Setelah pembahasan tentang Ummahatul Mukminin r.a., alangkah baiknya kita membicarakan tentang rahasia yang tersembunyi yang menyebabkan istri-istri Rasulullah SAW berhasil menjadi contoh yang baik dan teladan bagi seluruh wanita, misalnya dalam hal berbakti, bertakwa, hikmah, ilmu, kemuliaan dan bagusnya akhlak.

Dengan mengikuti perjalanan hidup Rasulullah bersama istri-istri beliau sebelum bi’tsah (diangkat menjadi Nabi) atau sesudahnya kita akan dapat menyibak rahasia tersebut. Kita dapat menyimpulkan bahwa kedudukan Ummahatul Mukminin yang tinggi tersebut tidak akan dihasilkan, melainkan karena keutamaan Rasulullah Muhammad SAW sebagai seorang suami.

Sebagaimana dikatakan, “Bahwa di belakang setiap orang yang agung ada seorang wanita.” Begitu pula dikatakan, “Seorang yang pandai adalah karena seorang guru.”

Adapun guru besar, pemimpin dan pendidik ummat ini adalah Muhammad SAW, seorang teladan yang sempurna dan sebagai uswah hasanah bagi para suami dalam bergaul dengan para istrinya dengan cara yang ma’ruf, membagi dengan adil dalam bermalam, memberi nafkah, lemah lembut, menghargai, sabar dalam menghadapi kemarahan para istri, kecemburuan mereka, perselisihan yang terjadi di antara mereka, dengan perlahan dan ramah-tamah, serta memberikan nasihat yang baik. Beliau mengunjungi mereka semua pada pagi hari untuk memberikan peringatan dan pengajaran, dan pada waktu sore hari untuk pendekatan dan beramah-tamah. Dan beliau mengumpulkan bersamanya pada setiap rumah dari masing-masing istrinya. Beliau turut membantu pekerjaan rumah dan memenuhi keperluannya dengan tangan beliau sendiri.

Rasul Sebagai SuamiSekarang, hendak kami paparkan sebagian sisi kehidupan Rasulullah SAW sebagai suami yang mendapat taufik, dalam mengatur urusan rumah tangganya yang berkumpul di dalamnya banyak orang yang cerdas dan mulia, berbeda-beda karakternya, saling berjauhan asal-usulnya dan lingkungan mereka, yang bertingkat-tingkat umurnya dan juga parasnya.

Apabila kita mengetahui bahwa ini adalah taufik dan suatu kesuksesan, maka hal itu tidak hanya terjadi dalam rumah tangga beliau saja, akan tetapi mencakup seluruh aspek politik dan ekonomi. Dan sejarah kejayaan beliau dalam peperangan adalah merupakan bukti yang paling nyata akan hal itu. Kita dapatkan bahwa beliau SAW adalah satu-satunya contoh yang hebat dan sukses dalam perjalanan sejarah manusia. Karena kebanyakan pemimpin yang sukses dalam menjalankan roda politik dalam masyarakatnya, mereka gagal dalam mengatur urusan rumah tangganya, walaupun istrinya hanya satu.

Kami batasi pembahasan kita tentang Rasulullah SAW sebagai suami dengan tiga topik :

  1. Rasul adalah seorang suami yang periang
  2. Rasul adalah seorang suami yang berwibawa
  3. Rasul adalah seorang suami yang setia.

RASUL ADALAH SEORANG SUAMI YANG PERIANG

Kebanyakan orang membayangkan bahwa beliau adalah seorang yang selalu serius, disiplin dan tegas, termasuk kepada istri-istrinya. Sehingga ada yang menaruh rasa kasihan terhadap istri-istri beliau. Akan tetapi karakter tersebut bukanlah harga mati, karena Rasulullah SAW adalah orang yang paling lembut terhadap keluarganya dan seorang periang pada saat-saat gembira. Adalah sifat manusiawi beliau untuk bercanda dengan keluarga dan membuat mereka tertawa.

