Ramadan Pergi, Keikhlasan Darunnajah 2 Tetap Mengakar Ramadan Pergi, Keikhlasan Darunnajah 2 Tetap Mengakar

Ramadan Pergi, Keikhlasan Darunnajah 2 Tetap Mengakar

Sebanyak 389 anggota keluarga besar Pesantren Darunnajah 2 Cipining berkumpul di Aula Kampus Putri pada Selasa, 31 Maret 2026, dalam acara Halal bi Halal Tahun Ajaran 2025-2026. Pertemuan tahunan ini menjadi ajang memperbarui silaturahmi dan memperkuat ukhuwah setelah melewati bulan suci Ramadan. Kehadiran ratusan guru dan karyawan menegaskan bahwa kebersamaan adalah fondasi yang menopang gerak pesantren.

Para peserta terdiri dari beragam unsur civitas akademika:

  • Karyawan putra: 80 orang
  • Karyawan putri: 51 orang
  • Guru keluarga putra: 61 orang
  • Guru single putra: 65 orang
  • Guru keluarga putri: 66 orang
  • Guru single putri: 66 orang

Acara dibuka pukul 07.30 WIB dengan pembacaan surah Al-Fatihah, dilanjutkan tilawah Al-Qur’an dan tahlil. Wakil Pengasuh, Ust. Ridha Makky, M.Pd, menyampaikan sambutan yang sarat makna, menyoroti keistimewaan pesantren yang tetap bergerak bahkan saat liburan Idul Fitri. Jamaah shalat di tiga masjid tetap berjalan, tasmik terus berlangsung, dan sistem pesantren tak sedetik pun berhenti.

Ramadan Pergi, Keikhlasan Darunnajah 2 Tetap Mengakar

“Bukan karena siapa-siapanya, tapi karena Allah berkahkan. Allah jadikan wali santri, santri, dan ustaz-ustadznya ikhlas,” ungkap Ust. Ridha. Beliau juga mengapresiasi para ansuruh ma’had yang selama Ramadan nyaris tidak libur demi menjaga keberlangsungan pesantren — sebuah pengabdian yang beliau sebut “mahal sekali” di antara 42.000 pesantren se-Indonesia.

Tausiyah selama 45 menit disampaikan oleh Ust. H. Trimo, S.Ag, M.Pd yang menguraikan tiga tujuan Halal bi Halal: tashfiyatul qulub (membersihkan hati), ishlahul ‘alaqah (memperbaiki hubungan), dan refleksi sosial atas ilmu pesantren dalam kehidupan nyata. Beliau menutup dengan mengingatkan hadis tentang lima perkara sebelum lima perkara, khususnya masa muda dan kesehatan sebagai investasi terbesar.

Puncak acara adalah sesi tashafahan — jabat tangan tulus yang menjadi simbol penghapusan segala ganjalan antar sesama. Acara ditutup dengan lomba foto kreatif berhadiah dan pembagian doorprize. “Tashafah-nya jangan seremoni. Pegang tangannya, getarkan hatimu, ucapkan mohon maaf lahir dan batin dari sanubari yang paling dalam,” pesan Ust. Ridha — sebuah ajakan untuk menjadikan momen maaf-memaafkan sebagai titik awal lembaran baru yang lebih bermakna (Wardan/DR)