Santri yang Belajar Memperbaiki Peralatan Sederhana Sendiri — Kecakapan Teknis yang Praktis
Sebuah kipas angin yang rusak di kamar asrama tidak akan diperbaiki oleh siapa pun kecuali penghuninya sendiri. Tidak ada teknisi yang siap datang. Tidak ada ayah yang bisa dimintai tolong. Bila santri ingin kamarnya tetap sejuk, ia harus mencoba memperbaikinya sendiri atau menahan panas sampai entah kapan.
Bagi orang tua dengan anak yang aktif kreatif dan menunjukkan minat teknis, kesempatan belajar memperbaiki menjadi hal yang jarang tersedia di rumah. Asumsi yang sering muncul adalah bahwa memperbaiki barang adalah pekerjaan tukang dan lebih baik memanggil ahlinya. Padahal kemampuan memahami cara kerja benda dan memperbaikinya membentuk cara berpikir yang sangat berharga.
Kehidupan asrama menghadirkan kebutuhan memperbaiki sebagai hal yang rutin. Peralatan yang digunakan bersama oleh banyak orang lebih cepat rusak. Anggaran pesantren terbatas. Santri yang berinisiatif memperbaiki menjadi orang yang sangat dihargai teman-temannya.
Cerita di Balik Kecakapan yang Terbentuk
Cerita di balik bagaimana santri mengembangkan kecakapan teknis biasanya bermula dari kebutuhan, bukan dari minat.
Awalnya biasanya dari kejengkelan. Lampu kamar mati dan gelap. Kipas angin berhenti berputar dan kamar menjadi panas. Keran air bocor dan lantai selalu basah. Pintu lemari lepas engselnya. Persoalan-persoalan kecil ini mengganggu kenyamanan setiap hari.
Melaporkan ke pengurus pesantren memang bisa dilakukan namun antriannya panjang. Perbaikan bisa memakan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu karena banyak yang harus diperbaiki dan sumber daya terbatas.
Dalam keadaan seperti ini, biasanya ada satu atau dua santri yang mencoba memperbaiki sendiri. Awalnya sekadar mencoba-coba tanpa pengetahuan. Kadang berhasil, kadang justru bertambah rusak.
Yang berhasil biasanya menjadi rujukan. Teman-teman mulai meminta bantuannya ketika ada yang rusak. Ia mendapat kesempatan mencoba lebih banyak dan belajar dari setiap percobaan.
Perlahan ia mulai memahami pola. Kipas yang tidak berputar biasanya karena kabel putus atau kapasitor rusak. Lampu yang mati biasanya karena fitting longgar atau bohlamnya putus. Keran yang bocor biasanya karena karetnya aus.
Pemahaman ini tidak datang dari buku melainkan dari mencoba, gagal, mencoba lagi, dan akhirnya berhasil. Pembelajaran melalui percobaan ini membentuk pemahaman yang jauh lebih dalam dari sekadar membaca.
Beberapa santri kemudian mengembangkan minat yang lebih serius. Mereka mulai membaca, menonton penjelasan, atau bertanya kepada orang yang lebih tahu. Minat yang tumbuh dari kebutuhan nyata biasanya jauh lebih kuat dari minat yang dipaksakan.
Beberapa alumni menceritakan bahwa minat mereka pada teknik bermula dari pengalaman memperbaiki peralatan di asrama. Mereka kemudian memilih jurusan teknik di perguruan tinggi dan berkarir di bidang itu.
Kecakapan yang Terbentuk
Kecakapan pertama adalah memahami cara kerja sesuatu. Untuk memperbaiki, seseorang harus memahami bagaimana seharusnya benda itu bekerja. Ini melatih cara berpikir sistematis tentang sebab dan akibat.
Kecakapan kedua adalah mendiagnosis persoalan. Ketika sesuatu tidak bekerja, ada banyak kemungkinan penyebabnya. Menyempitkan kemungkinan secara logis adalah keterampilan berpikir yang sangat berharga.