Ummul Mukminin ‘Aisyah berkata: “Demi Allah aku melihat Rasulullah SAW berada di depan pintu kamarku, sedangkan orang Habsyah bermain perang-perangan di masjid, Rasulullah SAW menutupi aku dengan surbannya agar aku dapat melihat permainan mereka, melalui celah antara telinga dan bahunya, sedangkan wajahku aku sandarkan pada pipi Rasulullah, kemudian beliau bertanya, ‘Wahai ‘Aisyah sudah puaskah kamu (untuk melihat)?’ Maka aku berkata, ‘Belum.’ Maka aku tetap dalam kondisi seperti itu hingga saya merasa puas.” Dalam riwayat lain, “Beliau berdiri untukku sehingga aku sendiri yang menyudahi. Aku melihat para budak wanita yang masih muda bersemangat dalam bermain.[1]

Adalah Rasulullah SAW dalam bersikap terhadap istri-istri beliau terkadang dengan wajah yang riang bersenda gurau, sehingga masing-masing merasakan kenikmatan dengan berkumpul untuk menjalani hidupnya dan agar kehidupan bersuami istri tidak tegang, sehingga lama kelamaan akan menjemukan dan akhirnya menimbulkan kesusahan.

‘Aisyah r.a. berkata, “Saya keluar bersama Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan. Ketika itu saya masih sangat muda sehingga belum punya beban tubuh yang berat. Beliau bersabda kepada para sahabat, ‘Duluanlah kalian!’ Maka mereka pun mendahului kami. Kemudian beliau bersabda kepadaku, ‘Marilah kita berlomba lari dan saya akan berusaha mengalahkanmu.’ Maka kami berlomba lari dan saya dapat memenangkan beliau. Setelah berselang waktu dan tubuhku menjadi gemuk dan aku telah lupa peristiwa itu, saya melakukan perjalanan bersama beliau. Maka beliau bersabda kepada para sahabat, ‘Duluanlah kalian.’ Maka mereka pun mendahului kami. Beliau bersabda, ‘Mari kita berlomba dan aku akan mengalahkanmu.’ Waktu itu saya sudah lupa dengan peristiwa serupa di masa yang lampau, sementara saya sudah berbadan gemuk. Saya berkata, ‘Bagaimana aku bisa mengalahkanmu ya Rasulullah, badan saya seperti ini?’ Beliau bersabda, ‘Ayolah!’ Maka kami berlomba dan beliau memenangkannya sehingga beliau tertawa dan bersabda, ‘Ini pembalasan terhadap kekalahanku di masalalu’u.”[2]

Rasulullah SAW suatu ketika berkata kepada ‘Aisyah, “Sesungguhnya aku tahu, kapan engkau ridha kepadaku dan kapan engkau benci kepadaku.” Saya berkata, “Bagaimana Anda mengetahui ya Rasulullah?“. Beliau menjawab:

“Adapun apabila engkau ridha terhadapku, niscaya engkau akan mengatakan, ‘Tidak, demi Rabb Muhammad’, dan apabila engkau marah kepadaku maka engkau berkata, ‘Tidak, demi Rabb Ibrahim’.”

Maka ‘Aisyah berkata, “Benar ya Rasulullah, demi Allah memang aku tidak menjauhi kecuali namamu (tatkala marah).[3]

Seorang ulama berkata, “Ketahuilah bahwa akhlak yang baik terhadap istri itu bukan sekedar mencegah agar tidak menyakitinya, akan tetapi termasuk juga sabar terhadap gangguan yang berasal darinya dan berlapang dada tatkala dia marah. Hal ini sebagai perwujudan dari meneladani Rasulullah SAW, yang mana pada suatu ketika istri-istri beliau berani membantah kepada beliau, ada di antaranya yang memboikot beliau selama sehari semalam. Dan juga suatu ketika istri Umar r.a. membantah perkataan beliau. Berkatalah Umar, ‘Apakah engkau membantah diriku?’ Maka istrinya menjawab, ‘Sesungguhnya istri-istri Rasulullah SAW juga pernah membantah beliau, sedangkan beliau lebih baik daripada anda…‘.”[4]

