Backstage Sebelum Pentas Seni dan Gugup yang Mengubah Seseorang Selamanya

Tangan itu gemetar. Bukan karena dingin, bukan karena sakit. Gemetar karena sebentar lagi harus berdiri di depan ratusan orang dan berpura-pura menjadi seseorang yang lain. Di sudut ruangan sempit yang berbau bedak dan minyak kayu putih, seorang santri duduk di lantai, memejamkan mata, menggerakkan bibir tanpa suara. Menghafal dialog untuk kesekian kalinya.

Di sebelahnya, seseorang sedang mengoleskan bedak tebal ke wajah temannya. Tangannya juga tidak sepenuhnya stabil, tapi ia tetap melakukannya karena memang tidak ada orang lain yang bisa. Tata rias untuk pentas seni di pesantren bukan urusan profesional. Ini urusan siapa saja yang berani bilang aku bisa coba.

Bagaimana rasanya menjadi orang yang harus siap padahal belum merasa siap?

Backstage bukan tempat yang glamor. Ini ruangan kecil, kadang hanya lorong di belakang aula, dengan cermin seadanya. Kostum digantung di paku dinding. Properti panggung — pedang dari karton, mahkota dari kertas emas — berjejer di lantai. Tapi bagi yang akan memakainya, benda-benda itu bukan mainan.

Ada yang latihan dialog di pojokan sambil mondar-mandir. Ada yang merapikan lipatan kostum yang sebenarnya sudah rapi. Ada yang tiba-tiba merasa perutnya mual. Semua reaksi itu wajar. Dan tidak ada yang mau mengakuinya duluan.

Sampai seseorang akhirnya bilang, kamu juga deg-degan?

Dan seketika seluruh ruangan menghembuskan napas yang sama.

Kenapa doa bersama sebelum naik panggung terasa berbeda?

Lima belas menit sebelum pentas dimulai, semua pemain berkumpul membentuk lingkaran. Yang memakai kostum raja berdiri di sebelah yang memakai kostum rakyat jelata. Tidak ada peran di lingkaran itu. Hanya anak-anak muda yang sama-sama takut dan sama-sama ingin memberikan yang terbaik.

Doa itu pendek. Kadang hanya satu kalimat dari kakak kelas yang memimpin. Tapi keheningan sesudahnya berlangsung lebih lama dari doanya sendiri. Dan di keheningan itu, sesuatu bergeser di dalam dada. Gugup tidak hilang. Tapi gugup itu berubah bentuk. Dari ketakutan menjadi kesiapan.

Apa yang terjadi pada detik terakhir sebelum kaki melangkah ke panggung?

Tirai masih tertutup. Suara penonton sudah terdengar. Di sisi lain tirai, seorang santri berdiri dengan kostum yang sedikit kebesaran. Ia menarik napas. Menghitung sampai tiga di dalam hati. Tidak sampai tiga. Baru hitungan kedua, tirai sudah terbuka.

Dan kakinya melangkah.

Bukan karena ia sudah siap. Tapi karena ia tahu kalau menunggu sampai benar-benar siap, ia tidak akan pernah melangkah.

Di belakangnya, teman-teman yang belum mendapat giliran berdiri mengintip dari celah tirai. Mereka berbisik memberi semangat. Kadang hanya mengacungkan jempol yang tidak terlihat dari kejauhan. Tapi mengetahui ada orang-orang yang mendukung tanpa syarat, itu sudah lebih dari cukup.

Kenapa pengalaman ini tidak pernah benar-benar meninggalkan seseorang?

Pentas selesai. Tirai ditutup. Di backstage yang tadi penuh ketegangan, sekarang penuh pelukan. Ada yang menangis bukan karena sedih, tapi karena lega. Ada yang tertawa sambil melepas kostum. Ada yang duduk diam di sudut, tersenyum sendiri.

Di Darunnajah 2 Cipining, momen seperti ini terjadi karena memang begitulah hidup bersama bekerja — lewat hal-hal kecil yang tidak terlihat dari luar.

Dan bertahun-tahun kemudian, ketika seseorang harus berdiri di depan ruangan untuk presentasi pertamanya, ia akan teringat malam itu. Bukan dialognya. Tapi rasa di dadanya saat tirai terbuka dan kakinya tetap melangkah.

Kalau kita sedang memikirkan tempat yang memberikan ruang untuk anak mencoba dan tumbuh, hubungi WhatsApp 0812111180. Karena setiap anak berhak punya momen di mana gugupnya berubah menjadi sesuatu yang ia bawa seumur hidup.