PuasaPrasarana Peningkatan Taqwa

PuasaPrasarana Peningkatan Taqwa

Masjid Utama
Segi yang paling pokok dari taqwa, adalah bahwa taqwa itu merupakan sikap hidup, asas yang benar. Perkataan asas disebutkan dalam al-qur’an yang berkenaan dengan taqwa. Bahwa taqwa adalah asas yang benar.
Firman Allah, kasusnya sehubungan dengan adanya masjid “Dhiror” di Madinah yang didirikan tidak atas dasar taqwa. Yang kemudian Rasulullah diperintahkan untuk merubuhkan dan bahkan menghancurkannya, sebab motivasi dalam pembangunannya, asas atau dasarnya tidak sehat dan benar.
Kalau pondasi atau dasarnya saja tidak benar, bagaimana amal ibadah lain akan didirikan di atasnya. Apa mungkin sebuah bangunan dengan pondasi salah, rapuh, tidak kokoh?
Maka senada dengan itu, kita dapat jumpai pertanyaan retorik dalam alqur’an yang artinya : “Apakah orang yang mendirikan, mengasaskan bangunannya di atas rasa taqwa kepada Allah dan keinginan ridlo Tuhan itu yang lebih baik? Ataukah orang yang mendirikan bangunannya diibaratkan ditepi jurang yang retak kemudian bangunan itu runtuh bersama bangunan tersebut masuk jahannam.”
Bahwa pertanyaan atau pernyataan tersebut retorik, yang dalam ilmu “Balaghoh” disebut “Khatabi”, karena tidak memerlukan jawaban.
Sebab, jawabannya sudah terarah dan jelas, yaitu orang yang mendirikan bangunannya di atas taqwa dan keinginan mencapai ridlo-Nya itu yang lebih baik, dari pada mereka yang mendirikan bangunannya diibaratkan di tepi jurang yang retak, kemudian runtuh masuk neraka jahannam.
Jadi menurut ajaran Islam, dasar hidup itu ada dua. Satu benar dan lainnya salah. Yang benar adalah asas taqwa kepada Allah dan keinginan mencapai ridlo-Nya, sementara yang kedua adalah dasar hidup tidak pada ketaqwaan atau salah.
Meskipun di dalam al-qur’an disebutkan, yang dimaksud dengan “Bun-yan” dalam arti fisik, yaitu masjid. Akan tetapi para ulama ahli tafsier berpendapat bahwa bun-yan di situ juga diartikan tamsil, ibarat dalam arti metafor atau majaz.
Semua bangunan hidup, termasuk yang bangunan tidak berbentuk fisik seperti ekonomi, sosial, politik, pendidikan, pergaulan, perkawanan, yayasan, dan lain sebagainya.
Bahwa semua itu harus mendasarkan taqwa kepada Allah SWT. maknanya adalah mendasarkan hidup kita kepada taqwa, artinya tiada lain menyadari bahwa dalam hidup ini, Allah selalu hadir dalam hidup kita.
Allah sifatnya Maha hadir, di mana-mana, sebagaimana firman-Nya : “Wa Hua Ma’akum ‘Aina ma Kuntum.”, “Dia itu beserta kamu di mana saja kamu berada.”
Di lain ayat menyatakan : “dan Allah Maha Mengetahui yang kamu kerjakan, kemanapun kamu menghadapkan wajahmu di sana ada wajah Allah.”
Dengan kata lain hidup kita tidak pernah sedikitpun lepas dari pengawasan-Nya. Kalau kita memiliki keinsafan dan kesadaran mendalam, dalam hadirnya Tuhan, maka banyak sekali hikmah yang bisa dipetik.
Salah satunya kalau orang mempunyai taqwa seperti itu, maka dengan sendirinya dia akan dibimbing ke arah budi pekerti luhur. Sebab kalau orang mengetahui bahwa Allah selalu mengawasinya, tentunya ia akan selalu berusaha berbuat yang kira-kira berkenan di hati Tuhan.
Mardhotillah, dalam istilah Allah. Karena itu, taqwa dikaitkan dengan dengan “Ridwanum Minallah”, yaitu sikap hidup yang senantiasa merindukan dan berupaya agar kehidupan ini selalu mencapai ridho Allah SWT.
Maka dari itu salah satu makna, mengapa ajaran agama kita, mengajarkan sebelum memulai sesuatu yang baik diharuskannya membaca Bismillah.
Di antaranya ialah untuk menegaskan diri kita sendiri bahwa perbuatan yang kita kerjakan kira-kira akan diridhoi Allah SWT.
Kalau seseorang selalu memperhitungkan perkenan Tuhan dalam perbuatannya, maka dengan sendirinya akan terbimbing ke arah budi pekerti yang luhur. Oleh karena Allah tidak meridhoi hal-hal yang tidak baik.
Ulama mengatakan, bahwa taqwa itu ada kaitannya dengan fitrah, yaitu kesucian asal manusia. Taqwa adalah tiada lain dari kerinduan diri kita sendiri, kerinduan untuk mencari kebenaran, untuk mencari kebaikan, sehingga dengan berbekal fitrah itu menjadi makhluk yang hanif, lurus.
