Bulan Ramadhan yang identik dengan puasa cenderung dijadikan alasan untuk mengurangi bahkan menunda aktivitas. Alasan ini disandarkan bahwa tidurnya orang puasa saja merupakan bentuk ibadah. Namun pada umumnya, puasa memproduksi toleransi yang cukup tinggi. Sehingga ketertundaan dan keterlambatan aktivitas dijadikan sesuatu yang syah-sayah saja dilakukan.
Darunnajah Cipining dalam perannya sebagai lembaga pendidikan sekaligus sumber pendidikan keagamaan sangat mengantisipasi waktu Ramadhan dengan selalu mengisi aneka kegiatan disesuaikan dengan visi dan efektivitas yang akan berdampak feedback yang baik. Tidak saja pada kalangan santri dan administrator, karyawan pun tetap dituntut untuk melakukan aktivitas sebagaimana mestinya.
“Kalau tidur saja dapat menui pahala, apalagi bekerja dan melakukan hal-hal yang positif, insya Allah akan lebih bermanfaat dengan kualitas pahala yang sebanding” jelas kepala asrama putra, Ustadz Muhlisin, S.H.I.


Maka, kegiatan santri disesuaikan dengan agenda Ramadhan. Meskipun dalam keadaan puasa, justru kegitan ini bukan dikurangi malah menambah dalam durasi dan frekuensinya. “Bila puasa ada kegiatan, insya Allah p[uasanya tidak akan terasa” tambahnya. Pukul 03.00 WIB santri harus bangun melaksakan sahur. Mereka harus berjalan menuju ruang makan. Kegiatan ini menyita waktu sekitar 1 jam hingga siap menuju masjid untuk shalat tahajud, hajat, dan lainnya.
Kemudian santri melaksanakan shalat Shubuh berjamaah yang dilanjutkan dengan ta’lim. Menjelang pukul 06.00 WIB, mereka turun dari masjid dan bersiap menuju kelas masing-masing. Pukul 07.00 WIB mereka berada di kelas hingga saat shalat Dzuhur. Dan dilanjutkan dengan kajian dan bimbingan ibadah samapai 13.00 WIB. Usai kegitan ini, mereka berkesempatan untuk tidur siang.
Menjelang Ashar pada pukul 15.30 WIB, para santri kembali berjama’ah di masjid dilanjutkan dengan pembacaan Al-Ma’tsurat. Setengah jam kemudian, mereka turun dan mempersiapkan buka puasa. Biasanya mereka berbuka di depan kamar masing-masing dengan mengagendkan suatu acara untuk mengisinya. Acara yang diadakan berkisar pada latihan pidato, ceramah ringan atau membaca buku.
Usai makan buka, mereka salat berjama’ah Maghrib kemudian makan malam. Malamnya, ba’da Isya mereka mengikuti shalat Tarawih hingga menjelang pukul 20.30 WIB. Belum usai disitu, selepas itu pun mereka masih tetap bersemangat untuk neekuni dan mengkhusu’I ayat-ayat suci Al-Qur’an sampai setengah jam.

Hal serupa juga terjadi di kalangan karyawan Darunnajah. Puasa ini mereka tetap bekerja dan melakukan tugasnya dengan penuh kedisiplinan. “Meskipuh Ramadhan, semangat untuk beraktivitas tetap terjaga walaupun lemes-lemes dikit, tapi itu biasa” kata Mas Openg yang sedang asyik mengelas.
Semua aktivitas diiharapkan tetap berjalan. Maka pihak penanggung jawab dari masing-masing bidang juga tetap melakukan pengawasan. Semoga Ramdhan kali ini, keluarga besar pesantren Darunnajah Cipining diberikan kemudahan dan kebaikan untuk bekal merentas hari-hari selanjutnya. (Billah)