Maka apabila perkara-perkara tersebut ada pada diri Rasulullah SAW, Nabi bagi para manusia dan pemimpin mereka, maka setiap laki-laki hendaknya menumbuhkan pada dirinya untuk meneladani Rasulullah yang suka bercanda dan bergurau pada waktu-waktu tertentu di dalam rumahnya, terlebih-lebih kepada istrinya agar dapat menyenangkan hatinya, dan dapat meringankan kerasnya kehidupan dan menghilangkan ketegangan yang ada berupa problem hidup dan pekerjaan. Itu seluruhnya akan membantu untuk menguatkan ikatan cinta antara suami-istri. Semoga Allah memberikan shalawat kepada guru manusia yang mengajarkan kebaikan.

RASUL ADALAH SEORANG SUAMI YANG BERWIBAWA

Sesungguhnya bagusnya pergaulan Rasulullah SAW terhadap istri-istri beliau, kelembutan beliau, bercanda dengan mereka dan berlapang dada dari kemarahannya, seluruhnya ini tidak menghalangi beliau SAW untuk tegas dan disiplin terhadap mereka dalam kondisi yang sesuai. Sebab tarbiyah tidak akan berhasil kecuali dengan menerapkan lapang dada pada satu sisi dan marah pada sisi yang lain. Allah Ta’ala berfirman yang ditujukan kepada Muhammad SAW:

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, ‘Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya aku berikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa saja yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar.” (QS. al-Ahzab: 28-29).

Ayat ini turun manakala tuntutan Ummahatul Mukminin r.a. terhadap Rasul SAW sudah melampaui batas, yakni menuntut terlalu banyaknya nafkah dan perhiasan. Maka tidak ada sikap beliau SAW ketika itu, melainkan marah dengan kemarahan yang halus serta bertekad untuk tidak mendekati mereka selama satu bulan. Beliau memisahkan diri dari mereka selama satu bulan penuh sebagai pelajaran bagi mereka.

Maka Allah SWT menurunkan ayat tersebut di atas untuk mengultimatum mereka antara memilih hidup dengan Rasulullah SAW dengan Cara hidup beliau serta bersabar bersamanya atau mereka kembali kepada keluarganya masing-masing. Maka tiada pilihan lain bagi seluruh Ummahatul Mukminin melainkan mereka memilih Allah dan Rasul-Nya serta kampung akhirat. Maka, kembalilah mereka hidup bersama Nabi SAW untuk menunaikan tugas di rumah mereka yang agung, untuk menjaga keamanan, kebahagiaan dan ketentreman bagi beliau, serta saling menolong dengan beliau dalam menyebarkan Islam kepada manusia.

Kepada pembaca yang budiman, kami paparkan kisah yang lengkap sebagai berikut.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, dari Jabir bin Abdullah berkata, “Abu Bakar masuk meminta izin kepada Rasulullah sedangkan beliau mendapatkan bahwa orang-orang duduk di depan pintu beliau, yang tak seorang pun diizinkan masuk oleh Rasulullah SAW. Abu Bakar pun diizinkan lantas beliau pun masuk. Setelah itu datanglah Umar dan meminta izin Rasulullah SAW, dan beliau pun mengizinkannya. Umar mendapati Nabi SAW duduk sedangkan istri-istri beliau duduk di sekitar beliau dalam keadaan takut dan diam.