Selalu merasa tenteram dengan yang baik, manusia selalu gelisah oleh yang jahat, sebaliknya kalau manusia itu berbuat baik akan tenteram.
Oleh karena itu ada seorang ulama yang bernama Ibnu Qoyim, Ia menulis buku berjudul “Al-Thibu Nabawi,” kedokteran Nabi. Di tulis kira-kira 620 tahunan silam dan di antara obat-obat yang ia sebutkan, ada yang sama atau serupa sekarang tetapi juga dikatakan dalam bukunya, bahwa obat yang paling mujarab untuk mengobati penyakit adalah Amal Sholeh, berbuat baik.
Karena setelah kita berbuat baik, hati akan tenteram dan dari itu mempunyai efek kesehatan jiwa. Oleh karena itu, dalam al-qur’an disebutkan : “Bahwa salah satu ciri orang yang beriman adalah tenteram jiwanya.” “Orang-orang yang beriman dan hatinya tenteram dengan ingat kepada Allah SWT ketahuilah bahwa dengan ingat kepada Allah itu hati menjadi tenteram.” (Ar Ra’d 28).
            
Banyak faktor yang dengan ingat kepada Allah itu menjadi tenteram. Pertama, karena dengan mengingat Allah, kita mempunyai ketegasan dalm hidup ini.
Kedua, berarti kita mengingat kepada satu sumber yang tiada habis-habisnya, dan yang menjadi tempat bersandar kita, salah satu dari sifat Allah adalah al-Wakil, tempat kita bersandar.
Dengan demikian, taqwa itu ada kaitannya dengan hati nurani. Jadi taqwa itu mendidik dan memperkuat hati nurani, yang bersifat cahaya. Kenapa demikian, karena menurut al-Qur’an dan al-Hadits, hati ini adalah modal pertama yang diberikan Tuhan, untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. “Faalhamaha Fujuroha wa Taqwaha.”
Maka Allah memberikan ilham kepada hati itu, apa yang menjadi kejahatannya dan kebaikannya. Jadi tahap pertama mengetahui baik dan buruk melalui hati nurani, tetapi di samping itu manusia juga dhaif. Dan kedhaifan manusia mudah tertipu, diakibatkan oleh pandangan yang pendek.
Firman Allah : “Kalla bal Tukhibbunal ‘Ajilah, wa Tadzarunal Akhirah,” ingatlah bahwa kamu ini lebih suka kepada hal-hal yang segera, dan lupa pada hal-hal yang jangka panjang.
Dalam bahasa sekarang, kita ini cenderung memikirkan hal-hal yang praktis dan lupa kepada hal-hal yang strategis. Hal strategis karena kita umumnya tidak sabar. Padahal Allah menegaskan dalam al-Qur’an :
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang harus diperhatikan untuk hari esok….” (Q.S. al-Hasyr : 18).
       •    •   •     
Dari pernyataan Allah di atas, berarti kita harus berorientasi ke masa depan yang jauh. Oleh karena manusia cenderung berpandangan pendek, karena itu manusia cenderung mudah tertipu.
Karena pandangan inilah manusia sering terjerumus ke dalam dosa. Dan dosa itu sesuatu yang dalam jangka pendek menyenangkan sekali, tetapi dalam jangka panjang membikin manusia sengsara.
Semua dosa secara taktis membawa kebahagiaan, tetapi secara strategis membawa kesengsaraan. Ada sebuah kata mutiara, : “Kamu boleh kalah dalam pertempuran, tetapi jangan kalah dalam peperangan.” Artinya kita boleh kalah dalam jangka pendek, tetapi jangka panjang harus berhasil.
Dosa dalam bahasa al-Quran itu “Dhulmun” dan orang yang berdosa disebut dhlaim. Dhulmun secara etimologi berarti gelap. Orang yang banyak berbuat jahat, maka hatinya tidak bersifat nurani, tetapi dhulmani, gelap.
Yang memiliki hati nurani hanya orang taqwa. Sedangkan yang jahat itu akibat perbuatannya sendiri. Rasulullah SAW bersabda : “Kejahatan itu akan menjadi kegelapan di hari kiamat. Orang yang senantiasa bergelimang dengan dosa hidupnya menjadi gelap.”
Dengan berbekal hati nurani itu kita menuju Shiratal Mustaqim. Karena itu mendapat peneguhan dari Allah, yaitu agama. Karenanya, Ibnu Thaimiyyah menyatakan : Bahwa agama itu “Fitratun Minaddalah”, Fitrah yang diturunkan dari langit.
Hati nurani yang diturunkan dari langit untuk memperkuat hati nurani yang ada dalam dada kita.
Salah satu pendidikan untuk mengarah kepada hal tersebut adalah Puasa. Pembiasaan puasa menjadikan, mendidik hati nurani kita, bagaimana agar memiliki hati nurani yang tajam, peka, yang sensitif kepada masalah yang benar dan salah, sehingga kita betul-betul menemukan jalan yang lurus.
