Jam dua lewat sepuluh. Mata masih berat. Selimut terasa seperti pelukan yang tidak ingin melepaskan. Tapi suara ketukan pelan di pintu kamar sudah tidak bisa diabaikan. Malam pertama ikut qiyamul lail, rasanya seperti dipaksa bangun untuk sesuatu yang belum kita pahami.
Dinginnya udara langsung menyapa begitu kaki menyentuh lantai. Lorong asrama gelap. Langkah kaki terdengar pelan dari berbagai arah. Ternyata bukan hanya kita yang berjuang melawan kantuk.
Kenapa malam pertama selalu terasa paling berat?
Saat kakak kelas bilang qiyamul lail itu pengalaman yang akan mengubah hidup, rasanya berlebihan. Bangun tengah malam untuk sholat terdengar seperti hukuman, bukan hadiah.
Tapi ada sesuatu yang terjadi ketika kaki melangkah masuk ke musholla. Ruangan itu hampir gelap. Beberapa santri kakak kelas sudah berdiri, mata terpejam, bibir bergerak tanpa suara. Mereka terlihat seperti orang-orang yang tahu sesuatu yang belum kita ketahui.
Rakaat pertama, pikiran masih ke mana-mana. Tapi di rakaat ketiga, sesuatu bergeser. Dahi menyentuh sajadah, dan tiba-tiba dunia terasa sangat sunyi. Bukan sunyi yang kosong — sunyi yang penuh.
Apa yang sebenarnya terjadi di sepertiga malam terakhir?
Setelah sholat, ada waktu untuk berdoa sendiri. Di situlah pertahanan runtuh.
Ada momen yang sampai bertahun-tahun kemudian masih terasa. Ketika kita mengangkat kepala dari sujud terakhir, dari jendela musholla terlihat langit mulai berubah warna. Gelap pekat perlahan digantikan biru tua yang sangat halus. Adzan subuh belum berkumandang, tapi dunia sudah mulai bersiap.
Kita menyaksikan pergantian itu. Dari gelap menuju terang. Dan untuk pertama kalinya, subuh bukan sekadar alarm yang harus dilawan. Subuh adalah janji yang ditepati.
Bagaimana satu malam bisa mengubah kebiasaan seumur hidup?
Setelah malam itu, ketika dibangunkan untuk subuh, mata terbuka sedikit lebih mudah. Seminggu kemudian, kita mulai bangun sebelum dibangunkan. Sebulan kemudian, tubuh sudah terbiasa.
Kebiasaan itu terbawa pulang. Ketika libur semester, ketika tidak ada yang membangunkan — kita tetap bangun. Bukan karena disiplin. Tapi karena sudah tahu rasanya kehilangan waktu itu, dan kita tidak mau kehilangan lagi.
Kenapa pengalaman ini tidak bisa diceritakan, hanya bisa dirasakan?
Kita sudah mencoba menjelaskan. Tentang bagaimana bangun jam dua malam bisa terasa menyembuhkan. Tentang bagaimana menangis di atas sajadah di tengah kegelapan justru membuat kita merasa paling utuh.
Memang ada hal-hal yang hanya bisa dipahami oleh orang yang pernah mengalaminya sendiri.
Di Darunnajah 2 Cipining, qiyamul lail bukan program satu malam. Ini kebiasaan yang ditanamkan perlahan, sampai menjadi bagian dari napas keseharian.
Qiyamul lail justru untuk orang-orang yang merasa belum apa-apa. Yang masih belajar. Yang kadang doanya hanya berisi satu kata — tolong.
Kalau ada yang bertanya apa satu hal dari pesantren yang paling mengubah hidup, jawabannya bukan pelajaran di kelas. Tapi malam pertama itu. Malam ketika kita dipaksa bangun dan justru menemukan bahwa selama ini kita yang tertidur.
Hubungi WhatsApp 0812111180 untuk memulai percakapan tentang masa depan yang utuh.