Pernah Memperbaiki Sepatu Sendiri yang Hampir Jebol — Pengalaman Kecil yang Diam-diam Membentuk Cara Anak Memandang Barang

Pernah Memperbaiki Sepatu Sendiri yang Hampir Jebol — Pengalaman Kecil yang Diam-diam Membentuk Cara Anak Memandang Barang

Seorang anak duduk di pojok tangga asrama, memegang sepatu kanannya yang hampir jebol di bagian depan. Jari-jarinya menekan lem yang baru ia oleskan. Napasnya pelan-pelan. Di atas tangga, teman-temannya berlalu-lalang, tertawa, sesekali bertanya, masih kena pakai besok? Ia mengangguk sambil meneruskan menekan. Setelah beberapa menit, ia tahan dengan tangan, lalu ditaruh di bawah meja sambil diganjal batu kecil supaya tidak goyang. Besok pagi ia cek lagi. Kalau keringnya bagus, masih akan dipakai ke sekolah.

Adegan seperti ini jarang terasa penting. Padahal kalau dicermati, yang sebenarnya terjadi bukan sekadar memperbaiki sepatu. Sesuatu di dalam diri anak ini sedang terbentuk.

Apa yang sebenarnya terjadi di kepala anak saat ia memperbaiki sendiri?

Ada beberapa proses kecil yang berjalan bersamaan.

Pertama, ia sedang melihat barangnya dari dekat, bukan dari jauh. Sepatu yang tiap hari dipakai tapi tidak pernah benar-benar diperhatikan menjadi objek perhatian. Ia tahu persis di mana bagian yang lemah. Ia tahu bahan solnya. Ia tahu benangnya sudah menipis di mana. Pemahaman detail seperti ini tidak mungkin muncul dari anak yang setiap sepatunya rusak langsung diganti baru.

Kedua, ia sedang mengalami rentang waktu yang berbeda dari yang biasa. Banyak aktivitas anak modern berlangsung dalam hitungan detik — swipe, tap, cepat selesai. Memperbaiki sepatu dengan lem butuh kesabaran. Harus ditunggu. Harus ditekan lama. Harus tidak diotak-atik dulu. Pengalaman menunggu ini, yang di konteks lain mungkin terasa membosankan, di sini menjadi pelajaran tentang cara kerja dunia fisik — yang tidak selalu instan.

Ketiga, ia sedang memaklumi ketidaksempurnaan. Sepatu hasil lem sendiri tidak akan sebagus baru. Ada sedikit bekas. Ada bagian yang masih terasa kaku. Tapi ia belajar bahwa itu tidak masalah. Yang penting masih bisa dipakai. Yang penting masih layak. Kemampuan menerima barang yang tidak sempurna adalah salah satu sikap yang hari ini semakin langka.

Keempat, ia sedang mengalami sensasi kecil tapi bertahan lama — kepuasan memperbaiki sesuatu dengan tangannya sendiri. Kepuasan ini jarang didapat dari membeli barang baru, yang memberi rasa senang sesaat lalu hilang. Kepuasan dari memperbaiki lebih tenang, lebih dalam, dan cenderung membekas.

Kenapa pengalaman seperti ini jarang terjadi di rumah modern?

Alasannya saling berkaitan.

Banyak barang sekarang dirancang untuk dibuang, bukan diperbaiki. Sepatu murah yang jebol lebih mudah dibeli baru daripada diperbaiki. Tas sekolah yang zipper-nya rusak lebih cepat diganti baru daripada diperbaiki. Mainan yang pecah sering langsung masuk tempat sampah. Budaya ini menular ke anak tanpa kata-kata. Ia belajar bahwa barang rusak cenderung dibuang, bukan dipelajari ulang.

Kemudahan finansial sebagian keluarga juga mempengaruhi. Bukan sesuatu yang salah untuk bisa membeli baru. Tapi kalau setiap kerusakan kecil langsung dijawab dengan pembelian baru, anak jarang dapat kesempatan untuk menjalani proses memperbaiki. Yang ia pelajari hanya satu — kalau rusak, beli lagi.

Ketersediaan jasa juga berperan. Banyak hal yang dulu diperbaiki sendiri sekarang ada tukangnya. Memperbaiki sepatu? Ada jasa reparasi. Memperbaiki zipper? Ada penjahit. Ini memudahkan hidup orang dewasa, tapi sekaligus menjauhkan anak dari pengalaman menyentuh, merasakan, dan mencoba menyelesaikan sendiri.

Hasilnya, banyak anak tumbuh tanpa pernah benar-benar memperbaiki apa pun dengan tangannya sendiri. Barang yang mereka miliki seluruhnya dibeli, dirawat, dan kalau rusak diganti. Hubungan mereka dengan barang jadi satu arah — konsumen, bukan pemilik.

Di mana budaya memperbaiki masih hidup secara natural?

Di tempat-tempat di mana kesederhanaan bukan gaya, tapi cara hidup.

Asrama pesantren adalah salah satunya. Di pesantren yang menjalankan nilai kesederhanaan — salah satu dari Panca Jiwa yang dihidupkan dalam keseharian — santri belajar mempertahankan apa yang dimiliki lebih lama dari yang biasa.

