Wakil Menteri Agama Republik Indonesia Dr. K.H. Romo R. Muhammad Syafi’i, S.H., M.Hum menyampaikan pidato pada Seminar Nasional & Grand Launching Program Doktor Manajemen Pendidikan Islam Universitas Darunnajah, Selasa (18/8/2026).
PESANTREN MENUJU INDONESIA EMAS 2045
Seminar Nasional dan Peresmian Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Program Doktor Universitas Darunnajah
Oleh: Dr. K.H. Romo R. Muhammad Syafii, S.H., M.Hum (Wakil Menteri Agama RI)
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Yang saya hormati para kiai, para ulama, para pimpinan pondok pesantren, para rektor, para dosen, para pengasuh, para guru, serta seluruh sahabat dan keluarga besar pendidikan Islam yang hadir pada kesempatan yang berbahagia ini.
Yang saya hormati pula Bapak Presiden Universitas Darunnajah beserta seluruh jajaran, para mahasiswa, para santri, dan seluruh sivitas akademika.
Alhamdulillāh, kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Swt. karena pada hari ini kita dapat hadir bersama dalam sebuah kegiatan yang sangat penting, yaitu seminar sekaligus momentum pengembangan program pendidikan doktoral dengan konsentrasi manajemen pesantren.
Semoga pertemuan ini bukan sekadar kegiatan akademik dan seremonial, tetapi menjadi bagian dari ikhtiar besar untuk mengembangkan pesantren dan pendidikan Islam di Indonesia. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw., keluarga, sahabat, dan seluruh umat beliau hingga akhir zaman. Pesantren adalah Kekuatan Besar Bangsa
Bapak-Ibu yang saya hormati, izinkan saya mengawali dengan sejumlah data.
Berdasarkan data yang saya terima, terdapat puluhan ribu pesantren di Indonesia, disertai puluhan ribu madrasah dan jutaan peserta didik yang berada dalam ekosistem pendidikan keagamaan.
Angka-angka itu perlu kita lihat bukan sekadar sebagai statistik. Angka tersebut menunjukkan betapa besar posisi pendidikan Islam dan pesantren dalam pembangunan manusia Indonesia. Pesantren bukan lembaga kecil. Pesantren merupakan salah satu kekuatan sosial, pendidikan, keagamaan, dan kebudayaan yang telah hidup di tengah masyarakat Indonesia selama berabad-abad dan yang lebih penting, pesantren telah membuktikan kemampuannya bertahan menghadapi perubahan zaman. Banyak pesantren telah melewati pergantian generasi, perubahan pemerintahan,
perubahan sosial, bahkan perubahan teknologi, tetapi tetap mampu mempertahankan eksistensinya.
Pertanyaannya kemudian: Apa yang membuat pesantren mampu bertahan? Tentu jawabannya sangat kompleks. Ada tradisi keilmuan. Ada kepemimpinan kiai. Ada budaya pesantren. Ada nilai-nilai keikhlasan, kemandirian, kedisiplinan, dan pengabdian. Tetapi semua itu juga membutuhkan pengelolaan yang baik.
Alumni Pesantren Telah Menjadi Pemimpin. Saya memiliki pengalaman ketika menghadiri sebuah rapat yang melibatkan sejumlah menteri, wakil menteri, dan pejabat tinggi negara.
Ketika kita melihat latar belakang pendidikan mereka, ternyata cukup banyak di antara mereka yang memiliki hubungan dengan pesantren. Ini memberikan pelajaran penting bagi kita.
Pesantren ternyata telah menjadi salah satu tempat lahirnya pemimpin-pemimpin Republik Indonesia.
Alumni pesantren telah mengisi berbagai posisi strategis di negara ini.
Mereka ada di pemerintahan, dunia akademik, dunia usaha, masyarakat, dan berbagai bidang kehidupan. Maka kita harus bertanya: Apakah pendidikan yang diterima oleh generasi pesantren pada masa lalu memang telah mempersiapkan mereka untuk menjadi pemimpin pada zamannya?
Jawabannya, alhamdulillāh, banyak yang telah membuktikannya.
Namun zaman terus berubah. Karena itu, kita tidak boleh hanya mengatakan, “Dulu pesantren sudah berhasil.” Kita harus bertanya: Apakah sistem pesantren hari ini sudah cukup untuk menghadapi tantangan masa depan?
Zaman Berubah, Pesantren Harus Adaptif
Bapak-Ibu yang saya muliakan,
Dunia hari ini berbeda dengan dunia beberapa puluh tahun yang lalu.
Perkembangan teknologi membuat dunia seolah-olah tidak lagi memiliki batas.
Informasi dari berbagai penjuru dunia dapat masuk ke ruang kelas, kamar santri, bahkan ke dalam kehidupan pribadi kita dalam hitungan detik.
Karena itu, pesantren harus terus adaptif terhadap perkembangan zaman.