Abu Bakar berkata, “Sungguh aku akan berkata dengan sesuatu yang akan membuat Rasulullah SAW tertawa.” Beliau berkata, “Wahai Rasulullah seandainya aku melihat putri Kharijah (istri Abu Bakar) meminta nafkah yang tidak ada padaku maka aku akan berdiri untuk memukul tengkuknya.” Maka Rasulullah SAW tertawa seraya bersabda, “Mereka yang di sekitarku ini juga meminta nafkah yang tidak ada padaku.” Maka Abu Bakar berdiri dan memukul tengkuk ‘Aisyah. Disusul kemudian Umar mendatangi Hafshah dan memukul tengkuknya. Kemudian keduanya berkata, “Apakah kalian meminta kepada Rasulullah SAW yang tidak ada pada beliau?” Mereka menjawab, “Demi Allah kami tidak akan meminta kepada Rasulullah SAW sesuatu yang tidak ada pada beliau selamanya.”

Kemudian Rasulullah menjauhi mereka selama sebulan atau 29 hari, kemudian turunlah ayat, “Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu...” sampai pada ayat “Bagi siapa yang berbuat baik di antaramu dengan pahala yang besar.” (QS. al-Ahzab: 28-29).

Beliau memulai dengan mengultimatum ‘Aisyah, beliau bersabda, “Wahai ‘Aisyah aku ingin mengemukakan pilihan kepadamu yang aku ingin kamu tidak menangguhkan jawabanmu hingga berkonsultasi dengan orang tuamu.“Apa itu ya Rasulullah?”, jawab ‘Aisyah. Beliau kemudian membaca ayat tersebut di atas. Lantas ‘Aisyah berkata, “Apakah untuk memilih Anda, saya harus bertanya dahulu kepada orang tua saya, wahai Rasulullah? Jelas saya memilih Allah, Rasul-Nya dan kampung akhirat. Saya memohon kepada Anda agar tidak memberitahukan jawabanku ini kepada istri-istri Anda yang lain.” Beliau bersabda:

“Tiada seorang pun dari mereka yang bertanya melainkan aku akan memberitahukannya, sesungguhnya Allah tidak mengutusku untuk menyusahkan dan mempersulit, akan tetapi Allah mengutusku agar mengajar manusia dan memberikan kemudahan.”[5]

Kemudian mereka semua memilih apa yang lebih baik bagi mereka, yang mana mereka memilih Allah, Rasul dan kampung akhirat.

Riwayat ini benar-benar telah disepakati bahwa Nabi mengultimatum para istrinya antara cerai dan tetap menjadi istri beliau dari segi yang beliau kehendaki di antara mereka. Hal itu agar mereka menjadi teladan yang baik bagi seluruh wanita dalam urusan dien. Peristiwa itu terjadi sebulan setelah peristiwa marahnya beliau dan menjauhnya beliau dari istri-istrinya, tatkala Hafshah membuka rahasia Rasulullah SAW kepada ‘Aisyah, namun kemudian beliau meridhai mereka. Telah shahih pula bahwa peristiwa lain hingga Rasulullah SAW menawarkan pilihan kepada para istrinya, yaitu karena mereka merengek-rengek untuk meminta banyaknya nafkah dan perhiasan.

Alangkah butuhnya para lelaki -terlebih-lebih pada zaman ini- memiliki ketegasan sebagaimana ketegasan Rasulullah SAW, karena membiarkan mereka dalam kebebasan bagi kebanyakan wanita akan menyebabkan timbulnya dampak yang tidak terpuji akibatnya baik bagi diri mereka sendiri atau juga bagi suaminya.

RASUL ADALAH SUAMI YANG SETIA

Kesetiaan secara umum adalah merupakan sifat yang sangat terpuji di dalam Islam. Tingginya kedudukan sifat tersebut sebagaimana yang disifatkan Allah Tabaraka wa Ta’ala atas Dzat-Nya Yang Mahasuci dalam ayat-ayat al-Qur’an yang banyak. Di antaranya adalah:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menetapi janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah: 111).

Di samping itu Allah Ta’ala menjadikan setia sebagai sifat bagi orang-orang yang beriman yang baik dan berbakti sebagaimana firman Allah:

“Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, (yaitu) orang-orang yang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian.” (QS. ar-Ra’du: 19-20).

