Berdakwah dijalan allah di era modern seperti ini sangatlah bevariasi dengan menggunakan media digital seperti Youtube, Instagram, Tiktok. Tentunya akan diisi oleh konten – konten kreatif yang akan ditonton oleh berbagai netizen nasional maupun internasional.
Hadirnya santri pesantren dalam konteks kreator media sosial di era seperti ini tentunya menghindari konten-konten yang bersifat negatif atau tidak mendidik bagi setiap penontonnya, salah satunya berita hoax yang banyak membuat masyarakat bingung dalam penyampaian informasi tidak jelas yang didapat.
Bermusik, podcast, konten kreator adalah salah satu ladang untuk berdakwah yang dimiliki Santri Pesantren Darunnajah di era digital pada saat ini guna untuk perkembangan santri dan informasi yang edukatif bagi setiap penontonya, Untaian kata kata / kegiatan dikemas dengan proses yang di kelola santri yang akan disajikan untuk bersyiar dijalan allah, tak lupa juga proses proses yang dilalui oleh santri dalam pembuatan Konten sangatlah penting dilalui untuk lebih menghargai sebuah proses, langkah demi langkah. Tidak itu juga, santri berperan sebagai subjek dalam proses pembuatan karya tersebut.
Berdakwah dijalan allah tentunya sangat lah mulia dimata allah. Penanaman karakter dakwah santri dilakukan dari usia muda ketika santri masuk kedalam pesantren hingga tumbuh dari lubuk hati yang paling dalam untuk berlomba lomba dalam kebaikan, salah satunya adalah berdakwah.
Hadirnya santri santri dalam dunia digital seperti ini sangat lah penting dan sangatlah berarti. Ribuan, bahkan jutaan orang diluar sana berlomba lomba membuat konten negative dan positif, tetapi hadirnya santri-santri berkontribusi selalu dengan kemasan positif dan konten positif.
Kemampuan Soft skill yang dimiliki santri dalam kemampuan bermedia sosial ditumbuhkan dari kreatifitas dalam berseni dan dikemas kedalam media digital seperti animasi, cinematography dan lain lain dan santri diajarkan dari guru guru yang belajar langsung dengan ahlinya sehinga dapat mempermudah mengajari santri dari unsur dasar sampai ke jenjang menengah sehingga dapat maximal dalam berkontribusi dakwah dalam era digital seperti sekarang ini, tentunya dibawah arahan dari guru guru untuk dikoreksi terlebih dahulu agat dapat diterima dengan baik oleh viewers media sosial.