Ada sesuatu yang berubah saat kita meninggalkan jalan raya dan mulai naik ke arah perbukitan. Jalanan menyempit. Pepohonan semakin rapat. Udara terasa lebih dingin. Dan saat sampai di lokasi pesantren yang berada di kaki bukit, dunia terasa sedikit melambat. Bukan lebih baik atau lebih buruk dari pesantren di kota — hanya berbeda.
Apa yang membuat suasana pesantren di kaki bukit terasa berbeda?
Perbedaannya bukan hanya soal pemandangan. Suara di pesantren kaki bukit berbeda — lebih banyak suara alam daripada suara kendaraan. Cahaya matahari pagi menyentuh halaman dengan cara yang berbeda karena terhalang pepohonan dan kontur bukit. Bahkan cara angin bertiup pun terasa tidak sama.
Untuk sebagian santri, perbedaan ini memberi efek yang cukup terasa pada keseharian. Tidur terasa lebih nyenyak karena suhu malam cukup dingin. Bangun pagi terasa lebih segar karena udara yang bersih. Belajar di kelas terasa sedikit lebih tenang karena tidak ada kebisingan dari luar.
Tapi jujur saja, ini bukan pengalaman semua orang. Ada santri yang justru merasa terlalu sepi dan rindu suasana kota. Ada yang butuh waktu lebih lama untuk terbiasa dengan jarak ke minimarket terdekat yang tidak sedekat di kota. Setiap lingkungan punya tantangannya masing-masing.
Bagaimana kehidupan santri di pesantren yang berlokasi di perbukitan?
Dari sisi jadwal, tidak jauh berbeda dari pesantren manapun. Sholat berjamaah, belajar di kelas, percakapan bahasa asing, olahraga, mengaji, dan belajar malam. Yang berbeda adalah konteksnya. Olahraga sore dilakukan di lapangan yang udaranya sejuk. Mengaji sore dengan jendela terbuka dan angin pegunungan yang masuk. Sholat subuh berjamaah saat udara pagi masih dingin dan langit baru mulai terang.
Momen-momen itu mungkin terasa biasa bagi yang sudah lama tinggal di sana. Tapi bagi santri baru yang datang dari kota, perbedaannya cukup terasa — dan bagi sebagian, itu menjadi salah satu hal yang justru membuat mereka betah.
Alam di sekitar pesantren juga kadang menjadi bagian dari kegiatan. Hiking ringan, kerja bakti membersihkan lingkungan, atau sekadar duduk di halaman menikmati sore hari. Hal-hal sederhana yang mungkin tidak tersedia di pesantren perkotaan — tapi yang juga belum tentu dibutuhkan oleh semua anak.
Apakah lokasi di kaki bukit membuat akses menjadi sulit?
Ini pertanyaan yang wajar. Jawabannya — tergantung pesantrennya. Ada yang aksesnya sudah cukup baik dengan jalan aspal sampai depan gerbang. Ada juga yang jalannya masih perlu diperbaiki. Hal ini perlu dicek langsung saat survei.
Jarak ke kota atau rumah sakit juga perlu dipertimbangkan. Pesantren yang baik biasanya sudah punya klinik kesehatan sendiri di dalam lingkungan untuk penanganan dasar. Tapi untuk kasus yang lebih serius, akses ke fasilitas kesehatan di luar pesantren tetap penting.
Kita tidak boleh menutup mata terhadap kekurangan hanya karena terpikat dengan keindahan lingkungan. Keduanya perlu ditimbang secara adil.
Salah satu pesantren di kawasan perbukitan Bogor
Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining terletak di kawasan Bogor Barat, di atas perbukitan. Jalannya sudah bisa dilalui kendaraan roda empat. Ada klinik kesehatan di dalam lingkungan pesantren. Tapi seperti pesantren lain di lokasi serupa, ada hal-hal yang mungkin berbeda dari ekspektasi orang yang terbiasa tinggal di kota.
Yang paling bijak tetap datang dan melihat sendiri. Foto dan tulisan tidak bisa menggantikan pengalaman merasakan langsung suasana sebuah tempat.
Kalau ingin bertanya atau berkunjung, silakan hubungi lewat WhatsApp 0812111180.