Begitu pula Allah Subahanahu telah memerintahkan kepada para hamba-Nya agar mengambil fadhilah dari kesetiaan ini sebagai tameng, benteng dan perhiasan bagi jiwa mereka dan akhlak mereka. Allah berfirman:

Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji.” (QS. an-Nahl: 91).

Rasulullah juga telah memberikan contoh yang tinggi dan mulia bagi kita dalam hal kesetiaan. Yang mana beliau tetap menjaga kesetiaan terhadap istri beliau yakni Khadijah r.a.. Beliau menjaga kesetiaannya ketika istrinya masih hidup maupun ketika telah wafat. Kesibukan beliau tidak melalaikan dari mengingat istrinya. Beliau banyak membicarakan tentang Khadijah dan memuji kemuliaannya dan menyambung hubungan terhadap orang yang memiliki hubungan dengannya tatkala istrinya masih hidup.

Diriwayatkan oleh ‘Aisyah Ummul Mukminin bahwa ada seorang wanita tua datang kepada Nabi SAW, kemudian beliau bertanya, “Siapakah Anda?” Wanita itu menjawab, “Jatstsamah al-Muzniyah.” Beliau bersabda dengan semangat, “Engkau baik-baik saja? Bagaimana kabar Anda? bagaimana keadaan Anda? Bagaimana nasib Anda setelah berpisah dengan kami?” Maka wanita itu menjawab, “Baik, demi bapak dan ibuku.” Maka tatkala wanita itu keluar, berkatalah ‘Aisyah, “Ya Rasulullah Anda menyambut wanita yang sudah tua tersebut dengan sedemikian rupa?” Beliau bersabda:

Sesungguhnya dia pernah mendatangi kami sewaktu Khadijah masih hidup, dan setia janji adalah bagian dari iman.”[6]

‘Aisyah r.a. berkata, “Tiada yang lebih aku cemburui dari istri-istri Nabi melebihi Khadijah, padahal sekalipun aku belum pernah melihat beliau. Hanya saja Rasulullah banyak menyebut-nyebut tentang dirinya, terkadang beliau menyembelih seekor kambing kemudian memotong-motongnya dan beliau bagikan kepada teman-teman Khadijah.”

Terkadang aku berkata kepada beliau, “Seakan-akan tidak ada wanita lain di dunia ini selain Khadijah.” Beliau bersabda, “Dan darinyalah saya beroleh anak.

Di dalam riwayat yang lain ‘Aisyah berkata, “Tiadalah saya cemburu terhadap seorang wanita pun sebagaimana kecemburuanku terhadap Khadijah, karena banyaknya Rasulullah SAW menyebut-nyebut dirinya. Suatu hari beliau menyebut-nyebut Khadijah maka aku katakan, ‘Apa yang bisa Anda perbuat terhadap wanita yang sudah tua dan banyak bicara padahal Allah telah menggantikan bagi anda dengan yang lebih baik?‘, Maka beliau bersabda:

“Demi Allah tidaklah Allah menggantikannya dengan yang lebih baik dari Khadijah, dia beriman di saat yang lain masih kafir, dia membenarkanku di saat orang-orang mendustakanku, dia menyerahkan hartanya kepadaku di saat orang-orang menahannya dariku, dan Allah telah memberikan rizki anak darinya yang mana wanita lain tidak.”[7]

Perhatian Rasulullah SAW yang luar biasa terhadap Khadijah tersebut menunjukkan besarnya kesetiaan beliau, keluhuran akhlaknya, tingginya kadar kecerdasannya dan kebesaran jiwanya, meskipun Khadijah lebih tua umurnya karena tatkala menikah Khadijah berumur 40 tahun sedangkan Nabi baru berumur 25 tahun. Hal itu tidak menjadikan beliau melupakan sekalipun sudah ada ‘Aisyah yang cantik, pandai dan mencintai beliau. Kesetiaan kepada Khadijah r.a. masih ada sepanjang hidupnya. Dan beliau belum menikahi ‘Aisyah sekalipun Khadijah sudah lanjut usia hingga Khadijah wafat.

