Saat Alumni Rindu Almamaternya (Bag. 1)

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah. Begitulah sebuah lagu tahun 80an dari Obie Mesakh menegaskan. Lirik ini ingin mengatakan bahwa sejuta kenangan dan pengalaman telah tercipta pada masa sekolah. Masa sekolah adalah waktu menjadi seorang remaja. Masa, dimana manusia tengah mencari identitas diri. Fenomenanya, semua orang enggan untuk melewatkan masa ini. Kalaupun telah terlewat, rasa rindu menjadi remaja dengan seabreg kenangannya tiada akan mudah terhapus, apalagi terlupa.

 

Darunnajah Cipining Tempo Doeloe (1993)
Darunnajah Cipining Tempo Doeloe (1993)

Rasa ini pulalah yang dimiliki oleh para alumni pesantren Darunnajah Cipining sehingga mereka harus melangkahkan kaki untuk kembali (menengok) ke pesanten. Selama 6 atau 4 tahun mereka menimba ilmu, menguatkan diri dalam sunnah-sunnah pesanten, telah memantik rasa yang teramat dalam pada lembaran kenangan mereka. Selama itu pula mereka dengan syahdu melafalkan bait-bait Hymne Oh Pondokku;

Oh pondokku…
Tempat naung kita
Dari kecil… sehingga dewasa
Rasa batin… damai dan sentausa
Dilindungi… Allah ta’ala

Oh pondokku…
Engkau berjasa…
Pada ibuku Indonesia…

Tiap pagi dan petang…
Kita beramai sembahyang…
Mengabdi pada Allah ta’ala…
Di dalam kalbu kita…

Wahai pondokku tempatku…
Laksana ibu kandungku…
Nan kasih serta sayang padamu…
Oh pondokku…

i…bu…ku…

Di pesantren, jauh dari orang tua dan keluarga. Bersama teman dan sahabat, mereka saling mengisi dan berbagi. Semua menjadi mudah jika telah bulat tekad dan cita-cita. Buktinya, 6 tahun sekalipun menjadi masa yang sangat singkat. Karena terlampau singkat, maka tidak cukup guna menampung semua kenangan yang ada.

Secara bergantian, para alumni bergiliran mengunjungi almamaternya kembali. ‘Kangen’ menjadi alasan paling utama bagi mereka saat ditanya kehadirannya di pesantren. Mereka datang baik secara personal, banyak juga yang beramai-ramai agar lebih mudah dalam menyegarkan segala memori kenangannya.

Sabtu, 27 September lalu misalnya, rombongan alumni angkatan 5 datang ke pesantren. Mereka mengaku ingin bersilaturahmi dengan pengasuh pesantren, KH Jamhari Abdul Jalal, Lc. Namun dengan sangat menyesal, mereka tidak dapat ditemui oleh Bapak kyai karena beliau saat itu tengah berada di Gontor. Sebagai ganti, mereka berkeliling pesantren yang kini telah berubah dan bertambah kampus. Mereka juga berkesempatan bersilaturahmi dengan dewan guru.

Namun, hingga kepulangan mereka pada hari Ahad (28/9), Bapak Kyai yang mereka tunggu pun belum hadir di pesantren. Alumnus bernama Aeb Syaefullah secara khusus menitipkan salam untuk beliau. “Saya mimpi mudir terus. Jadi saya sangat ingin bertemu beliau, tapi mungkin pada lain kesempatan” ungkap alumnus asal Karawang ini.

Ustadz kamilin menjelaskan, selain Aeb Syaefullah, rombongan angkatan 5 tersebut antara lain Ahmad Izzudin, Ahmad Fadillah, Muhtaj, Abdul Mujib, Adinnur, Iskandar, Rizky Remon, dan Miftahul Ulum.  Mereka merasa bangga menjadi alumni kepada Darunnajah Cipining yang telah mebesarkannya dan berdoa untuk kesuksesan pesantrennya ini. Amin (Wardan/Billah)

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
TK Darunnajah Jakarta

Pentingnya Ilmu

Ilmu adalah cahaya yang menyinari disaat gelap menerpa. begitu pentingnya ilmu sampai ungkapan sahabat yang mengatakan ” JIka kamu menginginkan kebahagian dunia tuntulah ilmu, jika