Kucing-Kucing Pesantren yang Menjadi Teman Setia Santri Saat Rindu Rumah

Di lingkungan pesantren, di antara banyak santri yang berlalu-lalang setiap hari, ada penghuni lain yang kehadirannya sering tidak dianggap penting tapi dampaknya lebih besar dari yang terlihat. Kucing-kucing yang tinggal di sekitar asrama, masjid, dan kantin pesantren. Mereka bukan peliharaan resmi. Tidak ada yang mengklaim memilikinya. Tapi hampir semua santri mengenal mereka — bahkan memberi nama.

Setiap kucing punya identitas di mata santri.

Yang berbulu oranye dan selalu tidur di teras masjid setelah Dzuhur. Yang hitam putih dan suka mengikuti barisan santri menuju kantin saat jam makan. Yang kecil dan selalu muncul dari semak-semak saat ada suara bungkusan makanan dibuka. Nama-nama mereka berbeda di setiap angkatan — tergantung siapa yang pertama kali memberi nama. Tapi kehadirannya selalu sama. Selalu ada, selalu dekat, selalu muncul di momen-momen yang paling tidak terduga.

Kenapa kucing punya tempat khusus di hati santri pesantren?

Jawabannya sederhana tapi dalam. Di pesantren, santri terpisah dari keluarga selama berbulan-bulan. Tidak ada hewan peliharaan pribadi yang boleh dibawa. Tidak ada boneka atau benda-benda comfort dari rumah yang bisa dipeluk. Kucing pesantren tanpa sadar mengisi kekosongan itu. Anak yang sedang rindu rumah kadang duduk di teras asrama sambil mengelus kucing yang kebetulan lewat, dan untuk sesaat rindu itu terasa sedikit lebih ringan.

Tidak ada yang mengajarkan santri untuk menyayangi kucing-kucing itu. Terjadi begitu saja.

Santri yang membawa sisa makanan dari kantin dan menyisihkan sedikit untuk kucing di depan asrama. Santri yang membuatkan tempat tidur dari kardus bekas di pojok lorong supaya kucing tidak kedinginan saat musim hujan. Santri yang berlari memanggil kakak kelas ketika melihat kucing yang tampak sakit. Kepedulian itu tumbuh natural dari lingkungan yang mengajarkan bahwa semua makhluk hidup layak diperlakukan dengan baik.

Hubungan antara santri dan kucing pesantren punya dinamika yang unik.

Kucing yang sudah lama tinggal di pesantren biasanya sudah hafal jadwal. Mereka tahu kapan jam makan siang, kapan kantin buka, kapan suasana asrama paling sepi. Ada kucing yang selalu muncul di masjid menjelang waktu sholat — duduk tenang di pojok, seolah ikut beribadah. Kehadiran mereka di momen-momen sunyi pesantren memberi sentuhan kehidupan yang hangat.

Momen yang sering diingat santri bertahun-tahun kemudian.

Malam-malam sebelum ujian ketika santri duduk di lorong asrama membaca catatan, dan seekor kucing tiba-tiba melompat ke pangkuan tanpa izin. Sore hari sepulang dari lapangan olahraga ketika tubuh lelah dan kucing itu sudah menunggu di depan pintu kamar. Pagi subuh yang dingin ketika berjalan ke masjid dan ada kucing yang berjalan di samping, seolah menemani.

Momen-momen itu kecil. Tapi bagi anak yang jauh dari rumah, kehadiran makhluk hidup yang tidak menghakimi dan tidak meminta apa-apa bisa berarti sangat besar.

Ada pelajaran yang diam-diam terbentuk dari hubungan ini.

Santri belajar bahwa merawat sesuatu yang lebih lemah dari diri sendiri adalah tanggung jawab, bukan pilihan. Mereka belajar empati dalam bentuk paling sederhana — memastikan makhluk lain tidak kelaparan, tidak kedinginan, tidak sendirian. Pelajaran itu tidak pernah diujikan. Tidak ada nilainya di rapor. Tapi dampaknya membentuk karakter yang bertahan jauh melampaui masa mondok.

Di Darunnajah 2 Cipining, kucing-kucing yang tinggal di lingkungan pesantren sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan santri. Mereka bukan peliharaan resmi, tapi peran mereka dalam menjaga suasana pesantren tetap hangat tidak bisa diremehkan.

Kadang kita baru menyadari betapa berharganya kehadiran seseorang — atau sesuatu — setelah kita jauh darinya. Dan bagi banyak alumni, kucing pesantren adalah salah satu yang paling mereka rindukan.

Kalau ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan santri di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.