Puasa Muharram: Rahasia di Balik Tasu'a dan Asyura Puasa Muharram: Rahasia di Balik Tasu'a dan Asyura

Puasa Muharram: Rahasia di Balik Tasu’a dan Asyura

Pernah dengar orang bilang, “puasa Asyura itu ya tinggal puasa tanggal 10 Muharram saja, selesai”? Sekilas benar. Tapi kalau ditelusuri sejarahnya, ada cerita yang lebih dalam di balik itu, cerita yang melibatkan Nabi Musa ‘alaihissalam, Fir’aun, dan keputusan Rasulullah ﷺ yang belum sempat beliau jalankan sendiri sebelum wafat.

Puasa Muharram bukan sekadar ibadah tahunan yang lewat begitu saja di kalender. Ia punya struktur, punya tingkatan, dan punya alasan kuat di setiap detailnya. Begitu kita paham alasannya, ibadah ini terasa beda. Bukan lagi rutinitas, tapi sesuatu yang punya makna.

Kenapa bulan Muharram begitu istimewa

Muharram adalah satu dari empat bulan haram, bulan yang dimuliakan Allah dalam kalender Hijriah, bersama Rajab, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)

Empat bulan ini punya kedudukan khusus. Amal kebaikan di dalamnya lebih besar nilainya, dan dosa di dalamnya juga lebih berat timbangannya. Rasulullah ﷺ menyebut Muharram secara spesifik sebagai Syahrullah, bulan Allah. Penyebutan seperti ini tidak pernah dipakai untuk bulan lain dalam hadits, dan itu cukup untuk menunjukkan betapa istimewanya bulan ini di sisi syariat.

Dari sinilah muncul sabda Nabi ﷺ yang jadi rujukan utama soal puasa di bulan ini:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram.” (HR. Muslim, no. 1163)

Artinya, sepanjang bulan ini, siapa pun yang ingin memperbanyak puasa sunnah, ini adalah waktu yang paling dianjurkan untuk itu, di luar Ramadhan.

Kisah di balik puasa Asyura: dari Musa hingga Madinah

Sekarang masuk ke bagian yang sering dilewatkan banyak orang: kenapa tanggal 10 Muharram, bukan tanggal lain?

Jauh sebelum Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, orang-orang Quraisy di Makkah sudah punya kebiasaan berpuasa di hari Asyura. Sebagian ulama menyebut ini sebagai sisa syariat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Nabi ﷺ sendiri juga berpuasa pada hari itu ketika masih di Makkah, meski belum memerintahkannya secara umum kepada umat.

Begitu sampai di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi setempat juga berpuasa di hari yang sama. Mereka punya alasan sendiri: hari itu adalah peringatan saat Allah menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihissalam dan kaumnya dari kejaran Fir’aun yang zalim. Laut terbelah, Bani Israil lolos, dan Fir’aun beserta bala tentaranya ditenggelamkan.

Mendengar itu, Rasulullah ﷺ tidak diam saja. Beliau menegaskan bahwa umat Islam justru lebih berhak merayakan kemenangan Nabi Musa dibanding kaum Yahudi sendiri, karena iman kepada para nabi adalah bagian dari akidah seorang Muslim. Beliau lalu berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk ikut.

Bayangkan sejenak posisinya. Ini bukan cuma soal menahan lapar sehari. Ini soal identitas keimanan, soal siapa yang benar-benar mewarisi ajaran para nabi. Dan Rasulullah ﷺ memilih untuk merebut kembali makna hari itu, bukan meninggalkannya begitu saja karena sudah “dipakai” kaum lain.

Keutamaan puasa ini pun bukan main-main. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah ﷺ ditanya tentang puasa Asyura, lalu beliau menjawab:

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa hari Asyura, sungguh aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim, no. 1162, dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu)

Para ulama, di antaranya Imam An-Nawawi rahimahullah, menjelaskan bahwa yang dihapus di sini adalah dosa-dosa kecil. Dosa besar tetap memerlukan taubat nasuha, taubat yang sungguh-sungguh disertai penyesalan dan tekad untuk tidak mengulang. Jadi puasa ini bukan tiket gratis untuk berbuat seenaknya lalu santai karena “nanti kan dihapus.” Justru sebaliknya, ia jadi pengingat bahwa rahmat Allah luas, tapi usaha menjauhi dosa besar tetap jadi tanggung jawab kita sendiri.

Tasu’a: keputusan yang tidak sempat dijalankan Nabi ﷺ

Bagian ini yang menurut saya paling menyentuh dari seluruh kisah puasa Muharram.

Di penghujung hidupnya, para sahabat menyampaikan sesuatu kepada Rasulullah ﷺ: bahwa hari Asyura juga diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani. Mendengar itu, beliau langsung berniat menambahkan satu hari lagi, yaitu tanggal 9 Muharram, supaya ibadah umat Islam punya pembeda yang jelas dari ritual kaum lain. Inilah yang kemudian dikenal sebagai puasa Tasu’a.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sabda beliau:

لَئِنْ عِشْتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

“Sungguh, jika aku masih hidup sampai tahun depan, aku pasti akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim, no. 1162, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma)

Tapi tahun depan itu tidak pernah datang baginya. Rasulullah ﷺ wafat sebelum Muharram berikutnya tiba.

