Santri Akhir Kelas 6 TMI Jelajahi Enam Pusat UMKM Jabodetabek Santri Akhir Kelas 6 TMI Jelajahi Enam Pusat UMKM Jabodetabek

Santri Akhir Kelas 6 TMI Jelajahi Enam Pusat UMKM Jabodetabek

Sebagai persiapan menghadapi dunia pascakelulusan, sebanyak 124 santriwan kelas 6 Tarbiyatul Muallimin wal Muallimat Al-Islamiyyah (TMI) Pesantren Darunnajah 2 Cipining melaksanakan program Rihlah Iqtishodiyah pada 12–16 April 2026. Selama lima hari, para santri keluar dari ruang kelas untuk melakukan kunjungan studi banding ke enam tempat usaha di kawasan Jabodetabek dan Bogor. 

Rangkaian program dibuka pada Ahad malam, 12 April 2026, di Aula Al-Ghazali dengan sambutan dari Wakil Pengasuh, Dr. H. Musthafa Zahir, Lc., M.Ag. serta Direktur Pengasuhan Santri Putra, Ustadz Solehudin, S.Pd. Keesokan harinya, para santri menerima pembekalan intensif mengenai konsep Business Model Canvas untuk Gen Z oleh Ustadz Ahmad Madani, S.H., serta strategi pemasaran digital oleh Ustadz Pauly Demanda, M.A. Penerapan konsep tersebut kemudian dipandu langsung oleh Ustadz Achmad Hanif Zidan, S.Pd. 

Puncak kegiatan berlangsung pada Selasa, 14 April 2026, saat rombongan bertolak menuju enam destinasi usaha: Roti Ka Nung (Bogor Selatan), Rene Book (Jakarta Selatan), Kripik Singkong Maharani (Bogor), Cibugary (Jakarta Timur), Kawasan Usaha Tegalwaru (Bogor), dan Kentang Musthofa (Tangerang Selatan). Di setiap lokasi, para santri berdialog langsung dengan pemilik usaha, mengamati proses produksi, dan membedah manajemen bisnis dari berbagai sektor industri. 

Sekembalinya dari kunjungan lapangan, para santri dituntut untuk mengintegrasikan catatan mereka ke dalam laporan tertulis dan menyusun Business Model Canvas per kelompok. Rangkaian program ini ditutup pada Kamis, 16 April 2026, di Aula Al-Ghazali dengan agenda presentasi di hadapan pembimbing serta pengumuman kelompok terbaik. 

Santri Akhir Kelas 6 TMI Jelajahi Enam Pusat UMKM Jabodetabek

Melalui studi lapangan ini, pihak pesantren berharap wawasan para santri kelas 6 TMI mengenai dunia wirausaha dapat terbuka lebar, sekaligus memotivasi mereka untuk mandiri secara ekonomi setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren.