biasa.
Kehidupan pesantren memberi kesempatan berbicara di depan umum dengan frekuensi yang jauh lebih tinggi dari sekolah biasa. Bukan sebagai latihan melainkan sebagai kebutuhan nyata yang harus dipenuhi.
Sudut Pandang Orang Tua tentang Cara Terbentuknya
Bagi orang tua yang memikirkan bagaimana anak bisa menjadi pembicara yang baik, ada beberapa hal yang perlu dipahami tentang proses pembentukannya.
Pemahaman pertama adalah bahwa ketakutan berbicara di depan umum adalah hal yang normal dan dialami hampir semua orang. Bahkan pembicara berpengalaman masih merasakannya. Yang membedakan adalah mereka sudah terbiasa dan tahu bahwa rasa itu akan berlalu.
Pemahaman kedua adalah bahwa ketakutan ini berkurang melalui pembiasaan, bukan melalui pengetahuan. Membaca seratus buku tentang berbicara di depan umum tidak akan mengurangi ketakutan sebanyak berdiri di depan orang sepuluh kali.
Pemahaman ketiga adalah bahwa yang dibutuhkan adalah lingkungan yang menyediakan kesempatan berulang dengan risiko yang terkendali. Anak perlu berbicara di depan orang berkali-kali dalam suasana di mana kesalahan tidak berakibat fatal.
Sekolah biasa jarang menyediakan ini. Kesempatan berbicara di depan kelas mungkin hanya beberapa kali dalam setahun. Itu tidak cukup untuk membentuk kebiasaan.
Pesantren menyediakan kesempatan ini secara rutin dan dalam berbagai bentuk. Bukan sebagai latihan buatan melainkan sebagai kebutuhan yang memang harus dipenuhi.
Pemahaman keempat adalah bahwa berbicara di depan umum lebih dari sekadar teknik. Yang paling menentukan adalah apakah pembicara memiliki sesuatu yang layak disampaikan. Orang yang tidak punya substansi akan terlihat kosong meski tekniknya bagus.
Di sinilah pendidikan pesantren memberi kelebihan. Santri memiliki bahan yang banyak untuk disampaikan karena mereka mempelajari begitu banyak hal. Mereka tidak kehabisan bahan.
Kesempatan yang Tersedia di Pesantren
Kesempatan pertama adalah muhadhoroh atau latihan pidato rutin. Ini menjadi kegiatan yang diadakan mingguan di banyak pesantren. Setiap santri mendapat giliran tampil beberapa kali dalam setahun.
Yang penting bukan hanya kesempatan tampil melainkan juga kesempatan menjadi audiens. Santri belajar dengan mengamati temannya, melihat apa yang berhasil dan apa yang tidak.
Kesempatan kedua adalah menjadi pembawa acara. Setiap kegiatan pesantren membutuhkan pembawa acara. Ini melatih kemampuan berbicara spontan yang berbeda dari pidato yang sudah disiapkan.
Kesempatan ketiga adalah menyampaikan pengumuman. Pengurus organisasi santri sering harus menyampaikan pengumuman di depan seluruh santri. Ini kesempatan yang tidak dramatis namun sangat sering dan membangun kebiasaan.
Kesempatan keempat adalah memimpin rapat. Pengurus organisasi memimpin rapat dengan berbagai pendapat yang harus dikelola. Ini melatih kemampuan berbicara sekaligus mendengarkan dan mengarahkan.
Kesempatan kelima adalah menjadi imam dan menyampaikan kultum. Beberapa pesantren memberi kesempatan santri senior menyampaikan ceramah singkat setelah shalat. Ini melatih menyampaikan hal yang bermakna dalam waktu singkat.
Kesempatan keenam adalah lomba pidato antar santri atau antar pesantren. Suasana kompetisi memberi tekanan yang berbeda dan melatih ketahanan mental.
Kesempatan ketujuh adalah berbicara dalam bahasa asing. Muhadhoroh sering diadakan dalam bahasa Arab dan Inggris juga. Ini melatih keberanian berbicara dalam bahasa yang belum sepenuhnya dikuasai.
Kesempatan kedelapan adalah menjelaskan pelajaran kepada adik kelas. Santri senior sering diminta membantu adik kelas. Menjelaskan sesuatu kepada orang lain adalah salah satu cara terbaik untuk memahami sekaligus melatih menyampaikan.
Kemampuan yang Terbentuk
Kemampuan pertama adalah mengendalikan rasa gugup. Bukan menghilangkannya, karena itu tidak mungkin, melainkan tetap bisa berfungsi meski merasa gugup.
Kemampuan kedua adalah menyusun gagasan dengan runtut. Berbicara di depan orang menuntut struktur. Pembicaraan yang berputar-putar membuat pendengar bingung. Santri belajar menyusun pembukaan, isi, dan penutup.
Kemampuan ketiga adalah membaca reaksi pendengar. Pembicara yang baik menyadari ketika pendengar mulai bosan atau bingung dan menyesuaikan penyampaiannya.
Kemampuan keempat adalah berbicara tanpa persiapan. Banyak situasi di pesantren menuntut berbicara spontan. Kemampuan ini sangat berharga untuk kehidupan profesional.
Kemampuan kelima adalah menjaga sikap tubuh dan suara. Bagaimana berdiri, ke mana melihat, seberapa keras berbicara. Hal-hal ini dipelajari melalui koreksi berulang.
Kemampuan keenam adalah menyampaikan dengan adab. Berbicara di depan orang menuntut penghormatan terhadap pendengar. Tidak menggurui, tidak merendahkan, tidak menyinggung. Adab ini diajarkan dan dipraktikkan.
Kemampuan ketujuh adalah menerima kritik atas penampilan. Setelah tampil, biasanya ada masukan dari ustadz atau teman. Kesediaan menerima kritik dan memperbaiki menjadi bagian dari proses.
Bagi orang tua dengan anak aktif kreatif, jenjang pesantren modern memberi kesempatan berbicara di depan umum dengan frekuensi yang tidak tersedia di tempat lain. Kemampuan yang terbentuk menjadi modal yang sangat berharga untuk berbagai peran di masa depan.
Kemampuan berbicara di depan umum seperti yang dibahas di sini memang terbentuk dari kesempatan yang berulang, bukan dari kursus singkat. Yang efektif adalah lingkungan yang menuntut anak berdiri di depan orang secara rutin dengan tanggung jawab nyata. Pesantren Darunnajah 2 Cipining berusaha menyediakan kesempatan tersebut bagi anak yang dititipkan di sana. Tentu setiap keluarga juga punya cara sendiri untuk membangun kepercayaan diri anak.
Bila Ingin Berbincang Lebih Jauh
Bila Bapak atau Ibu ingin berbincang lebih jauh, bisa langsung menghubungi WhatsApp di wa.me/62812111180. Pertanyaan apapun akan dijawab dengan tenang dari pengalaman keseharian, bukan dari brosur. Kunjungan langsung juga terbuka setiap hari tanpa perlu janji terlebih dahulu, dan biasanya pengamatan sendiri memberi gambaran yang lebih utuh dari apa yang bisa dijelaskan dalam tulisan.