Adaptif tidak berarti meninggalkan identitas pesantren. Adaptif berarti mampu menjaga nilai-nilai dasar pesantren sekaligus menyesuaikan sistem pendidikan, manajemen, kurikulum, teknologi, dan keterampilan dengan kebutuhan zaman. Kalau kita tidak adaptif, kita akan tertinggal.
Tetapi kalau kita adaptif dengan kehilangan nilai-nilai pesantren, kita juga akan kehilangan jati diri.
Maka tantangannya adalah: bagaimana menjaga nilai, tetapi memperbarui cara. Pentingnya Manajemen Pesantren. Inilah yang menurut saya sangat penting dari pengembangan program manajemen pesantren. Pesantren tidak cukup hanya dikelola berdasarkan pengalaman. Pengalaman itu penting, tetapi pengalaman harus dikembangkan menjadi pengetahuan.
Pengetahuan harus diteliti. Hasil penelitian harus menjadi ilmu dan ilmu harus dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, saya menyambut baik adanya pengembangan program akademik yang memberikan perhatian khusus kepada manajemen pesantren, termasuk pada jenjang doktoral. Saya berharap kurikulumnya terus disempurnakan sehingga benar-benar menjawab kebutuhan pesantren hari ini.
Kita membutuhkan para akademisi dan doktor yang memahami pesantren bukan hanya dari buku, tetapi dari pengalaman dan realitas kehidupan pesantren. Kita membutuhkan orang yang memahami bagaimana pesantren dikelola, bagaimana kepemimpinannya, bagaimana kaderisasinya, bagaimana sumber daya manusianya, bagaimana keuangannya, bagaimana pengembangan ekonominya, bagaimana kurikulumnya, bagaimana hubungan pesantren dengan masyarakat dan bagaimana pesantren mempersiapkan santrinya menghadapi kehidupan setelah mereka menyelesaikan pendidikan. Santri Harus Dipersiapkan untuk Mandiri
Bapak-Ibu yang saya hormati, salah satu tantangan besar pesantren adalah bagaimana mempersiapkan santri agar mampu hidup mandiri setelah menyelesaikan pendidikannya. Santri tidak boleh hanya dibekali dengan pengetahuan. Mereka juga harus memiliki keterampilan dan kemampuan menghadapi kehidupan nyata. Dunia yang mereka hadapi setelah keluar dari pesantren jauh lebih kompleks. Mereka akan memasuki dunia kerja, dunia usaha, dunia akademik, pemerintahan, masyarakat, dan ruang publik yang terus berubah. Karena itu, pesantren harus menyiapkan generasi yang memiliki ilmu agama sekaligus memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan berkontribusi dalam berbagai bidang. Bayangkan apabila alumni pesantren kelak menjadi menteri sosial, menteri ekonomi, menteri kesehatan, akademisi, pengusaha, teknokrat, atau pemimpin masyarakat. Maka pendidikan pesantren harus mempersiapkan mereka untuk berbagai kemungkinan tersebut. Jangan sampai kita membatasi cita-cita santri hanya karena kita membatasi cara pandang pendidikan kita.
Manajemen Masjid sebagai Kekuatan Umat. Saya juga ingin menyampaikan satu gagasan yang menurut saya sangat penting, yaitu mengenai manajemen masjid. Jumlah masjid di Indonesia sangat besar.
Namun pertanyaannya bukan hanya berapa jumlah masjid yang kita miliki. Pertanyaannya:
Apa yang dilakukan masjid untuk masyarakat di sekitarnya?
Masjid jangan hanya menjadi tempat salat. Masjid harus dapat menjadi pusat pendidikan.
Masjid dapat menjadi pusat pemberdayaan masyarakat. Masjid dapat menjadi pusat kegiatan sosial. Masjid bahkan dapat menjadi pusat penguatan ekonomi umat. Kita harus mulai memikirkan bagaimana masjid dapat menjadi benteng peradaban, masjid dapat menjadi benteng pendidikan, masjid dapat menjadi benteng ekonomi, masjid dapat menjadi benteng sosial dan semua itu membutuhkan manajemen.
Kita membutuhkan orang-orang yang memahami bagaimana mengelola masjid secara profesional, tetapi tetap berlandaskan nilai-nilai Islam dan keteladanan Rasulullah SAW. Masjid Harus Ramai oleh Generasi Muda. Saya juga melihat satu persoalan yang sangat penting. Ada masjid yang bangunannya bagus, indah, dan megah, tetapi anak-anak dan generasi mudanya tidak hadir di sana.