Coba rasakan itu sejenak. Niat baik yang sudah diucapkan, tekad yang sudah dibulatkan, tapi ajal lebih dulu menjemput. Para ulama kemudian sepakat menjadikan tekad ini sebagai dasar sunnah: kita yang masih diberi kesempatan hidup, menjalankan apa yang Rasulullah ﷺ ingin lakukan tapi tak sempat. Ada semacam ketersambungan emosional di sana, melanjutkan niat orang yang paling kita cintai, meski beliau sendiri tak pernah merasakannya.

Puasa Muharram: Rahasia di Balik Tasu'a dan Asyura

Tiga tingkatan puasa, mana yang paling pas untuk kamu

Dari sejarah inilah, para ulama merumuskan tiga tingkatan cara menjalankan puasa Muharram di pertengahan bulan ini. Bukan untuk mempersulit, tapi untuk memberi pilihan sesuai kemampuan, sambil tetap menjaga ruh sunnahnya.

Tingkatan pertama, yang paling utama: puasa tiga hari berturut-turut, tanggal 9, 10, dan 11 Muharram. Pola ini paling aman karena dua alasan. Pertama, mencakup Tasu’a dan Asyura sekaligus. Kedua, mengantisipasi kemungkinan selisih hitungan awal bulan, sebab penentuan 1 Muharram kadang berbeda antar wilayah atau metode.

Tingkatan kedua, yang utama: puasa dua hari, tanggal 9 dan 10 Muharram. Ini paling pas dengan tekad yang diucapkan Rasulullah ﷺ sebelum wafat.

Tingkatan ketiga, yang diperbolehkan: puasa tanggal 10 Muharram saja. Sah dan tetap mendapat pahala, hanya saja sebagian ulama memandangnya kurang utama, karena justru menyerupai pola ibadah kaum Yahudi yang hanya berpuasa di satu hari itu saja.

Jadi kalau kamu hanya sanggup satu hari, tidak masalah, itu tetap sah. Tapi kalau ada kelonggaran waktu dan tenaga, mengambil dua atau tiga hari jelas lebih dekat pada tuntunan yang sempurna.

Bagaimana puasa Muharram dibanding ibadah puasa sunnah lain

Supaya tidak tertukar, ada baiknya kita letakkan puasa Muharram dalam peta yang lebih luas. Puasa Senin-Kamis adalah siklus mingguan, semacam “setor amal” rutin. Puasa Ayyamul Bidh di tengah bulan adalah siklus bulanan yang pahalanya dilipatkan sepuluh kali, setara puasa sebulan penuh.

Puasa Muharram berbeda. Ia adalah tonggak tahunan, momentum di awal tahun Hijriah untuk memohon ampunan atas dosa setahun yang sudah lewat. Bandingkan juga dengan puasa Arafah di 9 Dzulhijjah, yang keutamaannya menghapus dosa dua tahun, satu tahun lalu dan satu tahun yang akan datang. Puasa Asyura ada satu tingkat di bawahnya: menghapus dosa setahun yang lalu saja. Tetap besar, tetap layak dikejar, hanya berbeda cakupan.

Yang bisa kita ambil dari semua ini

Di balik tata cara dan tingkatan yang dirumuskan ulama, ada satu pelajaran yang lebih dalam: konsistensi dalam menjaga identitas dan kemurnian ibadah itu butuh usaha sadar. Rasulullah ﷺ tidak membiarkan ibadah umatnya larut menjadi sama dengan kaum lain, meski temanya sama-sama mengagungkan pertolongan Allah. Beliau menambahkan satu hari, satu detail kecil, supaya identitas itu tetap terjaga.

Anak-anak kita perlu memahami nilai seperti ini sejak dini, bukan cuma menghafal tanggal puasa. Pendidikan yang menumbuhkan kepekaan terhadap detail ibadah dan menjaga identitas keislaman seperti ini biasanya tidak datang dari satu dua kali nasihat, tapi dari lingkungan yang membiasakannya setiap hari. Inilah yang coba dibangun di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, lewat pembiasaan ibadah, tahfizh, dan adab yang berjalan sepanjang waktu, bukan sekadar materi di kelas. Kalau Anda sedang mencari lingkungan seperti itu untuk putra-putri, tidak ada salahnya mengenalnya lebih dekat.

Tahun ini, sebelum Muharram berlalu, coba luangkan tiga hari itu. Bukan karena ringan untuk dijalankan, tapi karena di baliknya ada sejarah panjang yang menyambungkan kita pada perjuangan Nabi Musa ‘alaihissalam dan ketulusan niat Rasulullah ﷺ yang belum sempat beliau wujudkan sendiri. Wallahu a’lam bish-shawab.