Kecakapan ketiga adalah mencoba secara sistematis. Mencoba secara acak jarang berhasil. Yang efektif adalah menguji satu kemungkinan pada satu waktu. Ini adalah metode berpikir ilmiah yang dipraktikkan tanpa disadari.
Kecakapan keempat adalah menggunakan alat dengan benar. Obeng, tang, atau alat sederhana lain harus digunakan dengan cara yang tepat. Menggunakan alat dengan salah bisa merusak barang atau melukai diri.
Kecakapan kelima adalah keselamatan. Berurusan dengan listrik menuntut kehati-hatian. Santri belajar bahwa kelalaian bisa berakibat fatal. Kesadaran akan keselamatan ini penting.
Kecakapan keenam adalah kreativitas dengan sumber daya terbatas. Di asrama, tidak selalu tersedia suku cadang yang tepat. Santri belajar mencari cara lain dengan apa yang ada. Kreativitas ini muncul dari keterbatasan.
Kecakapan ketujuh adalah merawat agar tidak rusak. Setelah merasakan sulitnya memperbaiki, santri biasanya lebih berhati-hati dalam menggunakan peralatan. Pencegahan lebih baik dari perbaikan.
Kecakapan kedelapan adalah melayani orang lain. Santri yang bisa memperbaiki sering membantu teman-temannya. Kemampuan yang bermanfaat bagi orang lain memberi kepuasan tersendiri.
Nilai yang Lebih Dalam
Ada nilai yang lebih dalam dari sekadar kecakapan teknis.
Nilai pertama adalah keyakinan bahwa persoalan bisa diselesaikan. Anak yang terbiasa memperbaiki barang yang rusak mengembangkan keyakinan bahwa persoalan bisa dipecahkan bila dicoba dengan sungguh-sungguh. Keyakinan ini terbawa ke berbagai persoalan hidup lainnya.
Nilai kedua adalah kesediaan mencoba meski belum tahu caranya. Banyak orang tidak mencoba karena merasa tidak bisa. Santri yang terbiasa mencoba belajar bahwa tidak tahu bukan alasan untuk tidak mencoba.
Nilai ketiga adalah ketahanan menghadapi kegagalan. Perbaikan sering gagal pada percobaan pertama. Yang berhasil adalah yang tidak menyerah setelah gagal.
Nilai keempat adalah menghargai barang. Orang yang pernah memperbaiki barang lebih menghargainya. Ia tahu betapa rumit sesuatu yang tampak sederhana.
Nilai kelima adalah tidak boros. Membuang barang yang masih bisa diperbaiki adalah pemborosan. Kesadaran ini sejalan dengan ajaran Islam tentang larangan berlebihan.
Nilai keenam adalah kemandirian. Orang yang bisa memperbaiki tidak selalu bergantung pada orang lain untuk persoalan yang sebenarnya bisa ia selesaikan sendiri.
Bagi orang tua dengan anak aktif kreatif yang berminat teknis, jenjang pesantren modern memberi ruang belajar yang muncul dari kebutuhan nyata. Kecakapan yang terbentuk bukan hanya keterampilan teknis melainkan cara berpikir yang berharga sepanjang hidup.
Kecakapan memperbaiki seperti yang dibahas di sini memang terbentuk dari kebutuhan, bukan dari kursus. Yang efektif adalah keadaan yang menuntut anak mencoba sendiri karena tidak ada yang akan mengerjakannya. Pesantren Darunnajah 2 Cipining berusaha menyediakan ruang tumbuh yang membentuk kemandirian bagi anak yang dititipkan di sana. Tentu setiap keluarga juga punya cara sendiri untuk mengembangkan kecakapan praktis anak.
Bila Ingin Berbincang Lebih Jauh
Bila Bapak atau Ibu ingin berbincang lebih jauh, bisa langsung menghubungi WhatsApp di wa.me/62812111180. Pertanyaan apapun akan dijawab dengan tenang dari pengalaman keseharian, bukan dari brosur. Kunjungan langsung juga terbuka setiap hari tanpa perlu janji terlebih dahulu, dan biasanya pengamatan sendiri memberi gambaran yang lebih utuh dari apa yang bisa dijelaskan dalam tulisan.