Pesantren yang Berdiri untuk Semua Golongan — Apa Artinya?

Kita sering membayangkan pesantren sebagai tempat yang seragam. Satu mazhab. Satu cara berpikir. Satu latar belakang keluarga. Dan ketika membaca motto sebuah lembaga pendidikan yang berbunyi Berdiri Di Atas Dan Untuk Semua Golongan, reaksi pertama mungkin skeptis. Benarkah? Atau itu hanya kalimat indah yang dipajang di brosur?

Pertanyaan itu wajar. Bahkan sehat.

Karena di era di mana banyak institusi mengklaim inklusivitas tapi praktiknya masih memilah-milah, kita berhak bertanya lebih dalam. Apa artinya sebuah pesantren yang menyatakan diri terbuka untuk semua golongan? Apakah itu berarti menerima siapa saja tanpa filter? Atau ada sesuatu yang lebih substansial dari sekadar penerimaan?

Apa yang biasanya dibayangkan orang tentang pesantren?

Kebanyakan orang tua yang mencari pesantren untuk anaknya punya gambaran tertentu di kepala. Pesantren yang bagus itu yang santrinya homogen — satu pemahaman, satu arah, tidak ada gesekan. Logikanya sederhana. Kalau semua sama, anak tidak akan bingung. Tidak akan terpengaruh hal-hal yang berbeda dari ajaran keluarga.

Tapi coba kita pikirkan ulang.

Anak-anak kita kelak akan hidup di dunia yang tidak homogen. Mereka akan bekerja dengan orang dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua. Mereka akan bertetangga dengan keluarga yang cara ibadahnya sedikit berbeda. Mereka akan bertemu rekan yang latar belakang ekonominya jauh di atas atau di bawah mereka. Kalau selama bertahun-tahun di masa pembentukan karakter mereka hanya mengenal satu warna, bagaimana mereka akan merespons keragaman itu nanti?

Apa yang sebenarnya terjadi ketika santri dari puluhan latar belakang tinggal bersama?

Sebuah pesantren dengan manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah yang membuka pintu untuk semua golongan Muslim sedang melakukan sesuatu yang tidak mudah. Mereka tidak sekadar menerima pendaftaran dari mana saja. Mereka sedang menciptakan ekosistem mini dari Indonesia yang sesungguhnya. Santri dari Jakarta yang terbiasa dengan kehidupan kota tinggal satu asrama dengan santri dari pelosok yang baru pertama kali melihat eskalator. Anak pengusaha tidur di kamar yang sama dengan anak petani. Dan mereka semua bangun di waktu yang sama, sholat berjamaah di shaf yang sama, makan di meja yang sama.

Tidak ada kelas sosial di sana. Yang ada hanya kelas akhlak.

Bagaimana toleransi benar-benar tumbuh di lingkungan ini?

Banyak keluarga Muslim di Jabodetabek yang mengalami dilema ini. Di satu sisi, ingin anak mendapat pendidikan agama yang kuat. Di sisi lain, khawatir kalau pesantren yang dipilih terlalu eksklusif, anak justru tumbuh dengan pandangan sempit. Atau sebaliknya — terlalu longgar sampai nilai-nilai dasar tidak tertanam.

Kekhawatiran itu tidak berlebihan. Itu bentuk tanggung jawab.

Tapi yang sering luput dari perhitungan kita adalah ini — toleransi yang sesungguhnya tidak bisa diajarkan lewat teori. Tidak cukup dengan ceramah tentang pentingnya menghargai perbedaan. Toleransi hanya tumbuh ketika seseorang benar-benar hidup berdampingan dengan orang yang berbeda darinya. Setiap hari. Selama bertahun-tahun. Dalam sistem yang mengajarkan bahwa Ukhuwah Islamiyah bukan konsep abstrak, melainkan sesuatu yang harus dipraktikkan saat berbagi tempat wudhu, saat mengantri makanan, saat satu teman sakit dan yang lain bergantian menjaga.

Konflik pasti terjadi. Santri dari latar belakang berbeda akan berselisih. Akan ada momen di mana anak merasa tidak cocok dengan teman sekamarnya. Akan ada saat di mana perbedaan kebiasaan memicu gesekan kecil yang terasa besar bagi remaja.

Dan justru di situlah pendidikan yang paling berharga berlangsung.

Bukan di ruang kelas. Bukan di halaman buku. Tapi di momen ketika seorang santri harus belajar menahan ego, mendengarkan sudut pandang yang asing, dan menemukan titik temu tanpa meninggalkan prinsip. Itu keterampilan yang tidak bisa dibeli. Tidak bisa diunduh. Hanya bisa dialami.

Kenapa lingkungan yang steril justru berbahaya untuk masa depan anak?

Kita sebagai orang tua kadang lupa bahwa apa yang membuat anak kita kuat bukan ketiadaan tantangan. Justru sebaliknya. Anak yang tumbuh di lingkungan steril secara sosial akan rapuh begitu menghadapi dunia nyata. Sementara anak yang sejak usia belasan tahun sudah terbiasa hidup dengan keragaman — dan tetap menjaga identitasnya — akan punya fondasi yang jauh lebih kokoh.

Ini bukan soal memilih pesantren yang paling toleran atau paling ketat. Ini soal menemukan tempat yang mengajarkan anak untuk berdiri tegak tanpa menginjak orang lain.

Sebuah lembaga pendidikan di bukit Bogor Barat, Bogor, Jawa Barat, sudah menjalankan prinsip ini lebih dari tiga dekade. Bukan dengan jargon. Bukan dengan kampanye. Tapi dengan praktik harian yang konsisten — menyatukan santri dari puluhan latar belakang berbeda dan membiarkan mereka belajar dari satu sama lain. Darunnajah 2 Cipining menjadikan keragaman itu bukan sebagai masalah yang harus dikelola, melainkan sebagai kekayaan yang membentuk karakter.

Hasilnya bukan santri yang seragam pemikirannya. Hasilnya adalah santri yang tahu cara berdialog. Yang bisa duduk satu meja dengan siapa saja tanpa merasa lebih tinggi atau lebih rendah. Yang memahami bahwa menjadi Muslim yang baik tidak berarti menutup diri dari sesama Muslim yang berbeda tradisi.

Mungkin kita perlu jujur pada diri sendiri. Sebagian dari kita memilih lingkungan pendidikan anak berdasarkan kenyamanan kita, bukan berdasarkan apa yang benar-benar anak butuhkan untuk masa depannya. Dan mungkin, keputusan paling berani yang bisa diambil sebuah keluarga adalah melepaskan anak ke tempat di mana ia akan bertemu dengan ketidaknyamanan yang produktif.

Kalau rasa penasaran itu sudah sampai di titik ini, mungkin langkah selanjutnya bukan membaca lebih banyak. Mungkin langkah selanjutnya adalah menghubungi wa.me/62812111180 dan memulai percakapan yang lebih personal. Karena pada akhirnya, memilih tempat pendidikan anak adalah keputusan hati. Dan hati butuh data yang lengkap sebelum memutuskan.