Dr. Nizhami Lauqan berkata, “Semenjak itu, ‘Aisyah yang masih muda tidak berani lagi menyebut-nyebut tentang diri Khadijah. Siapa lagi yang dapat membujuk Muhammad SAW, sedangkan beliau setia dengan Khadijah dengan kesetiaan yang indah tersebut, sepantasnya hal ini dijadikan teladan bagi suami istri, baik yang laki-laki maupun yang wanita. Bagaimana komentar Anda tentang beliau yang memuji sesorang yang telah wafat, hingga menjadikan orang yang masih hidup bersamanya dan mencintainya menjadi marah? Bagaimana bila dibandingkan dengan kesetiaan yang lemah hari ini, sedangkan dunia terhimpun di sekitar kita dengan berbagai kedurhakaan, kelalaian terhadap pemberian dan pengkhianatan terhadap janji?[8] [WARDAN/DR]

Sumber: Mereka adalah Para Sahabiyat

Footnote:

[1] Maksud dari lahwun atau permainan di sini adalah permainan yang halal, sebab tidak boleh seorang wanita taat dalam hal yang diharamkan Allah. Rasulullah SAW telah menjelaskan kepada kita tentang Iahwun yang diperbolehkan. Beliau bersabda, ”Setiap sesuatu selain dzikruIlah adalah senda gurau yang sia-sia dan permainan kecuali percumbuan seseorang bersama istrinya, seseorang yang berlatih mengendarai kuda, berlatih memanah dan seseorang yang berlatih renang.” Lihat Silsilatul Ahadits ash-Shahihah oleh al-Albani (no. 309). Hadits ini dan tentang permainan budak Habsyah berupa perang-perangan dan ‘Aisyah melihatnya, al-Bukhari meriwayatkan bahwa hal itu terjadi di masjid, beliau sebutkan pada bab: Berlatih perang di masjid ( I/116) dan Muslim dalam Shalatul ‘Aidain pada bab: Rukhshah bermain yang tidak mengandung maksiat di dalamnya di hari ‘Ied, (no. 892).

[2] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad (Vl/264) dan oleh Abu Dawud dalam al-Jihad bab: Perlombaan bagi Iaki-Iaki, (no. 2578).

[3] Diriwayatkan oleh aI-Bukhari dalam an-Nikah, bab: Kecemburuan para wanita dan cinta mereka, (Vl/157) dan Muslim dalam Fadha’ilush Shahabah, bab: Keutamaan ‘Aisyah r.a., (no. 2439).

[4] Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam aI-Madhalim, bab: AI-Ghurfah wa aI-‘Ulyah. Hadits tersebut adalah bagian dari hadits yang panjang dari Abdullah bin Abbas r.a.(III/103).

[5] Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam ath-Thalaq, bab: Memberikan pilihan bagi istri tidak termasuk kategori talak kecuali disertai niat untuk menceraikan, (no. 1478)

[6] Diriwayatkan oleh aI-Hakim dalam al-Mustadrak dalam kitab aI-Iman (I/16). Beliau berkata, ”Hadits ini shahih menurut syarat Syaikhaini dan tidak ada cacatnya, disepakati pula oleh adz Dzahabi.”

[7] Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Fadha’ilu Ashabun Nabi SAW, bab: Pernikahan Nabi SAW dengan Khadijah dan keutamaannya, (IV/230). Dan diriwayatkan pula oleh Muslim dalam Fadha’ilush Shahabah, bab: Keutamaan Khadijah Ummul Mukminin r.a., (no. 2434, 2435, 2436 dan 2437). Serta at-Tirmidzi dalam al-Manaqib, bab: Manakib Khadijah r.a., (no. 3886).

[8] Risalah Muhammad fi Hayatihi aI-Khashah oleh Dr. Nizhami Lauqan.