Salah satu anjuran dalam puasa adalah, kita mohon kepada Allah untuk diberi kesanggupan, mengetahui bahwa yang benar adalah benar dan yang salah itu salah.
Faktor lain yang menyebabkan manusia lemah, karena manusia sering menjadi tawanan situasi kita. Keadaan memenjara kita begitu kuat dan kokohnya, sehingga kita sering lihat, menilai baik dan buruk dari kaca mata sendiri.
Suatu contoh, umpamanya sedang dalam berkendara mobil, tiba-tiba kita terjebak suatu kemacetan total. Maka ketika itu pula kita akan memfonis orang lain salah dan dirinyalah yang benar.
Tetapi pada suatu saat dalam kendaraan becak, dan mengalami hal serupa, kita akan mengatakan bahwa becak yang sedang kita tunggangi yang paling benar dan yang lain salah.
Nampak jelas, bahwa kita ini sering menjadi tawanan situasi kita dan itulah yang disebut hawa nafsu, kecenderungan rendah terhadap diri sendiri.
Ada penggalan kisah ilustratif. Suatu hari, ada dua orang sahabat mengahmpiri lapak untuk membeli buku dan majalah. Penjualnya ternyata melayani dengan buruk, muka cemberut, tanpa sedikitpun menuangkan simpati.
Orang pertama jelas jengkel, marah dan jenuh melihat dan menerima perlakuan seperti itu. Tetapi yang mengherankan, orang kedua tetap enjoy, wholes, bahkan sangat bersimpatik dan sopan terhadap penjual.
Kontan saja, situasi seperti ini begitu mengherankan bagi pembeli pertama. Lantas ia bertanya kepada sahabatnya, “Hei, kenapa kamu bersikap sopan kepada penjual yang menjengkelkan, membosankan dan menjenuhkan itu”.
Sahabatnya menjawab, “Lho, kenapa saya harus mengizinkan dia menentukan caraku dalam bertindak? Kitalah sang penentu atas kehidupan kita, bukan orang lain.”
“Tapi dia melayani kita dengan buruk sekali,” bantah orang pertama yang masih merasa sebel, jengkel, dan muak.
“Ya itu masalah dia, dia mau badmood, tidak sopan, melayani dengan buruk, dan lain sebagainya, toh itu tidak ada kaitannya dengan kita. Kalau kita sampai terpengaruh, berarti kita membiarkan dia mengatur dan mempengaruhi idup kita, padahal kitalah yang bertanggung jawab atas diri sendiri.”
Sahabat luar biasa, tindakan kita kerap dipengaruhi oleh tindakan orang lain kepada kita. Kalau mereka melakukan hal yang buruk, kita akan membalasnya lebih buruk lagi. Kalau mereka tidak sopan, kita akan lebih tidak sopan laigi. Kalau orang lain pelit terhadap kita, kita yang semula pemurah tiba-tiba jadi sedemikian pelit kalau harus berurusan dengan orang itu.
Coba renungkan, mengapa tindakan kita harus dipengaruhi oleh orang lain? Mengapa untuk berbuat baik saja, kita harus menunggu diperlakukan dengan baik oleh orang lain dulu?
Kita harus bisa jaga suasana hati, jangan sampai sikap buruk orang lain kepada kita menentukan cara kita bertindak! Pilih untuk tetap berbuat baik, sekalipun menerima hal yang tidak baik.
“Pemenang kehidupan” adalah orang yang tetap sejuk di tempat yang panas, yang tetap manis di tempat yang sangat pahit, yang tetap merasa kecil meskipun telah menjadi besar, serta tetap tenang di tengah badai yang paling hebat.
Bukan situasi yang menentukan kita, tapi sikap kitalah yang harus menentukan situasi .
Maka dari itu perjuangan kita melawan hawa nafsu, Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang berpuasa di dasarkan atas iman dan penuh perhitungan, maka akan diampuni segala dosa-dosanya.”
Dalam hadis tesebut terdapat kata hisab, (perhitungan) bermakna memeriksa diri sendiri dengan jujur. Siapa kita, akan ke mana kita, maka kalau kita sanggup melakukan itu dosa kita akan diampuni Allah.
Namun untuk mendapat itu semua diperlukan riyadhoh, latihan yang luar biasa, memperbanyak puasa dan khususnya bulan Ramadhan yang telah berlalu sebagi desain untuk melakukan itu.
Bagaimana kita menghayati hadirnya Tuhan dalam hidup, sehingga meskipun kita dalam kesendirian, dalam keadaan lapar dan dahaga kita tidak berani makan dan minum.
Puasa adalah ibadah yang paling individu, ini berarti melatih kita memperagakan kehidupan kita dalam hidup ini. Inilah makna dari INNALLAHA MA’ANA, Allah bersama kita. Semoga bermanfaat. [Mr. Song]
——-
disampaikan pada ta’lim asharNgaji Bersama di Masjid Kampus 1 Pesantren Darunnajah, Kamis, 12 September 2013

Pendaftaran Santri Baru