Di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, santri menerima kamar sederhana, lemari kayu standar, kasur yang dipakai ribuan kali, dan peralatan pribadi yang ia bawa dari rumah atau beli secukupnya. Dalam kehidupan harian, ada banyak momen kecil yang membiasakan memperbaiki daripada mengganti. Sandal yang putus talinya tidak langsung dibuang — diikat lagi, dipaku, dipakaikan cincin kawat kecil kalau perlu. Buku yang sampulnya copot direkatkan dengan selotip bening. Tas yang zipper-nya nyangkut dilap dengan sabun. Sepatu yang solnya mulai terlepas direkatkan dengan lem khusus yang dibeli di kantin koperasi.

Yang membuat ini berjalan bukan paksaan. Tapi kebiasaan yang menular dari kakak kelas ke adik kelas. Santri baru yang awalnya bingung melihat temannya memperbaiki sandal, lambat laun ikut mencoba. Ada kebanggaan kecil saat sandal yang hampir putus berhasil dipakai seminggu lagi. Ada cerita yang bisa dibagikan ke teman saat satu tas bisa bertahan tiga tahun karena berkali-kali diperbaiki.

Budaya ini juga didukung oleh lingkungan fisik yang mendorong. Ruang yang tidak terlalu banyak barang membuat setiap barang lebih diperhatikan. Peralatan pribadi yang jumlahnya terbatas membuat setiap item terasa berharga. Bahkan pakaian yang dicuci sendiri di ember membuat anak lebih paham kondisi bajunya — dan lebih memperhatikan saat ada jahitan yang mulai lepas.

Apa yang perlahan berubah pada anak yang tumbuh dengan kebiasaan memperbaiki?

Cara ia memandang kepemilikan bergeser.

Ia mulai memandang barang sebagai sesuatu yang punya riwayat. Sepatu yang pernah diperbaiki bukan lagi sekadar sepatu — ia adalah sepatu yang pernah hampir jebol, lalu diselamatkan, lalu dipakai lagi ratusan kali. Ada ikatan kecil dengannya. Ikatan seperti ini jarang terbangun pada barang yang hanya dibeli dan dipakai sampai rusak.

Rasa syukur juga lebih mudah muncul. Anak yang pernah merawat satu barang dengan usaha sendiri lebih mudah menghargai apa yang dimiliki. Saat pulang ke rumah dan melihat sepatu kakaknya berjejer rapi di rak, ia lebih bisa mengapresiasi usaha orang tua membelinya. Saat ia sendiri dewasa nanti dan bisa membeli barang yang ia suka, ia tidak mudah lupa bahwa setiap barang punya nilai lebih dari sekadar harganya.

Sikap terhadap kerusakan juga lebih tenang. Anak yang pernah memperbaiki barang tidak panik saat ada kerusakan kecil. Ia tidak langsung mengeluh. Ia mencoba dulu. Kalau memang tidak bisa, baru diganti. Sikap ini, yang dulu biasa saja dalam kehidupan kakek-nenek kita, sekarang menjadi sikap yang terasa bijaksana.

Dan dalam jangka panjang, anak seperti ini lebih siap menghadapi kondisi keuangan yang naik turun. Ia tidak panik saat harus hidup lebih sederhana. Ia tahu bahwa banyak hal masih bisa dipakai dengan sedikit usaha. Ia tidak merasa harga dirinya bergantung pada punya barang baru. Ini kebiasaan kecil yang efeknya bisa terbawa puluhan tahun.

Apa yang bisa dicoba di rumah?

Mulai dari hal kecil. Jangan langsung ganti baju anak yang kancingnya lepas — ajak ia menjahit kembali bersama. Jangan langsung buang tas anak yang talinya lepas — coba perbaiki dulu, ajak anak memegang benangnya. Jangan langsung beli sepatu baru saat solnya sedikit terlepas — beli lem, dan biarkan anak mencoba sendiri.

Proses ini akan makan waktu. Hasilnya kadang tidak sempurna. Tapi yang didapat anak lebih dari sekadar barang yang kembali berfungsi. Ia dapat pengalaman yang sulit dibeli — pengalaman bahwa ia bisa menyelamatkan sesuatu dengan tangannya sendiri.

Upaya di rumah ini baik. Tapi kalau di rumah tidak terlalu banyak kesempatan alami untuk ini, lingkungan yang memang menghidupkan budaya kesederhanaan dan memperbaiki sendiri — asrama pesantren salah satunya — adalah pertimbangan yang layak dipikirkan.

Kalau pembahasan semacam ini menyentuh sisi yang sedang dipertimbangkan untuk anak, tim penerimaan santri Pesantren Darunnajah 2 Cipining siap ngobrol kapan saja di wa.me/62812111180.

Banyak orang tua akhirnya menemukan bahwa yang mereka cari bukan sekadar tempat sekolah dengan fasilitas bagus, tapi lingkungan yang mengajari anak hal-hal tidak tertulis di brosur — termasuk kebiasaan tenang duduk di pojok tangga dengan sebotol lem, dan pelajaran seumur hidup yang lahir dari momen sederhana itu.