Menurut saya, masjid seperti ini menghadapi persoalan yang lebih serius daripada sekadar persoalan bangunan. Masjid harus menjadi tempat yang dicintai anak-anak. Harus ada kegiatan pendidikan, harus ada kegiatan sosial, harus ada ruang bagi generasi muda, karena kalau generasi muda tidak merasa memiliki masjid, maka kita sedang kehilangan salah satu pusat pembentukan generasi. Kita harus membuat masjid hidup, bukan hanya bangunannya yang hidup, tetapi masyarakatnya juga hidup. Pesantren dan Masjid sebagai Modal Sosial
Bapak-Ibu yang saya hormati, saya melihat pesantren dan masjid sebagai bagian dari modal sosial bangsa. Kalau dikelola dengan baik, kekuatan sosial tersebut luar biasa besar. Bayangkan jika setiap masjid memiliki orang-orang yang memahami manajemen. Mereka dapat mengelola pendidikan, kegiatan sosial, pemberdayaan ekonomi, wakaf, zakat, dan berbagai program masyarakat. Begitu pula dengan pesantren. Kalau puluhan ribu pesantren memiliki manajemen yang kuat, maka sesungguhnya kita sedang membangun jaringan sosial yang sangat besar. Karena itu, ilmu manajemen pesantren dan manajemen masjid bukan sekadar ilmu administrasi. Ini adalah bagian dari usaha membangun kekuatan masyarakat dan peradaban. Pendidikan Harus Menjamin Keamanan Anak Ada satu hal lagi yang sangat penting. Anak-anak yang berada di sekolah, madrasah, dan pesantren adalah investasi keluarga, investasi umat, dan investasi bangsa.
Karena itu, kita harus memastikan mereka memperoleh lingkungan pendidikan yang aman.
Tidak boleh ada penyimpangan yang dibiarkan. Tidak boleh ada kekerasan yang ditutup-tutupi. Tidak boleh ada pelanggaran yang dianggap sebagai persoalan kecil. Setiap lembaga pendidikan harus memiliki mekanisme yang mudah, transparan, dan dapat dipercaya untuk menerima laporan apabila terjadi penyimpangan. Kita harus berani melakukan tindakan tegas apabila ada pihak yang menyalahgunakan amanah pendidikan. Sebab anak-anak kita bukan sekadar peserta didik. Mereka adalah masa depan bangsa. Kalau kita gagal menjaga mereka, kita sedang mempertaruhkan masa depan bangsa. Pesantren Menuju Indonesia Emas 2045
Bapak-Ibu sekalian, kita sedang menuju Indonesia Emas 2045. Pertanyaannya bukan lagi apakah pesantren akan ada pada tahun 2045. Saya yakin pesantren akan tetap ada. Pertanyaan yang lebih penting adalah: Pesantren akan menjadi apa pada tahun 2045? Apakah pesantren hanya menjadi penonton? Ataukah pesantren akan menjadi salah satu kekuatan utama yang ikut menentukan arah bangsa? Saya yakin jawabannya harus yang kedua. Pesantren harus hadir sebagai subjek. Pesantren harus hadir sebagai pusat ilmu. Pesantren harus hadir sebagai pusat pembentukan karakter. Pesantren harus hadir sebagai pusat pemberdayaan masyarakat dan pesantren harus hadir sebagai salah satu kekuatan peradaban Indonesia.
Karena itu, pekerjaan kita tidak boleh berhenti pada hari ini. Kita harus menyiapkan kurikulum, kita harus memperkuat manajemen, kita harus memperkuat penelitian, kita harus menyiapkan kader pemimpin, kita harus memperkuat ekonomi pesantren, kita harus memanfaatkan teknologi dan kita harus memastikan bahwa seluruh proses pendidikan benar-benar mempersiapkan santri menghadapi kehidupan masa depan.
Penutup
Bapak-Ibu yang saya hormati, saya ingin mengucapkan selamat kepada Universitas Darunnajah atas ikhtiar yang sedang dilakukan dalam mengembangkan pendidikan dan kajian manajemen pesantren. Saya berharap program ini tidak berhenti sebagai sebuah program akademik. Saya berharap dari sini lahir gagasan-gagasan baru, lahir penelitian-penelitian baru,lahir doktor-doktor baru, lahir para pemimpin pesantren yang memiliki wawasan luas dan yang paling penting, lahir sistem manajemen pesantren yang semakin baik dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Kita tidak ingin pesantren hanya menjadi objek yang diteliti oleh orang lain. Kita ingin pesantren menjadi subjek yang mampu meneliti dirinya sendiri, mengembangkan ilmunya sendiri, dan memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa.
Mari kita siapkan pesantren untuk menghadapi masa depan. Mari kita siapkan santri untuk menjadi pemimpin masa depan. Mari kita jadikan pesantren sebagai kekuatan pendidikan, kekuatan sosial, kekuatan ekonomi, dan kekuatan peradaban. Semoga Allah Swt. memberikan kekuatan kepada kita untuk menjaga amanah ini. Semoga pesantren terus maju dan berkembang. Semoga Universitas Darunnajah terus menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut dan semoga seluruh ikhtiar kita menjadi amal jariyah yang memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan negara.
Wallāhu al-muwaffiq ilā aqwamit-tharīq. Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
