Menulis atau mengarang menempati point penting dalam pembinaan intelektual para santri. Pembinaan yang hendaknya dilakukan adalah mendampingi proses kreatif mereka dalam mengeksplorasi gagasan dan pikiran. Biarlah mereka berekspresi sebebas-bebasnya karena kebebasan menulis sejatinya dibarengi dengan penalaran dan keteraturan berlogika.

Lembaga pendidikan yang terbaik adalah yang memperhatikan lalu memfasilitasi intelektual peserta didiknya melalui dunia tulis menulis. Karena menulis sangat erat kaitannnya dengan membaca. Dalam kondisi minat menulis yang lemah, akan terukur jelas seperti apa minat bacanya.
Di sekolah, media pengasahan minat tulis menulis biasa disalurkan melalui majalah dinding atau biasa diakronimkan menjadi mading. Media yang tergolong simpel, murah, dan sederhana, bermanfaat besar untuk perkembangan kreativitas menulis. Mading menjadi langkah awal pengembangan dunia tulis menulis di sekolah.
Keberadaan mading di sekolah menjadi tolok ukur kualitas para siswa. Namun bukan hanya itu, kualitas siswa adalah cerminan bagaimana guru. Hendaknya, kesadaran akan tulis menulis disadari betul sebagai pengintelektualisasi siswa. Sehingga siswa bisa terpancing untuk berkarya, berminat untuk menulis apapun ilmu dan pengalaman yang dimiliknya.

Di pesantren Darunnajah Cipining, upaya untuk menciptakan gemar menulis tak luput diperhatikan. Medianya tersebar di berbagai variasi dari yang sederhana hingga penggunaan teknologi. Ambil contohnya mading! Meskipun istilahnya adalah majalah dinding, namun kreativitas tetap saja bisa dikembangkan. Bahkan kreativitas itulah yang memotivasi santri untuk tidak bosan berkarya.
Salah satu kreativitas mading seperti yang telah dilakukan santri yaitu membuat mading tergantung berbentuk seolah-olah memiliki 3 dimensi (3D). Dalam kondisi ini, intelektualitas santri berkembang searah dengan daya imajinasi dan kreasi mereka. Dalam bahasa lain, mengaktifkan otak kiri sinergis dengan otak kanan. Luar biasa!
Contoh lain, dengan perkembangan media jejaring sosial seperti facebook dan twitter yang terkadang terkesan iseng-iseng buat status, dalam kondisi pembelajaran bisa saja diarahkan sebagai daya tarik kreativitas menulis. Dalam facebook, cenderung para facebooker tersebut melampiaskan emosi (bahagia, sedih, kecewa, khawatir, dll), atau pikirannya. Mengapa harus emosi yang diekspresikan. Kenapa bukan ide, gagasan, inspirasi, atau solusi?
What’s on your mind! Apa yang ada di pikiranmu? Sekurang-kurangnya begitulah bahasa sederhana penuh motivasi untuk menuliskan apa saja yang terdapat dalam pikiran. Memang sesederhana itu pula seharusnya para santri memulai belajar menulis. Apa yang terdapat dalam tulisan itu yang dituangkan. Menulis tidak perlu hal yang rumit.
Di dalam kelas pun, menulis status tetap bisa dilakukan. Sebelum belajar, atau dalam proses KBM, dengan memberikan waktu kepada para santri untuk menuliskan status saat itu, akan sangat mudah dilakukan. Dalam pengawasan guru, akan sangat baik serta terarah pula status mereka. Jikalau perlu, membacakan beberapa status yang ditulis santri di depan umum akan menjadi inspirasi dan motivasi untuk yang lainnya.
Menjadi santri, kesempatan menulis sangatlah luas. Menulis ta’lim, muhadloroh, khutbah, atau mencoba menjelaskan hadits dan mahfudzat dari kaca mata pribadi dikaitkan dengan permasalahan aktual. Tentunya semua itu sangatlah menarik. Coba deh!
Menulis tidak memiliki aturan. Yang pasti, jika dirasa enak dibaca dan dimengerti gagasan yang ingin disampaikan, saat itulah tulisan dapat dikatakan baik. Menulis juga bukanlah harus sesuatu yang panjang. Singkat, jelas, dan langsung pada intinya, justru lebih mudah mengena daripada yang didahului dengan basa-basi atau pamer (manuver) kosakata.
Suatu ketika, seorang santri protes. Ia mengatakan setiap nilai dari hasil karya menulis mereka selalu mendapat nilai A (atau 100) yang artinya adalah sempurna. “Bagaimana kita akan mengetahui dan memperbaiki kesalahan menulis jika tulisan kita sudah dikatakan sempurna?” ungkap sang santri.
Menulis adalah proses. Membiasakan serta menumbuhkan minat menulis jauh lebih sulit dari sekedar mengoreksi. Di awal mengenalkan dunia tulis menulis kepada santri, memininalisir koreksian semoga dapat mengkaburkan kesan mereka bahwa menulis itu susah. Belajar materi Bahasa Indonesia merupakan salah satu media belajar santri tentunya bimbingan teknis yang seharusnya berbasis praktis. Saat itulah pembahasan (pengoreksian) tulis menulis dimaksimalkan.
Sisi lainnya adalah, dengan publikasi tulisan dalam berbagai media diharapkan keberanian (percaya diri) untuk menulis dapat tumbuh kembang. Seiring itu berkembang pula keberanian dan keterbukaan menerima feedback dari para pembaca. “Jadi, menulislah sesukamu, dan berikanlah hasilnya kepada orang lain. Lalu bersiap-siaplah menerima kritik dan saran!”
Belajar dari facebook. Disana setiap status komplit dengan paketnya. Like (menyukai), comment (komentar), share (bagikan). Ayo, apa statusmu hari ini?